Keterangan Gambar:
MENYEMAI AKHLAK SEJAK DINI: Kapolsek Marioriawa AKP H. Musmulyadi, S.Pd.I. (dua dari kanan) didampingi Bhabinkamtibmas Aipda Nasrul (kanan) saat memberikan pembekalan edukasi kamtibmas dan nilai-nilai karakter dalam kegiatan MATAMUDA di MTs Yasrib Limpomajang, Soppeng, Selasa (14/7/2026). Sinergi kepolisian dan madrasah ini diharapkan mampu membentengi generasi muda dari pengaruh negatif lingkungan dan perkembangan teknologi. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
Oleh: Syamsuddin Andy
Editor: Alimuddin
SOPPENG, SUARA PALAPA — Hari masih pagi ketika tirai tahun ajaran baru tersingkap di ufuk timur Bumi Latemmamala. Di bawah naungan atap MTs Yasrib Limpomajang, Selasa, 14 Juli 2026, riuh rendah tawa khas anak-anak yang beranjak remaja memenuhi ruangan. Ada getar harapan, ada pula kecemasan halus di wajah-wajah suci yang bersiap melangkah ke gerbang ilmu.
Hari itu adalah hari taaruf, sebuah momentum sakral untuk saling mengenal, menautkan hati, dan menyelaraskan langkah dalam kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) Tahun Pelajaran 2026/2027. Di tengah kekhidmatan itu, hadir sosok pengayom masyarakat yang melangkah bukan dengan ketegasan yang kaku, melainkan dengan kehangatan seorang ayah yang ingin melindungi putra-putrinya dari badai zaman.
Kapolsek Marioriawa, AKP H. Musmulyadi, S.Pd.I., hadir di tengah-tengah mereka. Didampingi Bhabinkamtibmas Kelurahan Limpomajang, Aipda Nasrul, kehadiran aparat kepolisian hari itu laksana embun pagi yang menyejukkan. Mereka datang membawa misi mulia: menjaga fitrah suci 43 tunas bangsa yang baru saja menapaki jenjang pendidikan madrasah.
Menabur Benih Kebaikan di Jiwa yang Bersih
Di hadapan puluhan pasang mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu, AKP H. Musmulyadi memulai untaian nasihatnya. Suaranya mengalun tenang, menyentuh relung hati anak-anak yang masih bersih dari noda hitam dunia luar. Ia tidak sekadar menyampaikan aturan hukum yang tertulis di atas kertas, tetapi membisikkan nilai-nilai moral dan keimanan sebagai benteng utama kehidupan.
Satu per satu persoalan zaman dikupasnya secara humanis. Mulai dari pentingnya menjaga keselamatan diri di jalan raya dengan tertib berlalu lintas, hingga ancaman senyap yang kini mengintai jemari mereka di layar gawai: judi online dan penyalahgunaan media sosial.
“Anak-anakku sekalian, akal dan hati kalian adalah karunia terindah dari Allah SWT. Jangan biarkan ia dirusak oleh racun narkoba, minuman keras, atau hitamnya judi online. Jaga lisan dan jemari kalian dari perilaku merundung (bullying) sesama teman. Madrasah ini adalah tempat kalian menyemai kasih sayang, bukan permusuhan,” tutur AKP H. Musmulyadi dengan nada bapak keguruan yang menyentuh.
Pertemuan itu tidak berlangsung searah. Suasana dingin ruang kelas seketika mencair menjadi dialog interaktif yang hangat. Gelak tawa dan antusiasme membuncah ketika para murid berebut mengajukan pertanyaan, memupus sekat pembatas antara polisi dan masyarakat sejak usia dini.
Sinergi Menjaga Lentera Harapan
Komitmen untuk menjaga lentera-lentera kecil ini agar tetap menyala terang juga ditegaskan oleh Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K. Dalam kesempatan terpisah, ia menegaskan bahwa kepolisian memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di samping guru dan orang tua dalam mendidik generasi penerus.
“Melalui kegiatan MATAMUDA ini, kami menitipkan harapan besar. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual, memiliki karakter yang disiplin, berakhlak mulia (akhlakul karimah), dan tangguh menghadapi godaan zaman,” ujar AKBP Aditya Pradana.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara kepolisian, institusi pendidikan, dan peran aktif orang tua adalah pilar utama dalam mengawal tumbuh kembang anak-anak agar tidak tersesat di persimpangan jalan kehidupan.
Jejak yang Tertinggal di Sanubari
Ketika matahari mulai meninggi dan acara MATAMUDA hari itu berakhir, ada sesuatu yang tertinggal di dalam ruangan kelas MTs Yasrib Limpomajang. Bukan sekadar lembaran brosur kamtibmas atau memori tentang seragam cokelat kepolisian, melainkan rasa aman dan benih-benih kesadaran yang mulai berakar di sanubari 43 murid baru.
Mereka pulang membawa bekal berharga. Bahwa menjadi siswa madrasah bukan hanya tentang mengejar angka-angka di atas rapor, melainkan tentang bagaimana menjaga diri, menghormati sesama, dan melangkah dengan martabat di bawah ridha Sang Pencipta. Di tangan merekalah, masa depan negeri ini dititipkan.












