Seteguk Air di Tengah Antrean, Wajah Humanis Polantas Soppeng

EDITORIAL10 Dilihat

Keterangan Gambar:

Polwan Satlantas Polres Soppeng membagikan air minum kepada pengendara yang sedang mengantre di SPBU Andi Made Ali Cikke, Soppeng, Senin (14/9/2026). Aksi sederhana tersebut menjadi bagian dari bakti sosial memperingati HUT Lalu Lintas ke-71. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP

Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA

Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, SOPPENG — Matahari boleh terik. Antrean kendaraan boleh memanjang. Tetapi pelayanan kepada manusia semestinya tidak pernah kehilangan kesejukannya.

Di antara deretan kendaraan yang menunggu giliran mengisi bahan bakar, Senin pagi itu, ada pemandangan yang sederhana. Sejumlah Polwan Satuan Lalu Lintas Polres Soppeng datang bukan untuk mengatur arus kendaraan, melainkan membawa air minum untuk dibagikan kepada para pengendara.

Lokasinya di SPBU Andi Made Ali Cikke, Kabupaten Soppeng. Sekitar pukul 09.00 Wita, satu per satu pengendara yang tengah menunggu antrean menerima air minum secara cuma-cuma.

Tidak ada yang mewah dari apa yang diberikan. Hanya sebotol air.

Namun, dalam cuaca yang menyengat dan waktu yang harus dihabiskan dalam antrean, sesuatu yang sederhana dapat memiliki arti yang lebih dalam. Air bukan sekadar pelepas dahaga. Ia menjadi tanda bahwa di tengah kesibukan pelayanan publik, masih ada ruang untuk melihat manusia sebagai manusia.

Bagi Redaksi Palapa, di sinilah makna pelayanan seharusnya dibaca lebih jauh.

Kepolisian memang memiliki tugas utama menjaga keamanan, ketertiban, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat. Namun, kualitas pelayanan tidak selalu diukur dari besarnya kegiatan atau panjangnya seremoni. Kadang-kadang, ia justru tampak dalam tindakan kecil yang lahir dari kepekaan.

Antrean BBM, misalnya, bukan sekadar barisan kendaraan. Di balik setirnya ada manusia yang mungkin sedang mengejar waktu, mencari nafkah, mengantar keluarga, atau sekadar ingin pulang dengan tenang.

Karena itu, ketika seorang petugas menyodorkan air minum kepada pengendara yang sedang menunggu, yang diberikan sesungguhnya bukan hanya air. Ada pesan sederhana di sana: masyarakat sedang dilihat, diperhatikan, dan dihargai.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian bakti sosial dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas ke-71 dengan tema “Polantas Presisi Mengabdi untuk Negeri.”

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H. menyampaikan bahwa kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian personel kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan dan perhatian di tengah situasi antrean BBM.

Menurut Kapolres, momentum HUT Lalu Lintas semestinya tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Peringatan itu harus menjadi pengingat bagi setiap personel untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat.

“Polantas harus hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan pengaturan di jalan, tetapi juga mampu melihat kebutuhan masyarakat dan mengambil langkah nyata sesuai dengan situasi di lapangan,” tegasnya.

Pernyataan itu penting. Sebab, presisi tidak semata-mata berbicara tentang ketepatan menjalankan tugas, tetapi juga tentang ketepatan membaca kebutuhan masyarakat.

Di lapangan, hukum memang harus ditegakkan dengan tegas. Aturan lalu lintas harus dihormati. Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas. Namun ketegasan tidak harus berjarak dengan kemanusiaan.

Justru di situlah wajah kepolisian diuji: mampu berdiri teguh pada hukum sekaligus tetap menyisakan ruang bagi empati.

Kasat Lantas Polres Soppeng Iptu Asdar, S.Sos. mengatakan, pembagian air minum tersebut ditujukan kepada pengendara yang sedang menunggu antrean pengisian BBM sebagai wujud kepedulian personel Satlantas.

Bagi Redaksi, tindakan semacam ini layak ditempatkan dalam proporsi yang wajar. Ia bukan alasan untuk menyanjung berlebihan, apalagi mengubah kegiatan pelayanan menjadi pencitraan. Sebaliknya, ia patut dibaca sebagai contoh bahwa pelayanan publik yang baik sering kali bermula dari kemampuan melihat kebutuhan paling sederhana di sekitar kita.

Sebab masyarakat tidak selalu membutuhkan kata-kata besar.

Kadang mereka hanya membutuhkan petugas yang hadir ketika panas terasa menyengat. Sebotol air ketika tenggorokan kering. Senyum ketika antrean terasa panjang. Dan sikap yang membuat mereka merasa bahwa negara tidak sedang berdiri jauh di balik meja dan seragam.

Di sanalah pengabdian menemukan bentuknya yang paling manusiawi.

Dan bukankah agama pun mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu harus hadir dalam perkara besar? Seteguk air bagi seseorang yang kehausan adalah kebaikan yang mungkin tampak kecil di mata manusia, tetapi tidak pernah kecil dalam pengetahuan Allah SWT.

Karena itu, semangat “Polantas Presisi Mengabdi untuk Negeri” semestinya tidak selesai ketika rangkaian HUT Lalu Lintas berakhir. Ia harus menjelma menjadi kebiasaan: hadir, mendengar, memahami, melayani, dan ketika diperlukan, memberi pertolongan dengan cara yang sederhana tetapi tepat.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya mengingat bagaimana polisi menegakkan aturan.

Masyarakat juga akan mengingat bagaimana mereka diperlakukan sebagai manusia.

Dan mungkin, dari sebotol air yang diberikan di tengah teriknya matahari, kita kembali diingatkan: pelayanan yang menyentuh hati tidak selalu membutuhkan banyak kata. Kadang, ia hanya membutuhkan kepedulian yang tulus.


PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *