Menyapu Aspal, Menyucikan Sajadah: Ikhtiar Menemukan Ruh Pelayanan Bhayangkara

EDITORIAL6 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kasat Lantas Polres Soppeng IPTU Asdar, S.Sos. beserta seluruh jajaran personel Sat Lantas Polres Soppeng membentangkan spanduk peringatan Dirgahayu Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 usai menggelar bakti sosial pembersihan Masjid Al-Aqso 2003 Polres Soppeng, Kamis (17/9/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP Berani Bersikap Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, SOPPENG – Di balik deru mesin dan kepulan asap kendaraan yang saban hari diurai oleh peluit para penjaga jalan raya, ada keheningan yang kerap kali luput dari pandangan. Kamis pagi (17/9/2026), sekitar pukul 08.00 WITA, keheningan itu hadir di Masjid Al-Aqso 2003 Polres Soppeng. Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 tahun 2026, Satuan Lalu Lintas Polres Soppeng di bawah komando Kasat Lantas IPTU Asdar, S.Sos., tidak merayakannya dengan kemegahan yang riuh. Mereka memilih merunduk, menyapu debu, dan membersihkan rumah tempat manusia bersujud kepada Sang Khalik.

Sebuah pertanyaan fundamental kerap hadir dalam ruang publik kita: di manakah letak sejati keberadaan seragam cokelat di tengah arus modernisasi dan kompleksitas lalu lintas saat ini?

Redaksi melihat, aksi bakti sosial pembersihan tempat ibadah ini bukan sekadar rutinitas agenda tahunan untuk memenuhi kolom dokumentasi. Lebih jauh dari itu, ini adalah sebuah simbol refleksi spiritual yang mendalam. Ketika tangan-tangan yang memegang kewenangan hukum di jalan raya bersedia menyentuh tanah, merapikan sudut-sudut masjid, dan memastikan kenyamanan jemaah, baik anggota maupun masyarakat umum, di sinilah letak bertemunya nilai ketertiban duniawi dengan kesucian ukhrawi.

Sebagaimana ditegaskan oleh Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., bahwa semangat pengabdian tidak boleh berhenti di garis marka jalan. Kehadiran Polri harus menjadi oase yang membawa kemanfaatan langsung bagi lingkungan sosial. Pandangan ini diamini oleh Kasat Lantas IPTU Asdar, S.Sos., yang meletakkan kegiatan ini sebagai wujud kerendahan hati untuk terus hadir dan berkontribusi nyata di tengah masyarakat.

Secara teoritis dan etik jurnalistik, fungsi pengawasan (watchdog) dan apresiasi media harus berjalan seimbang. Redaksi menekankan bahwa keteraturan lalu lintas tidak akan pernah tercipta hanya melalui tindakan represif atau lembaran surat tilang. Keteraturan sejati lahir dari empati, dari keteladanan yang menyentuh nurani. Ketika polisi lalu lintas merawat rumah ibadah, mereka sedang membangun jembatan emosional dan spiritual dengan warga yang mereka layani.

Menjelang usianya yang ke-71 tahun, Korps Lalu Lintas Bhayangkara dihadapkan pada tantangan kebangsaan yang kian dinamis. Namun, melangkah ke depan tanpa kehilangan akar nilai religius dan humanis adalah sebuah keharusan. Menyucikan tempat suci sebelum bertugas di jalanan adalah ikhtiar untuk menyucikan niat: bahwa setiap peluit yang ditiup dan setiap lalu lintas yang diatur adalah bagian dari ibadah kemanusiaan.

Kita berharap, sapu yang mengalir di halaman Masjid Al-Aqso 2003 pagi itu bukan hanya menyapu kotoran fisik, tetapi juga menyapu setiap jarak yang pernah membentang antara polisi dan rakyatnya. Sebab pada akhirnya, seragam dan jabatan akan ditanggalkan, namun jejak kebaikan yang ditanam dalam ketulusan akan terus hidup dan memancar di hati masyarakat Soppeng.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *