Dari Langkah Pelan hingga Derap Lari: Mahasiswa FKM Unhas Hidupkan Semangat Sehat di Desa Congko

Olahraga14 Dilihat

Keterangan Gambar:

Foto atas: Mahasiswa PBL III FKM Universitas Hasanuddin berfoto bersama peserta usai kegiatan Senam Lansia di Aula Kantor Desa Congko, Kabupaten Soppeng, Minggu (28/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kebugaran jasmani kelompok lanjut usia melalui aktivitas fisik terukur.
Foto bawah: Mahasiswa PBL III FKM Unhas bersama pemuda Desa Congko usai pelaksanaan Lari Sehat, sebagai upaya membangun budaya hidup aktif dan meningkatkan kesadaran pentingnya olahraga di kalangan generasi muda. (Foto: Erlis 27)

Penulis: Erlis 27

SOPPENG, SULSEL, SUARA PALAPA — Pagi di Desa Congko, Minggu (28/6/2026), hadir dengan udara yang sejuk dan suasana yang menenangkan. Di Aula Kantor Desa Congko, langkah-langkah kecil mulai bergerak perlahan. Tangan-tangan renta terangkat mengikuti irama, senyum-senyum hangat saling menyapa, seolah mengabarkan satu hal sederhana namun bermakna: usia boleh menua, tetapi semangat untuk hidup sehat tak boleh padam.

Di ruang itulah, mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan program Senam Lansia sebagai bagian dari ikhtiar promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 09.30 WITA ini diikuti oleh 13 peserta lansia. Meski usia tak lagi muda, antusiasme mereka tampak begitu hidup. Satu per satu gerakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian, namun tetap disertai semangat yang menghangatkan suasana.

Senam dipandu oleh instruktur H. Ira, yang dengan sabar mengarahkan setiap rangkaian gerakan sesuai kemampuan fisik peserta. Kegiatan dimulai dengan pemanasan, dilanjutkan gerakan inti, lalu ditutup dengan pendinginan.

Bag H. Ira, aktivitas fisik bukan sekadar rutinitas tubuh, melainkan bagian dari menjaga amanah kehidupan. Tubuh yang sehat, kata dia, adalah modal penting agar seseorang tetap produktif dan menikmati hari-hari dengan lebih bermakna.

Melalui kegiatan ini, kami berharap para lansia di Desa Congko lebih termotivasi menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik yang sederhana namun memberi manfaat besar bagi tubuh,” ujarnya.

Suasana aula pun dipenuhi energi positif. Tawa kecil sesekali pecah ketika ada gerakan yang terasa menantang, namun justru itulah yang menambah kehangatan kebersamaan.

Bagi mahasiswa PBL III FKM Unhas, kegiatan ini bukan sekadar program kerja. Lebih dari itu, ini adalah bentuk pengabdian, bahwa kesehatan masyarakat dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ketika matahari mulai condong ke barat, semangat pengabdian belum usai.

Sore harinya, sekitar pukul 16.30 WITA, energi yang sama kembali terasa di sudut lain Desa Congko. Kali ini bukan langkah pelan para lansia, melainkan derap kaki anak-anak muda yang bersiap mengikuti Lari Sehat.

Sebanyak 22 peserta dari kalangan pemuda ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung hingga pukul 17.30 WITA. Jika pagi diisi gerak lembut dan terukur, maka sore menghadirkan ritme yang lebih dinamis, cepat, bertenaga, dan penuh semangat.

Lintasan sederhana di sekitar desa menjadi saksi kebersamaan mereka. Di antara pepohonan, jalan desa, dan udara sore yang segar, para peserta berlari bersama sambil menikmati suasana alam yang menenangkan.

Kegiatan ini dipandu oleh pemuda setempat, Martin, yang menilai olahraga bersama sebagai cara sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan sekaligus mempererat hubungan sosial.

“Melalui kegiatan lari sehat ini, kami berharap anak muda Desa Congko semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan dengan rutin melakukan aktivitas fisik,” kata Martin.

Bagi mahasiswa PBL III FKM Unhas, kesehatan bukan hanya soal fasilitas medis atau layanan pengobatan. Kesehatan juga tumbuh dari kesadaran, kebiasaan, dan kemauan untuk bergerak.

Senam pagi bersama lansia dan lari sehat sore bersama pemuda menghadirkan pesan yang sama: menjaga kesehatan adalah tanggung jawab semua usia.

Ada nilai yang lebih dalam dari sekadar olahraga dalam dua kegiatan ini. Ia berbicara tentang kepedulian, tentang pengabdian, dan tentang ikhtiar menjaga anugerah terbesar dari Sang Pencipta, yakni kesehatan.

Sebab pada akhirnya, tubuh yang sehat bukan hanya menghadirkan kekuatan untuk bekerja, tetapi juga kemampuan untuk beribadah, melayani sesama, dan menjalani hidup dengan penuh syukur.

Melalui langkah pelan para lansia dan derap cepat para pemuda, Desa Congko pada hari itu mengajarkan satu hikmah sederhana: hidup sehat dimulai dari kemauan untuk bergerak, sekecil apa pun langkahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *