Keterangan Gambar:
Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K. memegang bola voli sesaat sebelum membuka Turnamen Bola Voli Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026 di Lapangan Voli Mapolres Wajo, Minggu (21/6/2026). Pembukaan turnamen menjadi simbol penguatan soliditas internal Polri, sinergi bersama TNI, serta semangat pengabdian yang terus diperbarui melalui kebersamaan dan sportivitas. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
Oleh Sabri
WAJO, SUARA PALAPA – Pagi di Wajo datang tanpa gegap gempita. Matahari menetes perlahan di sudut Lapangan Voli Mapolres Wajo. Udara masih menyimpan kesejukan malam. Sejumlah personel berdiri berkelompok. Ada yang berbincang pelan. Ada yang tersenyum. Ada pula yang menatap lapangan dengan wajah tenang, seakan sedang menunggu sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertandingan.
Di tengah suasana itu, sebuah bola voli berada dalam genggaman Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K. Benda bulat itu tampak sederhana. Namun pada pagi Minggu, 21 Juni 2026, ia menjelma simbol. Sebuah tanda bahwa peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya dirayakan dengan upacara dan seremoni, tetapi juga dengan merawat kebersamaan yang menjadi denyut utama sebuah pengabdian.
Sebab negara, sering kali, tidak hanya dijaga oleh aturan dan kewenangan. Ia juga dipelihara oleh perjumpaan. Oleh ruang-ruang yang membuat manusia kembali saling mengenal.
Turnamen bola voli yang dibuka Polres Wajo pagi itu memang lahir dalam semangat Hari Bhayangkara. Namun suasana yang mengalir di lapangan terasa lebih menyerupai sebuah perayaan persaudaraan.
Lagu Indonesia Raya berkumandang. Semua berdiri tegak. Lalu doa dipanjatkan. Di negeri yang religius seperti Indonesia, doa selalu memiliki tempat yang istimewa. Ia menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun jabatan dan sekuat apa pun institusi, manusia tetap makhluk yang menggantungkan harapan kepada Yang Maha Kuasa. Di hadapan Tuhan, pangkat menjadi sederhana. Yang tersisa hanyalah niat. Dan pengabdian.
Di barisan undangan hadir Wakapolres Wajo Kompol H. A. Syamsulipu, S.H., M.H., jajaran pejabat utama Polres Wajo, para Kapolsek, perwakilan Kodim 1406/Wajo, Bhayangkari, Persit, serta personel dari berbagai satuan.
Mereka datang bukan untuk menyaksikan siapa yang menang dan kalah. Mereka datang untuk merawat sesuatu yang lebih penting.
Kebersamaan.
Dalam kehidupan modern yang bergerak cepat, institusi sering kali sibuk dengan target, angka, laporan, dan capaian. Kadang-kadang, manusia yang berada di dalamnya lupa bahwa kekuatan organisasi sesungguhnya lahir dari hubungan antarmanusia.
Dari rasa saling percaya. Dari kesediaan untuk berdiri bersama ketika tugas menjadi berat. Karena itu, olahraga memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas fisik.
Ia mengajarkan kesetaraan.
Di lapangan, semua orang berdiri pada ukuran yang sama. Pangkat tidak ikut melompat ketika bola melambung. Jabatan tidak otomatis memenangkan pertandingan. Yang bekerja adalah kerja sama, disiplin, ketekunan, dan kepercayaan kepada rekan satu tim. Nilai-nilai yang sesungguhnya juga menjadi fondasi pelayanan publik.
Dalam sambutannya, Kapolres Wajo menegaskan bahwa turnamen tersebut merupakan sarana memperkuat soliditas internal sekaligus meningkatkan sinergi antara Polri dan TNI.
Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat pesan yang penting. Bahwa keamanan tidak pernah dibangun oleh satu institusi sendirian. Ia lahir dari kolaborasi.
Dari kemampuan untuk berjalan berdampingan. Dari kesediaan untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas ego kelompok.
Setelah seremoni usai, bola pertama akhirnya dipukul.
Tepuk tangan pecah. Sorak-sorai terdengar. Pertandingan ekshibisi antara Bhayangkari Polres Wajo dan Persit Kodim 1406/Wajo pun dimulai.
Di lapangan itu, tidak ada ketegangan yang berlebihan.
Yang tampak justru wajah-wajah ceria. Tawa yang sesekali pecah. Candaan yang mengalir ringan. Dan semangat sportivitas yang membuat pertandingan terasa hangat.
Mungkin inilah wajah pengabdian yang jarang terlihat publik. Bukan saat anggota kepolisian berada di garis depan menghadapi persoalan keamanan. Bukan pula ketika mereka menjalankan operasi dan penegakan hukum. Melainkan ketika mereka menjadi manusia biasa yang sedang merawat kebersamaan.
Karena pengabdian yang panjang membutuhkan energi yang panjang pula. Dan energi itu sering lahir dari hubungan-hubungan yang sehat. Dari persaudaraan yang terpelihara. Dari hati yang tetap gembira.
Hari Bhayangkara pada akhirnya bukan sekadar penanda bertambahnya usia institusi. Ia adalah momen untuk bertanya kembali: Sudah sejauh mana amanah dijaga? Sudah sekuat apa pengabdian dirawat? Sudah sedalam apa pelayanan diberikan kepada masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak dijawab di atas podium. Namun pagi itu, di lapangan voli sederhana di Mapolres Wajo, jawabannya tampak dalam bahasa yang paling mudah dipahami manusia. Kebersamaan.
Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan aparat yang kuat. Negeri ini juga membutuhkan aparat yang sehat jiwanya, lapang hatinya, dan kokoh persaudaraannya.
Dan pada pagi yang cerah itu, ketika sebuah bola dilambungkan ke udara, yang sesungguhnya sedang diperbarui bukanlah sebuah pertandingan. Melainkan semangat pengabdian itu sendiri.












