Esensi Bakti dan Integritas Profesi: Cermin Kehidupan sang Jurnalis Utama

EDITORIAL28 Dilihat

Ilustrasi

EDITORIAL SUARA PALAPA

Dunia kewartawanan sering kali diidentikkan dengan kekakuan tenggat waktu, ketajaman pena, dan ruang gerak yang menuntut profesionalisme tanpa batas. Jurnalis dituntut teguh berdiri di atas kepentingan publik, kerap mengorbankan ruang-ruang domestik demi menunaikan amanah profesi.

Namun, peristiwa duka yang menyelimuti Dr. H. Muh. Dahlan Abubakar, Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulawesi Selatan terpilih, pada Senin malam, 22 Juni 2026, menyuguhkan sebuah refleksi mendalam yang melampaui batas-batas kaku etika jurnalistik.

Peristiwa tersebut membawa kita pada satu perenungan fundamental: bahwa integritas tertinggi seorang manusia adalah ketika ia mampu menyelaraskan bakti vertikal kepada orang tua dengan tanggung jawab sosial kemasyarakatan.

Kabar berpulangnya ibunda tercinta, Hj. Hafsah H. Abidin, di Desa Kancana, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, bukan sekadar sebuah berita duka biasa. Di balik layar monitor yang memancarkan ruang rapat virtual, tersembunyi sebuah drama kemanusiaan yang sunyi namun bergemuruh.

Dr. Dahlan Abubakar, seorang wartawan utama dan tokoh pers yang baru saja mendapat mandat besar untuk memimpin formatur kepengurusan PWI Sulsel periode 2026–2031, membuktikan bahwa jubah kebesaran profesi tidak pernah melunturkan kodratnya sebagai seorang anak sulung.

“Dalam keheningan kamar di pelosok Bima, satu tangan jurnalis senior ini menggenggam erat jemari ibundanya yang kian mendingin, sementara pikirannya tetap memandu jalannya organisasi demi masa depan pers Sulawesi Selatan melalui layar Zoom.”

Fenomena ini memecah dikotomi yang selama ini sering membenturkan dunia kerja dan institusi keluarga. Tidak jarang kita menyaksikan figur publik yang limbung ketika dihadapkan pada dua pilihan ekstrem: meninggalkan tugas demi urusan personal, atau mengabaikan keluarga demi totalitas profesional. Dahlan memilih jalan ketiga, yakni jalan integrasi. Di sela-sela hembusan napas berat sang ibunda, ia memimpin rapat-rapat penting demi masa depan organisasi pers. Ini adalah potret nyata dari apa yang disebut dedikasi tanpa kehilangan empati, serta profesionalisme yang tetap berakar pada nilai-nilai humanisme spiritual.

Harmoni Kewajiban dan Keteladanan Publik

Bagi komunitas pers, keteladanan yang ditunjukkan oleh Dahlan Abubakar adalah manifesto hidup mengenai etos kerja wartawan utama. Seorang jurnalis sejati tidak bekerja di dalam ruang hampa. Kepekaan sosial yang diasah lewat tulisan-tulisan kritis di media seharusnya lahir dari kematangan emosional dan spiritual yang kokoh di dalam rumah tangga. Bagaimana mungkin seorang jurnalis dapat menyuarakan keadilan dan kemanusiaan bagi publik jika ia gagal menghadirkan keadilan dan kasih sayang di lingkaran terdekatnya?

Kematian sang ibunda yang berlangsung khusyuk, dikelilingi oleh suami, anak, dan cucu-cucunya, seolah menjadi buah manis dari proses didikan panjang seorang ibu yang berhasil mencetak insan-insan bermanfaat bagi sesama.

Di sisi lain, simpati dan untaian doa yang mengalir deras dari berbagai penjuru, termasuk dari pimpinan media dan kolega sejawat di Sulawesi Selatan, menunjukkan betapa besarnya respek publik terhadap integritas personal sang jurnalis.

Kini, ketika pena sang wartawan senior berhenti sejenak untuk mengantar jenazah sang ibunda ke peristirahatan terakhir di keheningan bumi Parado, kita semua dihadapkan pada sebuah cermin besar. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa di atas segala capaian karier, jabatan, dan kehormatan profesi yang kita kejar, ada sebuah ‘khidmat terakhir’ yang tak boleh luput: bakti tanpa batas kepada orang tua.

Selamat jalan Ibu Hj. Hafsah H. Abidin, petuah dan keikhlasanmu telah melahirkan seorang tokoh yang tidak hanya utama dalam profesinya, tetapi juga utama dalam baktinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *