Keterangan Gambar:
Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto bersama unsur pemerintah daerah dan tokoh agama menghadiri penutupan Semarak Hari Santri Tahun 2026 di Lapangan Lade Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Kamis (22/10/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
ESSAY PALAPA
Nurani Redaksi di Atas Fakta
Oleh: Petta Barang
SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada nilai-nilai kehidupan yang tidak selalu tumbuh dari panggung besar atau pidato panjang. Sebagian justru bersemi dalam kebersamaan yang sederhana: ketika orang-orang berkumpul, saling menyapa, berlomba dengan jujur, dan pulang membawa pelajaran tentang arti persaudaraan.
Semangat itulah yang mewarnai penutupan Semarak Hari Santri Tahun 2026 di Lapangan Lade Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Kamis, 22 Oktober 2026.
Pagi itu, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., hadir bersama unsur pemerintah daerah, Kementerian Agama, jajaran TNI-Polri, tokoh agama, dan para pimpinan pondok pesantren. Mereka berkumpul dalam upacara penutupan kegiatan yang diselenggarakan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Soppeng.
Namun, sebuah perayaan keagamaan sesungguhnya tidak hanya meninggalkan kenangan tentang upacara yang telah usai. Lebih dari itu, ia menyimpan pertanyaan yang patut direnungkan: nilai-nilai apa yang tetap hidup setelah keramaian berakhir?
Semarak Hari Santri berlangsung selama tiga hari, sejak 20 hingga 22 Oktober 2026. Berbagai pertandingan keagamaan dan olahraga antarsantri dari pondok pesantren se-Kabupaten Soppeng menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.
Di balik setiap perlombaan, ada kesempatan untuk belajar tentang disiplin, kejujuran, kesabaran, dan sportivitas. Kemenangan boleh menghadirkan kebahagiaan, tetapi kekalahan pun dapat menumbuhkan kebesaran hati. Sebab, pendidikan yang sesungguhnya tidak berhenti pada kemampuan meraih prestasi. Ia juga menyentuh cara seseorang memperlakukan sesama.
Di situlah nilai santri menemukan maknanya yang lebih luas.
Santri bukan semata-mata mereka yang menekuni kitab-kitab di lingkungan pesantren. Mereka adalah bagian dari generasi yang diharapkan mampu membawa ilmu ke tengah kehidupan, menerjemahkan ajaran menjadi perilaku, serta menjadikan akhlak sebagai penuntun ketika berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat.
Ilmu yang tinggi akan semakin bermakna apabila berjalan bersama kerendahan hati. Pengetahuan yang luas akan semakin bermanfaat apabila melahirkan kepedulian. Dan kesalehan akan menemukan keindahannya ketika tidak hanya dirasakan dalam hubungan dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam penghormatan terhadap martabat sesama manusia.
Agama semestinya mendekatkan manusia kepada kebaikan, bukan menjauhkan mereka satu sama lain.
Pesan semacam itu menjadi penting dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Perbedaan pandangan, latar belakang, dan pengalaman merupakan bagian dari kenyataan hidup. Kerukunan tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Kerukunan tumbuh ketika perbedaan disikapi dengan kedewasaan, sementara persaudaraan tetap dijaga dengan ketulusan.
Dalam konteks inilah kehadiran unsur pemerintah, aparat keamanan, dan lingkungan pesantren memiliki arti tersendiri. Mereka datang dari tanggung jawab yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam tujuan yang sama: menjaga kehidupan masyarakat agar tetap damai, tertib, dan saling menghormati.
Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, S.E., turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Soppeng H. Afdal, S.Ag., M.M., Ketua FKPP Kabupaten Soppeng Ustaz Najamuddin, S.Pd.I., M.Pd.I., perwakilan Dandim 1423/Soppeng, Camat Marioriawa A. Massalangka Raya, S.Si., Kapolsek Marioriawa AKP H. Musmulyadi, S.Pd.I., Kepala KUA Kecamatan Marioriawa Mukhlis, S.Ag., M.H., Kepala Desa Laringgi Eka Wahyuni, S.E., serta para pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten Soppeng.
Kebersamaan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan generasi muda bukanlah pekerjaan satu lembaga saja. Pendidikan membutuhkan dukungan keluarga, pesantren, pemerintah, tokoh agama, dan lingkungan sosial yang sehat. Sementara itu, keamanan dan ketertiban akan lebih mudah dirawat apabila masyarakat memiliki rasa saling percaya dan kesadaran untuk menjaga kepentingan bersama.
Dalam keterangannya, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto menempatkan santri sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter, menjunjung tinggi kebersamaan, dan menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.
Ia menegaskan bahwa Semarak Hari Santri tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga momentum untuk mempererat ukhuwah, menumbuhkan sportivitas, serta membentuk generasi muda yang berakhlak mulia.
Kapolres berharap para santri terus mengembangkan ilmu, memelihara persaudaraan, dan mengambil peran positif dalam menjaga persatuan serta kedamaian di tengah masyarakat. Ia juga menyampaikan dukungan Polres Soppeng terhadap kegiatan yang bermanfaat bagi pembinaan generasi muda dan memperkuat hubungan antara Polri, tokoh agama, lembaga pendidikan keagamaan, serta unsur masyarakat lainnya.
Harapan tersebut mengingatkan kita bahwa keamanan tidak semata-mata berbicara tentang ketiadaan gangguan. Keamanan juga berkaitan dengan tumbuhnya rasa tenteram, kepercayaan terhadap sesama, dan kesediaan untuk menyelesaikan perbedaan tanpa merusak ikatan kemanusiaan.
Aparat keamanan memiliki tanggung jawab menjaga ketertiban sesuai kewenangannya. Lembaga pendidikan membangun pengetahuan dan karakter. Tokoh agama menanamkan nilai-nilai moral. Masyarakat merawat kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Ketika semua unsur menjalankan perannya secara bertanggung jawab, ruang bagi tumbuhnya kedamaian menjadi lebih luas.
Sinergi, karena itu, tidak cukup hanya ditampilkan dalam sebuah upacara. Ia perlu dibuktikan melalui tindakan yang konsisten, pelayanan yang adil, keteladanan, dan kesediaan mendengarkan suara masyarakat.
Penutupan Semarak Hari Santri Tahun 2026 berlangsung dengan tertib. Polres Soppeng melalui jajaran terkait terus mendukung pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat agar kegiatan keagamaan maupun kemasyarakatan dapat terlaksana dengan baik.
Rangkaian kegiatan itu pun sampai pada akhirnya. Lapangan yang sebelumnya dipenuhi aktivitas akan kembali seperti sediakala. Para santri akan kembali ke lingkungan pendidikan masing-masing, melanjutkan pelajaran, menekuni ilmu, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang lebih luas.
Akan tetapi, nilai sebuah perayaan tidak semestinya ikut berakhir ketika tempatnya kembali lengang.
Hari Santri seharusnya menjadi pengingat bahwa ilmu membutuhkan akhlak, iman membutuhkan kepedulian, dan persaudaraan membutuhkan kesediaan untuk saling menghormati. Nilai-nilai itu tidak cukup dikenang setahun sekali. Ia perlu dihidupkan dalam tutur kata, keputusan, pelayanan, dan tindakan sehari-hari.
Sebab, masyarakat yang damai bukanlah masyarakat yang tidak pernah menghadapi perbedaan. Ia adalah masyarakat yang tidak membiarkan perbedaan menghancurkan persaudaraan.
Pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ilmu yang dikuasai atau tingginya kedudukan yang dicapai. Kemuliaan juga tumbuh dari kebaikan yang ditinggalkan, ketulusan yang dibagikan, dan kedamaian yang turut dijaga.
Ketika perlombaan telah usai dan barisan telah dibubarkan, semoga semangat Hari Santri tetap tinggal dalam hati: menuntun ilmu agar menjadi cahaya, menumbuhkan iman agar melahirkan kasih sayang, dan mengingatkan kita bahwa menjaga sesama adalah bagian dari memuliakan kehidupan.
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.











