Dari Tanah Rantau, Santri Nur Hazanah Menjemput Cahaya Ilmu

PENDIDIKAN76 Dilihat

Keterangan Gambar:
Reporter Palapa Info, Hamsyar Hamid, bersama para santri Pondok Nur Hazanah. Anak-anak tersebut berasal dari sejumlah daerah di luar Sulawesi dan datang ke Kabupaten Soppeng untuk menuntut ilmu agama serta menghafal Al-Qur’an.


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Hamsyar Hamid

SUARA PALAPA, SOPPENG — Pagi belum sepenuhnya meninggalkan embun ketika halaman Masjid Raya Soppeng mulai dipenuhi aktivitas. Di antara riuh kehidupan kota yang perlahan bergerak, sekelompok anak duduk dalam kesederhanaan.

Mereka bukan anak-anak yang sedang sekadar menikmati pagi.

Mereka datang dari tempat yang jauh, membawa rindu kepada keluarga, sekaligus membawa sebuah tekad yang sederhana: belajar agama dan menghafal Al-Qur’an.

Di situlah perhatian seorang reporter Palapa Info, Hamsyar Hamid, tertambat.

Selasa, 15 September 2026, Hamsyar menjumpai sejumlah santri Pondok Nur Hazanah di pelataran Masjid Raya Soppeng. Anak-anak itu tampak menikmati suasana pagi, panorama sekitar, serta aktivitas yang berlangsung di Lapangan Gasis.

Namun, di balik wajah-wajah polos itu, tersimpan kisah perjalanan yang tidak pendek.

Sebagian dari mereka berasal dari luar Sulawesi. Ada yang datang dari Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Jarak geografis yang terbentang jauh dari kampung halaman tidak menghalangi langkah mereka menuju Kabupaten Soppeng.

Orang tua mereka pun harus rela melepas buah hati untuk sementara waktu.

Bukan karena mereka tidak menyayangi anak-anaknya.

Justru karena cinta itulah mereka mempercayakan pendidikan anak-anak tersebut kepada lingkungan pondok, agar ilmu agama dapat tumbuh bersama akhlak dan kedisiplinan.

Hamsyar mendekati mereka dengan suasana yang cair. Sebuah sentuhan kasih sayang kepada anak-anak itu seakan mempertemukan dua pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki rasa yang sama: kerinduan seorang anak kepada keluarga.

Sebagai seorang ayah yang juga memiliki anak yang sedang duduk di kelas VI sekolah dasar, Hamsyar memahami bahwa keputusan untuk berpisah dengan anak demi pendidikan bukan perkara ringan.

Ia sendiri pernah mengambil keputusan serupa.

Anaknya dipindahkan dari sekolah dasar untuk kemudian menempuh pendidikan mondok di salah satu pesantren Hidayatullah di Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng.

Karena itu, ketika melihat anak-anak Pondok Nur Hazanah saling memperhatikan dan menyayangi satu sama lain seperti saudara, ada rasa haru yang tumbuh perlahan.

Di tengah kehidupan pondok, mereka belajar bahwa keluarga tidak selalu berarti mereka yang memiliki hubungan darah.

Kadang-kadang, keluarga juga hadir melalui orang-orang yang memilih untuk menjaga.

Datang Jauh untuk Belajar

Percakapan sederhana pun berlangsung.

Hamsyar bertanya tentang asal mereka, keluarga yang ditinggalkan, serta alasan mereka datang jauh-jauh ke Soppeng untuk belajar agama dan menghafal Al-Qur’an.

Jawabannya pendek.

Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.

“Saya mau mempelajari dan memahami ilmu agama.”

Kalimat sederhana itu justru terasa dalam.

Sebab, di usia mereka, sebuah perjalanan meninggalkan kampung halaman demi ilmu tentu bukan sesuatu yang kecil.

Ada kerinduan yang harus ditahan.

Ada pelukan orang tua yang harus dikenang dari kejauhan.

Ada hari-hari ketika rumah hanya dapat hadir melalui ingatan dan doa.

Tetapi mereka tetap belajar.

Membaca ayat demi ayat.

Menghafal demi hafalan.

Menata masa depan melalui jalan ilmu.

Dalam sebuah kesempatan, Hamsyar memperlihatkan foto Ir. Ansar Razak melalui telepon selulernya. Anak-anak tersebut mengenal sosok dalam foto itu sebagai orang yang selama ini memelihara dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk tinggal serta belajar bersama di lingkungan pondok.

Sosok itu adalah Ir. Ansar Razak, yang dalam rilis ini disebut sebagai mantan anggota DPRD Soppeng dan seorang pengusaha.

Perhatian terhadap anak-anak tersebut, sebagaimana tergambar dalam kisah mereka, bukan hanya tentang menyediakan tempat tinggal.

Ada ruang bagi mereka untuk tumbuh.

Ada kesempatan untuk belajar.

Dan ada jalan untuk mengenal agama lebih dekat.

Ketika Kepedulian Menjadi Amal

Bagi sebagian orang, membantu mungkin hanya berarti memberikan sesuatu.

Namun bagi anak-anak yang jauh dari orang tua, kepedulian dapat memiliki arti yang lebih panjang: menghadirkan rasa aman ketika rumah berada ratusan kilometer jauhnya.

Di sinilah nilai kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Tidak selalu berbentuk pidato.

Tidak harus hadir dalam kemewahan.

Kadang ia cukup berupa sebuah tempat untuk tinggal, makanan yang tersedia, pendidikan yang diberikan, dan seseorang yang bersedia mengatakan kepada seorang anak: kamu tidak sendirian.

Ikhtiar semacam itu tentu memiliki dimensi sosial yang besar. Terlebih ketika pendidikan agama dan pembentukan karakter menjadi bagian dari perjalanan anak-anak tersebut.

Sebab generasi masa depan tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual.

Mereka juga membutuhkan akhlak, keteguhan nilai, kepedulian terhadap sesama, dan kemampuan membedakan yang benar dari yang keliru.

Dalam bahasa yang lebih luas, ilmu dan iman diharapkan berjalan beriringan.

Harapan itulah yang tergambar dari perjalanan para santri Pondok Nur Hazanah.

Mereka datang dari jauh bukan untuk mencari kemewahan.

Mereka datang untuk mencari ilmu.

Dan mungkin, kelak, ilmu yang mereka peroleh akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pengabdian.

Rindu yang Dititipkan kepada Doa

Pagi terus bergerak.

Aktivitas di sekitar Masjid Raya Soppeng berjalan sebagaimana biasanya. Tetapi bagi mereka yang sempat mendengar kisah anak-anak itu, pagi tersebut meninggalkan sesuatu yang berbeda.

Ada wajah-wajah kecil yang sedang belajar menjadi manusia.

Ada orang tua yang menitipkan harapan.

Ada pengasuh yang membuka ruang bagi mereka.

Dan ada perjalanan panjang yang belum selesai.

Kita tidak pernah tahu sejauh apa langkah seorang anak kelak.

Namun setiap perjalanan besar hampir selalu bermula dari sebuah keputusan kecil: berani meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang diyakini lebih baik.

Bagi para santri itu, jalan tersebut adalah ilmu agama dan hafalan Al-Qur’an.

Semoga langkah mereka dijaga dalam kebaikan. Semoga kerinduan kepada orang tua menjadi energi untuk terus belajar. Dan semoga setiap tangan yang membantu pendidikan mereka dicatat sebagai amal kebaikan yang terus mengalir.

Sebab ada kebaikan yang tidak selalu terlihat hasilnya hari ini.

Ia tumbuh diam-diam dalam jiwa seorang anak.

Lalu suatu hari, mungkin bertahun-tahun kemudian, ia menjelma menjadi akhlak, ilmu, dan pengabdian kepada sesama.

Di sanalah sebuah kepedulian menemukan maknanya yang paling panjang.

Fakta diberitakan. Manusia dimuliakan. Nurani dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *