Menjahit Retak di Lemba: Saat Musyawarah Menjadi Jalan Pulang

POLRI43 Dilihat

Keterangan Gambar: Bhabinkamtibmas Aiptu Budiaman bersama Lurah Lemba, Kasi Trantib, dan warga duduk berdampingan mengedepankan dialog dalam proses mediasi di Kantor Kelurahan Lemba, Soppeng. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA Nurani Redaksi di Atas Fakta

Oleh: Hasanuddin Tinco

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di balik hamparan ketenangan Bumi Latemmamala, persoalan hidup kerap hadir tanpa mengetuk pintu. Seutas kabel yang terputus di Kelurahan Lemba, Jumat siang itu (16/10/2026), tak sekadar menyisakan tuduhan pencurian, tetapi juga menguji kekerabatan dan kedewasaan nurani warga yang hidup bertetangga.

Hukum kerap diidentikkan dengan ruang sidang yang dingin dan palu hakim yang ketat. Namun, di balik seragam dan lencana kepolisian, ada panggilan moral yang lebih dalam: merawat persaudaraan agar tidak koyak oleh perselisihan mendadak.

Sekitar pukul 11.00 WITA, di balik dinding hangat Kantor Kelurahan Lemba, suasana tenang tercipta. Bhabinkamtibmas Aiptu Budiaman, bersama Lurah Lemba dan Kasi Trantib, duduk melingkar bersama pihak yang berselisih. Tidak ada bentakan, tak ada vonis menghakimi. Yang ada hanyalah ruang untuk saling mendengarkan—sebuah ikhtiar luhur memanusiakan manusia.

Perselisihan, sejatinya, adalah ujian kesabaran. Ketika penyidik membuka ruang mediasi, jalan musyawarah pun dirintis. Lewat dialog yang santun dan pendekatan yang penuh kehangatan, perlahan prasangka meleleh. Kedua belah pihak memilih lapang dada: pelapor membukakan pintu maaf, dan terlapor menyambutnya dengan penyesalan yang tulus. Di titik itulah, sebuah ikatan yang sempat renggang berhasil dijahit kembali.

Kehadiran sosok pengayom di tengah masyarakat—sebagaimana diperankan oleh Bhabinkamtibmas—bukan sekadar menjalankan kewajiban administratif, melainkan wujud nyata hadirnya rasa aman yang menentramkan jiwa.

Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa kebijaksanaan harus selalu menjadi pijakan utama dalam menyelesaikan setiap persoalan warga.

“Bhabinkamtibmas harus mampu menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan kepolisian. Setiap persoalan perlu disikapi secara profesional, dengan mengedepankan dialog dan musyawarah apabila memungkinkan, tanpa mengabaikan aspek hukum serta hak-hak pihak yang terlibat,” ungkap Kapolres penuh makna.

Ia juga menambahkan bahwa semangat “Polisi Bersama Masyarakat” bukan sekadar retorika manis, melainkan janji untuk senantiasa hadir, mendengar, serta menuntun warga menemukan jalan keluar yang menyejukkan.

Renungan Penutup:

Keadilan sejati tidak selalu lahir dari bilik hukuman yang mengurung, melainkan dari hati yang mau saling memaafkan. Seutas kabel yang terputus mungkin bisa diganti, namun rasa saling percaya dan keharmonisan hidup berdampingan adalah barang berharga yang tak bernilai harganya.

Ketika kebenaran disandingkan dengan kasih sayang, maka hukum tak lagi menjadi pedang yang memisahkan, melainkan penawar yang menyembuhkan. Sebab pada akhirnya, mengampuni adalah bentuk tertinggi dari keberanian manusia.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *