Ketika Uwi Ungu Mengajarkan Arti Merawat Ketahanan Pangan

EDITORIAL29 Dilihat

Keterangan Gambar:

Karo SDM Polda Sulsel Kombes Pol Adi Ferdian Saputra (kanan) saat berbincang dengan Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Mokhamad Ngajib (kiri) dalam sebuah kesempatan di Mapolrestabes Makassar. Kolaborasi antar-satuan fungsi sangat penting dalam mendukung keberhasilan program-program prioritas, termasuk program ketahanan pangan. (Foto: Dokumentasi Humas Polda Sulsel)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA
Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, Makassar — Ketahanan pangan tidak tumbuh hanya dari sebidang tanah yang ditanami. Ia membutuhkan kesabaran untuk merawat, ketekunan untuk menjaga, dan tanggung jawab untuk menunggu hasil dengan penuh ikhtiar.

Di lingkungan Polda Sulawesi Selatan, pelajaran itu kini tumbuh melalui tanaman uwi ungu.

Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Sulsel memanfaatkan sejumlah lahan untuk mendukung Program Ketahanan Pangan Polri melalui budidaya uwi ungu. Penanaman dilakukan di tiga lokasi, yakni lahan depan Rusunnawa Polda Sulsel, lahan Polrestabes Makassar, dan lahan Polres Pelabuhan Makassar.

Total lahan yang dimanfaatkan mencapai sekitar 500 meter persegi dengan penggunaan bibit sebanyak 25 kilogram.

Kini, tanaman tersebut telah berusia sekitar sembilan bulan dan memasuki tahap persiapan panen. Personel Biro SDM Polda Sulsel melakukan pembersihan gulma di sekitar tanaman sebagai bagian dari perawatan sekaligus persiapan menghadapi masa panen.

Bagi Redaksi Palapa, pekerjaan membersihkan gulma mungkin tampak sederhana. Tetapi justru dari pekerjaan yang sederhana itulah sebuah program dapat diuji: apakah ia hanya berhenti pada seremoni penanaman, atau benar-benar dirawat sampai menghasilkan manfaat.

Karo SDM Polda Sulsel Kombes Pol Adi Ferdian Saputra, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar kegiatan menanam. Tanaman harus dirawat, dipelihara, dan dikawal hingga menghasilkan.

Pandangan itu penting.

Sebab, menanam adalah permulaan. Merawat adalah tanggung jawab. Sedangkan hasil merupakan buah dari proses yang tidak selalu terlihat.

Di tengah tuntutan agar setiap sumber daya dimanfaatkan secara produktif, penggunaan lahan di lingkungan kepolisian untuk budidaya pangan patut dilihat sebagai langkah yang konstruktif. Bukan semata karena uwi ungu yang kelak diharapkan dapat dipanen, tetapi karena ada pesan yang lebih luas: lahan yang tersedia dapat diberi kehidupan dan manfaat.

Namun, Redaksi Palapa berpandangan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan tidak semestinya diukur hanya dari banyaknya tanaman yang tumbuh atau seberapa besar hasil panennya.

Yang lebih penting adalah keberlanjutan.

Program yang baik membutuhkan perencanaan, pemeliharaan, evaluasi, dan ukuran manfaat yang jelas. Dari sana, sebuah kegiatan dapat berkembang menjadi kebiasaan produktif, bukan sekadar program yang hidup selama ada perhatian.

Di titik inilah uwi ungu tersebut menjadi lebih dari sekadar tanaman.

Ia mengajarkan bahwa sesuatu yang ditanam hari ini belum tentu dapat dipetik manfaatnya hari ini. Ada waktu yang harus dihormati. Ada proses yang harus dijalani. Ada gulma yang harus dibersihkan agar tanaman dapat tumbuh sebagaimana mestinya.

Begitulah pula kehidupan.

Tidak semua ikhtiar segera memperlihatkan hasil. Tidak semua kebaikan langsung mendapatkan tepuk tangan. Tetapi sesuatu yang dirawat dengan sungguh-sungguh memiliki peluang lebih besar untuk memberi manfaat ketika waktunya tiba.

Redaksi juga mencatat optimisme Biro SDM Polda Sulsel bahwa tanaman uwi ungu yang telah berusia sekitar sembilan bulan dapat segera dipanen. Optimisme tersebut selayaknya berjalan bersama pemeliharaan yang konsisten dan evaluasi atas hasil nyata di lapangan.

Sebab, dalam kerja publik, niat baik perlu dibuktikan dengan proses yang baik dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya urusan produksi. Ia juga menyentuh kemandirian, kepedulian, dan cara manusia memperlakukan ruang yang dipercayakan kepadanya.

Sebidang lahan yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai ruang kosong, ternyata dapat menjadi ruang kehidupan ketika dikelola dengan kesungguhan.

Dan mungkin, di antara daun-daun uwi ungu yang tumbuh itu, ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada hasil panen: bahwa kebermanfaatan selalu dimulai dari kesediaan untuk merawat.

Karena bumi tidak pernah menolak kebaikan yang ditanam dengan ikhtiar. Manusia hanya perlu bersabar menunggu waktunya, sambil terus bekerja dan menjaga amanah.

Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan sekadar tentang apa yang tumbuh dari tanah. Ia juga tentang nilai yang tumbuh dalam diri manusia: disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian terhadap kehidupan.

Fakta diberitakan. Manusia dimuliakan. Nurani dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *