Keterangan Gambar:
IKHTIAR BERSAMA DEMI DAULAT PANGAN: Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Wajo Andi Pameneri, Plt Direktur Polbangtan Gowa Dr. drh. Sartika Juwita, Muspika Kecamatan Pammana, personel Polsek Pammana, jajaran penyuluh, serta anggota Kelompok Tani Mappasitujue II berjalan beriringan melintasi titian jembatan darurat di atas hamparan Lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Desa Pallawarukka, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Sabtu (18/7/2026). Momentum ini menandai dimulainya Gerakan Tanam Serempak sebagai wujud sinergi humanis dan spiritual antara pemerintah, aparat, dan kaum tani dalam mempercepat swasembada pangan nasional. (Foto: Dok. Humas Polres Wajo)
ESSAY SUARA PALAPA
Catatan Perjalanan Gerakan Tanam Serempak dan Ikhtiar Swasembada di Jantung Bumi Wajo
Oleh: Sabri
WAJO, SUARA PALAPA – Matahari Sabtu pagi belum lagi meninggi ketika aroma lumpur basah bercampur embun menyapa pori-pori tanah Desa Pallawarukka. Di hamparan lahan Kelompok Tani Mappasitujue II, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, genangan air memantulkan langit yang teduh, seolah menjadi saksi bisu atas sebuah ikhtiar suci yang sedang digelorakan.
Hari ini, tanah tidak sekadar dicangkul dan ditanami; ia sedang dimuliakan melalui seuntai doa dan kerja nyata bertajuk “Gerakan Tanam Serempak”. Sebuah simfoni kehidupan yang memadukan keringat manusia, kesuburan semesta, dan rida Sang Pencipta demi tegaknya daulat pangan bangsa.
Tepat pukul 08.30 Wita, langkah-langkah kaki menapaki titian bambu dan pematang yang basah. Ada keindahan yang humanis ketika para pejabat, aparat, ilmuwan, dan petani berjalan beriringan tanpa sekat status sosial. Kehadiran Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Andi Pameneri, bersama Plt Direktur Polbangtan Gowa, Dr. drh. Sartika Juwita, menegaskan bahwa ketahanan pangan bukanlah sekadar angka-angka di atas kertas statistik, melainkan tentang menyentuh denyut nadi kehidupan masyarakat agraris secara langsung.
Kegiatan agung ini menandai babak baru bagi Program Optimalisasi Lahan (Oplah) Tahun 2024-2025 dan Lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025. Di bawah payung Program Nasional Kementerian Pertanian, bumi Pammana kini berbenah. Lahan-lahan yang dahulu sempat tertidur atau hanya mampu melahirkan bulir padi sekali dalam setahun, kini dipacu untuk terbangun, meningkatkan indeks pertanamannya menjadi dua hingga tiga kali setahun. Ini adalah bentuk rasa syukur yang paling hakiki atas karunia kesuburan tanah nusantara, sebuah upaya menjemput takdir swasembada yang luhur.
Di tengah hamparan sawah, tampak pula sinergi tiga pilar yang kokoh. Camat Pammana Andi Yasman Ampa, Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, serta perwakilan Danramil 1406-06 Pammana, berdiri bahu-membahu bersama para penyuluh, Brigade Pangan, dan para petani. Kehadiran aparat keamanan di tengah kubangan lumpur ini memberikan rasa aman sekaligus ketenteraman jiwa bagi mereka yang sehari-hari menggantungkan hidup pada kemurahan alam.
“Kami dari Polsek Pammana siap mengawal dan mendukung seluruh program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, penyuluh pertanian, dan kelompok tani menjadi kunci agar program ini berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar AKP Ami Suandi dengan nada takzim.
Kalimat yang diucapkan Kapolsek Pammana tersebut bukan sekadar retorika formalitas, melainkan sebuah janji pengabdian yang religius untuk menjaga sumber kehidupan umat. Beliau juga menitipkan harapan mendalam agar tanah-tanah yang telah dioptimalkan ini tidak kembali menganggur. Ketika bulir padi tumbuh subur, kesejahteraan petani akan terangkat, dan kemandirian pangan bangsa bukan lagi sekadar impian di angan-angan, melainkan berkah yang nyata di atas meja makan setiap rakyat.
Menariknya, modernisasi pertanian yang disuntikkan dalam program ini tidak menghilangkan ruh tradisi kebersamaan, melainkan memperkayanya. Melalui keterlibatan aktif generasi muda dalam Brigade Pangan, regenerasi petani kini tumbuh dengan wajah yang lebih bermartabat. Pemuda tak lagi canggung menyentuh tanah, sebab mereka tahu, di dalam lumpur itulah tersimpan kehormatan sebuah bangsa yang mandiri.
Ketika waktu menunjuk pukul 10.00 Wita, kegiatan tersebut berakhir dengan kedamaian yang pekat. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh berkah. Orang-orang beranjak pulang dengan senyum yang mengembang, namun di atas hamparan air Desa Pallawarukka, benih-benih hijau kini telah tertancap rapi, bersiap menyerap berkah hujan dan hangat matahari.
Pada akhirnya, Essay Suara Palapa memandang peristiwa di Pammana ini sebagai sebuah refleksi spiritual yang mendalam. Menanam padi adalah cara manusia berkomunikasi dengan Sang Khalik, menitipkan benih, merawatnya dengan ikhtiar, lalu bertawakal menanti panen. Dari tanah Wajo, dari ketulusan hati para petaninya, sepotong masa depan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi sedang dirajut dengan penuh takzim.








