KETIKA KELUH KESAH MENJADI JEMBATAN KEDAMAIAN

POLRI38 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto menyampaikan pesan dan mendengarkan aspirasi masyarakat dalam kegiatan Jumat Curhat di Lalabata Rilau, Kabupaten Soppeng. Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab sebagai ruang komunikasi antara kepolisian dan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketenteraman lingkungan.
(Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Hasanuddin Tinco
Editor: Alimuddin

Jumat Curhat Kapolres Soppeng, Merawat Keamanan dari Ruang Percakapan

SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada pagi yang tidak ditandai oleh upacara, pengeras suara, atau barisan yang tegak. Hanya percakapan sederhana, secangkir minuman, dan sejumlah orang yang duduk dalam satu ruang.

Namun, dari ruang yang sederhana itu, sebuah pesan tentang keamanan menemukan jalannya.

Di sebuah tempat usaha di Lalabata Rilau, suasana Jumat Curhat berlangsung dalam nuansa yang akrab. Warga dan jajaran Kepolisian Resor Soppeng duduk berdekatan, membuka ruang untuk berbicara tentang berbagai hal yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Di tengah suasana tersebut, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto hadir bukan semata dalam kapasitasnya sebagai pimpinan kepolisian. Ia mengambil bagian dalam percakapan, mendengar, dan membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.

Sebab, keamanan tidak selalu bermula dari tindakan besar.

Kadang, ia tumbuh dari kesediaan untuk mendengar.

Keluhan yang disampaikan warga menjadi bagian penting dari pertemuan itu. Kekhawatiran, harapan, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan ketenteraman lingkungan dibicarakan dalam suasana terbuka. Percakapan berlangsung cair, tetapi pesan yang mengemuka cukup mendasar: menciptakan lingkungan yang aman membutuhkan komunikasi dan kepedulian bersama.

Dalam pertemuan seperti itu, polisi tidak hanya hadir ketika persoalan telah terjadi. Ruang dialog menjadi salah satu cara untuk mendekatkan institusi kepolisian dengan masyarakat yang dilayaninya.

Pesan tentang menjaga keamanan pun terasa lebih luas. Lingkungan yang tenteram bukan semata-mata hasil kerja aparat, melainkan juga lahir dari kepedulian warga terhadap lingkungan masing-masing.

Menjaga ketertiban, saling mengingatkan, dan tidak membiarkan persoalan kecil berkembang menjadi konflik merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan siapa saja.

Di sanalah nilai kemanusiaan bertemu dengan nilai keagamaan.

Dalam pandangan bahwa menjaga keselamatan dan ketenteraman sesama merupakan bagian dari kebaikan, ikhtiar menjaga keamanan dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Nilai tersebut menjadi lebih berarti ketika diwujudkan dalam tindakan nyata: saling menghormati, saling membantu, dan menjaga lingkungan agar tetap damai.

Pada kesempatan itu, layanan kepolisian 110 juga menjadi bagian dari sosialisasi kepada masyarakat. Kehadiran layanan tersebut mengingatkan bahwa masyarakat memiliki saluran untuk menyampaikan laporan maupun membutuhkan bantuan kepolisian.

Teknologi dan layanan kepolisian pada akhirnya hanyalah sarana. Yang membuatnya berarti adalah keberanian masyarakat untuk menyampaikan persoalan dan kesediaan aparat untuk meresponsnya.

Jumat Curhat kemudian tidak berhenti sebagai sebuah agenda pertemuan.

Ia meninggalkan satu pelajaran sederhana: rasa aman dapat tumbuh dari kepercayaan, dan kepercayaan membutuhkan komunikasi.

Di sebuah ruang yang mungkin tampak biasa, orang-orang duduk tanpa sekat yang terlalu jauh. Ada yang berbicara, ada yang mendengar. Ada persoalan yang disampaikan, ada harapan yang dititipkan.

Dari sana, keamanan tidak lagi dipahami hanya sebagai tugas kepolisian.

Ia menjadi ikhtiar bersama.

Dan seperti doa yang tidak selalu terdengar oleh banyak orang, kebaikan pun sering bermula dari sesuatu yang sederhana, sebuah percakapan, sebuah kepedulian, atau kesediaan untuk mendengar keluh kesah orang lain.

Barangkali, di situlah makna terdalam Jumat Curhat: ketika keluh kesah tidak dibiarkan menjadi beban sendiri, melainkan dijadikan jembatan menuju kepedulian, ketenteraman, dan kehidupan yang lebih rukun.

PALAPA MEDIA GROUP
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *