Keterangan Gambar:
Haisah, mantan siswi SMP Negeri 1 Muara Badak yang meraih nilai tertinggi Bahasa Inggris pada Ujian Akhir sekitar tahun 1986, kini mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto diperoleh dari akun Facebook Haisah.
FEATURE MEMOAR
Oleh: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group
Empat Puluh Tahun Kemudian, Murid Itu Masih Mengajar
SUARAPALAPA.ID – Ada kenangan yang memudar dimakan waktu. Ada pula yang tetap hidup, meski empat puluh tahun telah berlalu. Ia tidak tersimpan dalam album foto atau lembar-lembar arsip sekolah, melainkan bersemayam di ruang paling sunyi dalam ingatan seorang guru.
Di antara ratusan murid yang pernah saya ajar ketika menjadi guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Muara Badak, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, sekitar tahun 1986, ada satu nama yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Namanya Haisah.
Ia bukan murid yang banyak berbicara di kelas. Tidak pula gemar menonjolkan diri. Namun di balik sikapnya yang tenang, tersimpan ketekunan yang jarang dimiliki anak seusianya. Ia belajar dengan sungguh-sungguh, mengerjakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, dan menjadikan pelajaran Bahasa Inggris sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.
Saat Ujian Akhir atau EBTANAS dilaksanakan, kami para guru hanya bisa menunggu hasilnya.
Pada masa itu, lembar jawaban siswa tidak diperiksa oleh guru mata pelajaran di sekolah asal. Pemeriksaannya dilakukan melalui sistem rayon yang dibentuk oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur. Guru-guru dari sekolah lain ditunjuk untuk memeriksa hasil ujian demi menjaga objektivitas penilaian.
Saya sendiri tidak termasuk dalam rayon pemeriksa tersebut.
Karena itulah, ketika hasil ujian diumumkan dan Haisah memperoleh nilai 10 pada mata pelajaran Bahasa Inggris, saya merasakan kebahagiaan yang sulit dilukiskan.
Nilai sempurna itu bukan pemberian gurunya.
Bukan pula karena kedekatan pribadi.
Ia lahir dari kemampuan yang diakui secara objektif oleh para pemeriksa yang bahkan tidak mengenal siapa pemilik lembar jawaban tersebut.
Saat itu saya hanya berdoa dalam hati, semoga ilmu yang dipelajarinya kelak menjadi jalan kebaikan dalam hidupnya.
Waktu terus berjalan.
Tahun berganti tahun.
Murid-murid meninggalkan sekolah, melanjutkan pendidikan, bekerja, membangun keluarga, dan menempuh jalan hidup masing-masing.
Sebagian masih sempat berkabar.
Sebagian lagi hilang ditelan kesibukan dan jarak.
Saya pun tidak pernah menyangka, puluhan tahun kemudian, Allah SWT mempertemukan kembali saya dengan salah seorang murid itu melalui cara yang begitu sederhana.
Ketika Facebook mulai menjadi ruang silaturahmi bagi banyak orang, saya menerima pesan melalui Messenger dari seseorang bernama Haisah.
Saya membalasnya seperti biasa.
Namun terus terang, saya belum mampu menghubungkan nama itu dengan wajah seorang murid yang pernah duduk di bangku kelas saya hampir empat puluh tahun sebelumnya.
Tidak lama berselang, telepon genggam saya berdering.
Saya mengangkatnya.
Dari seberang sana terdengar suara seorang perempuan.
“Pak… masih ingatkah suara saya?”
Saya berusaha mengingat.
Namun ingatan saya belum juga menemukan jawabannya.
Dengan jujur saya berkata,
“Maaf, Nak. Boleh Bapak tahu siapa namanya?”
Suara itu kemudian menjawab pelan.
“Saya Haisah, Pak.”
Seolah sebuah pintu tua dalam ingatan tiba-tiba terbuka.
Tanpa berpikir panjang saya spontan menjawab,
“Alhamdulillah… sekarang Bapak ingat. Haisah yang mendapat nilai 10 Bahasa Inggris waktu EBTANAS di SMP Negeri 1 Muara Badak dulu.”
Di seberang telepon terdengar jawaban yang membuat hati saya hangat.
“Betul, Pak.”
Kemudian ia melanjutkan kalimat yang hingga kini masih saya ingat.
“Sekarang saya mengajar Bahasa Inggris di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Berau, Pak.”
Sesaat saya terdiam.
Bukan karena kehilangan kata-kata.
Melainkan karena rasa syukur yang memenuhi hati.
Empat puluh tahun sebelumnya saya mengenalnya sebagai seorang siswi yang memperoleh nilai tertinggi Bahasa Inggris.
Kini ia berdiri di depan kelas sebagai guru Bahasa Inggris.
Sungguh, perjalanan ilmu memang memiliki cara yang indah untuk kembali kepada gurunya.
Beberapa waktu kemudian saya kembali melihat wajah Haisah melalui sebuah foto yang diunggah di akun Facebook miliknya.
Ia duduk di tengah ruang kelas, dikelilingi murid-murid yang tersenyum penuh kehangatan. Di hadapannya terdapat sebuah kue ulang tahun. Wajah-wajah muda yang berdiri di belakangnya memancarkan rasa hormat dan kasih sayang kepada guru mereka.
Saya memandangi foto itu cukup lama.
Yang saya lihat bukan sekadar seorang guru yang sedang merayakan pertambahan usia.
Saya melihat seorang murid yang dahulu pernah duduk di bangku kelas saya, kini sedang melanjutkan estafet ilmu kepada generasi berikutnya.
Barangkali, inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Guru menanam.
Murid bertumbuh.
Lalu, pada waktunya, murid itu kembali menanam ilmu kepada anak-anak yang lain.
Begitulah ilmu diwariskan.
Bukan hanya melalui buku.
Melainkan melalui keteladanan, kesabaran, dan keikhlasan.
Allah SWT berfirman:
“…Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11).
Jika perkiraan usia tidak meleset, Haisah kini telah memasuki usia sekitar 56 tahun. Itu berarti lebih dari tiga puluh tahun hidupnya diabdikan sebagai pendidik.
Entah sudah berapa ribu murid yang pernah belajar darinya.
Entah berapa banyak anak yang kini mampu mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris karena kesabarannya mengajar.
Dan entah berapa banyak doa yang diam-diam dipanjatkan murid-muridnya setiap kali mereka mengingat sosok guru yang pernah membimbing mereka.
Sebagai seorang guru, saya menyadari bahwa keberhasilan seorang murid bukanlah milik seorang guru semata. Ada doa orang tua yang mengiringinya, ada guru-guru lain yang ikut membentuknya, ada lingkungan yang menempa karakternya, dan di atas semuanya ada kehendak Allah SWT yang menentukan jalan hidup setiap hamba-Nya.
Namun, melihat seorang murid tumbuh menjadi guru adalah kebahagiaan yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata.
Ia adalah jawaban atas doa-doa yang pernah dipanjatkan diam-diam di ruang kelas.
Ia adalah bukti bahwa ilmu tidak pernah berhenti pada satu generasi.
Ia akan terus mengalir, berpindah dari satu hati ke hati yang lain.
Ketika percakapan telepon itu berakhir, yang tertinggal bukan hanya suara seorang mantan murid dari Berau.
Yang tertinggal adalah keyakinan bahwa ilmu selalu menemukan jalan pulang kepada gurunya.
Kadang melalui sebuah pertemuan.
Kadang melalui selembar foto.
Dan kadang hanya melalui sebuah suara yang bertanya dengan penuh hormat,
“Pak… masih ingatkah suara saya?”
Saat itulah saya memahami, bahwa sesungguhnya yang paling panjang umur bukanlah manusia.
Melainkan ilmu yang diajarkan dengan ikhlas, lalu hidup dalam diri orang-orang yang meneruskannya kepada generasi berikutnya.







