Ketika Maulid Menyatukan Hati, Silaturahmi Merawat Kedamaian di Goarie

SYI'AR ISLAM15 Dilihat

Keterangan Gambar:

Wakapolres Soppeng, AKBP Tamar, bersama unsur masyarakat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Goarie, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sabtu (10/10/2026). Suasana kebersamaan dalam kegiatan keagamaan tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan meneguhkan nilai persaudaraan di tengah masyarakat. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di bawah naungan pepohonan yang menjulang, cahaya lampu menerangi wajah-wajah yang berkumpul pada malam hari. Laki-laki dan perempuan duduk berdampingan dalam suasana khidmat. Di antara mereka, tersimpan satu ikhtiar yang melampaui sekadar pertemuan: merawat ingatan tentang keteladanan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kebaikan dalam kehidupan bersama.

Malam itu, masyarakat Desa Goarie, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (10/10/2026).

Di tengah kebersamaan tersebut, Wakapolres Soppeng, AKBP Tamar, hadir mewakili Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H.

Kehadirannya menjadi bagian dari jalinan silaturahmi antara kepolisian dan masyarakat. Sebuah perjumpaan yang memperlihatkan bahwa kehidupan bermasyarakat tidak hanya ditopang oleh aturan dan kewajiban, tetapi juga oleh kepercayaan, penghormatan, serta kesediaan untuk saling mendengarkan.

Sebab, di balik setiap pertemuan, selalu ada kesempatan untuk mendekatkan hati yang mungkin selama ini dipisahkan oleh kesibukan.

Meneladani Akhlak, Merawat Persaudaraan

Maulid Nabi Muhammad SAW bukan semata-mata peringatan atas kelahiran seorang rasul. Bagi umat Islam, momentum ini juga menjadi kesempatan untuk kembali merenungkan perjalanan hidup Rasulullah, terutama keteladanan akhlak yang menjadi tuntunan dalam memperlakukan sesama manusia.

Kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan kepedulian terhadap orang lain merupakan nilai-nilai yang tidak kehilangan makna oleh pergantian zaman.

Nilai-nilai itu justru semakin dibutuhkan ketika kehidupan sosial dihadapkan pada perbedaan pandangan, kepentingan, dan latar belakang.

Dalam semangat tersebut, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto menyampaikan pesan agar keteladanan Rasulullah SAW senantiasa menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kejujuran, amanah, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama perlu terus kita amalkan, termasuk dalam menjaga hubungan yang baik di tengah masyarakat,” ungkap Kapolres.

Pesan itu mengandung pengingat bahwa nilai-nilai agama menemukan makna yang sesungguhnya ketika tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjelma menjadi perilaku.

Kejujuran, misalnya, bukan hanya sesuatu yang dipuji, melainkan sesuatu yang harus dijaga ketika seseorang dihadapkan pada pilihan. Amanah bukan sekadar kata yang terdengar luhur, melainkan tanggung jawab yang harus ditunaikan, sekalipun tidak ada orang yang menyaksikan.

Demikian pula persaudaraan. Ia tidak cukup dirayakan dalam sebuah pertemuan, tetapi perlu dipelihara setelah orang-orang kembali ke rumah, menjalani pekerjaan, dan menghadapi persoalan hidup masing-masing.

Keamanan Tumbuh dari Kepercayaan

Dalam kehidupan masyarakat, keamanan dan ketertiban bukan semata-mata perkara kehadiran aparat atau penegakan aturan.

Keduanya juga tumbuh dari hubungan yang sehat antara masyarakat dan institusi yang bertugas melindunginya. Ada kepercayaan yang perlu dirawat, komunikasi yang harus dibuka, serta tanggung jawab bersama yang tidak dapat diserahkan kepada satu pihak saja.

Kapolres Soppeng menegaskan bahwa terpeliharanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat membutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat.

Karena itu, sinergi antara Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga perlu terus diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang damai dan kondusif.

Dalam konteks ini, kegiatan keagamaan dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun komunikasi dan mempererat hubungan sosial. Bukan karena sebuah pertemuan dengan sendirinya menyelesaikan seluruh persoalan, melainkan karena kedekatan antarmanusia membuka jalan bagi tumbuhnya pengertian.

Kehadiran Wakapolres Soppeng yang mewakili Kapolres dalam peringatan Maulid di Desa Goarie menjadi bagian dari upaya menjaga jalinan tersebut.

Di tengah masyarakat yang terus bergerak menghadapi perubahan, hubungan yang dibangun melalui penghormatan dan keterbukaan merupakan modal sosial yang berharga.

Namun, kepercayaan tidak lahir hanya dari kehadiran dalam sebuah acara. Ia tumbuh dari konsistensi sikap, keadilan dalam tindakan, serta kesediaan untuk melayani masyarakat dengan penuh tanggung jawab.

Di sanalah makna silaturahmi menemukan ukuran yang lebih dalam: bukan hanya seberapa dekat seseorang berdiri ketika sebuah acara berlangsung, melainkan seberapa nyata kebaikan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Perayaan Usai, Keteladanan Tetap Menyala

Malam akan berlalu. Lampu-lampu yang menerangi halaman akan dipadamkan. Para tamu akan pulang, dan masyarakat kembali menjalani rutinitasnya.

Namun, sebuah peringatan akan kehilangan makna apabila nilai-nilai yang dirayakan hanya tinggal sebagai kenangan.

Maulid Nabi Muhammad SAW mengajak setiap orang untuk kembali bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah kejujuran menjadi pegangan, sudahkah amanah dijaga, dan sudahkah kehadiran kita membawa manfaat bagi orang lain?

Pertanyaan itu berlaku bagi siapa pun, tanpa memandang jabatan, kedudukan, maupun latar belakang.

Bagi institusi kepolisian, keteladanan dapat diwujudkan melalui pelayanan yang adil, perlindungan yang bertanggung jawab, serta sikap menghormati martabat setiap warga. Bagi masyarakat, semangat persaudaraan dapat tumbuh melalui kepedulian, ketaatan terhadap aturan, dan kesediaan menjaga kedamaian bersama.

Sementara bagi setiap manusia, ada satu pelajaran yang senantiasa relevan: kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung besar. Terkadang, ia hadir dalam kejujuran yang sederhana, pertolongan yang tulus, atau kesediaan untuk tidak menyakiti sesama.

Dari Desa Goarie, pesan itu kembali menemukan ruangnya.

Bahwa agama semestinya mendekatkan manusia kepada kebaikan. Bahwa keamanan akan lebih bermakna ketika berjalan beriringan dengan kepercayaan. Dan bahwa persaudaraan tidak semestinya berhenti pada kesamaan, sebab penghormatan kepada sesama justru diuji ketika perbedaan hadir di antara kita.

Sebab, pada akhirnya, kemuliaan sebuah peringatan tidak diukur dari seberapa ramai manusia berkumpul, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang mereka bawa pulang.

Dan mungkin, itulah salah satu cara terbaik menghormati keteladanan Rasulullah SAW: bukan hanya dengan mengenang perjalanan hidup beliau, melainkan dengan menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan yang kita jalani hari ini.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed