Mural, Sungai Code, dan Makna Merdeka yang Tumbuh dari Gotong Royong

YOGYAKARTA6 Dilihat

Keterangan Gambar:

Peserta lomba mural menuangkan kreativitasnya dalam rangkaian Pesta Rakyat dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di kawasan Sungai Code, Yogyakarta. (Foto: Dok. Sorot.co)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Reporter: Ibnu Sultan
Editor: Alimuddin

SUARA PALAPA, YOGYAKARTA — Di sebuah dinding yang menghadap Sungai Code, sebatang kuas bergerak perlahan. Warna demi warna ditorehkan, seolah ingin menitipkan pesan bahwa kemerdekaan tidak selalu hadir dalam upacara dan pidato. Ia dapat tumbuh dari tangan-tangan yang bekerja, dari lingkungan yang dirawat, dan dari masyarakat yang memilih untuk peduli.

Pagi itu, Jumat (14/8/2026), semangat tersebut terasa di Taman Perwira, Kalurahan Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Dalam rangkaian Pesta Rakyat dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Lomba Mural dan Kerja Bakti Bersih Sungai Code. Dua kegiatan yang berbeda bentuk itu dipertemukan oleh satu semangat: merawat ruang hidup bersama melalui gotong royong dan kreativitas.

Tema Pesta Rakyat yang diusung adalah “Pesta Rakyat, Merdeka Bersama, Guyub dan Berbudaya”. Sementara kegiatan bersih Sungai Code membawa pesan sederhana namun dalam: “Resik Kaline, Sehat Kotane.”

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, kegiatan tersebut merupakan cara menghadirkan semangat kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang. Nilai kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap lingkungan, kebersamaan, serta keberanian masyarakat untuk menjaga ruang hidupnya.

“Kita bersama mengapresiasi kegiatan hari ini karena semangat kemerdekaan kita wujudkan melalui gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan kreativitas masyarakat,” ujarnya.

Pada kegiatan itu, jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta juga turun langsung bersama masyarakat. Pemerintah tidak sekadar mengajak warga untuk bekerja, tetapi ikut berada di tengah masyarakat dan mengambil bagian dalam kerja bersama.

Di sanalah gotong royong menemukan maknanya.

Tidak ada jarak antara pemerintah dan masyarakat ketika tangan-tangan bekerja untuk tujuan yang sama. Sungai dibersihkan, bantaran dirawat, sementara dinding-dinding di sekitar kawasan dipercantik melalui karya mural.

Bagi Hasto, Sungai Code bukan sekadar aliran air yang membelah kawasan perkotaan. Sungai merupakan bagian dari kehidupan Yogyakarta yang keberadaannya bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Karena itu, menjaga Sungai Code bukan semata-mata pekerjaan pemerintah. Ia adalah tanggung jawab bersama.

“Mari kita tidak membuang sampah ke sungai, menjaga kebersihan bantaran dan membangun kebiasaan untuk merawat lingkungan,” katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial dalam menyambut hari kemerdekaan.

Setelah sungai dibersihkan, masyarakat diharapkan tetap menjaga kebersihannya. Sebab, lingkungan yang bersih tidak lahir dari satu hari kerja bakti, melainkan dari kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus.

Di sisi lain, lomba mural menghadirkan warna yang berbeda. Para peserta menuangkan gagasan mereka melalui sapuan kuas di dinding-dinding kawasan Sungai Code.

Bagi Nabila Almira, salah seorang peserta mural asal Kalimantan, kesempatan mengikuti lomba tingkat kota menjadi pengalaman yang berharga.

Ia mengaku senang dan antusias dapat ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Sebelumnya, Nabila telah beberapa kali mengikuti perlombaan mural di lingkungan sekolah. Namun, kesempatan berkarya dalam ruang yang lebih luas memberinya pengalaman baru.

Baginya, mural bukan sekadar gambar yang menghiasi tembok.

Karya itu menjadi cara untuk mempercantik kawasan Sungai Code sekaligus mengabadikan sejarah dan suasana kegiatan bersih-bersih sungai dalam bahasa visual yang dapat dinikmati masyarakat.

Di tangan para peserta, dinding yang semula hanya menjadi bagian dari ruang kota berubah menjadi kanvas kehidupan. Ada warna, ada gagasan, ada pesan tentang lingkungan, dan ada semangat untuk menjadikan tempat tinggal lebih indah.

Begitulah kemerdekaan menemukan wajahnya yang lain.

Ia hadir bukan hanya dalam kibaran Merah Putih, tetapi juga pada tangan yang memungut sampah. Ia hadir pada kuas yang menyentuh dinding. Ia hadir pada pemerintah yang bekerja bersama rakyat dan pada warga yang menyadari bahwa kebersihan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kepada sesama.

Sebab, merawat bumi pada hakikatnya adalah merawat kehidupan.

Dan di tepian Sungai Code, dari gotong royong yang sederhana itu, sebuah pesan kemerdekaan kembali dituliskan: bahwa negeri ini tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di podium, tetapi juga oleh tangan-tangan kecil yang bekerja dengan ikhlas untuk kebaikan bersama.

Barangkali di situlah makna kemerdekaan yang paling dekat dengan manusia—ketika kebebasan tidak berhenti sebagai sejarah, tetapi menjelma menjadi kepedulian.

Catatan Redaksi: Naskah ini disadur dan diolah kembali dari pemberitaan Sorot.co, 14 Agustus 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *