Oleh: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kab Soppeng
Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan 2026 mulai memperlihatkan arah pertarungan yang bukan sekadar perebutan jabatan organisasi, melainkan pertarungan gagasan tentang masa depan pers dan marwah profesi kewartawanan di daerah ini. Di tengah dinamika yang terus menghangat, muncul satu pasangan yang dinilai membawa simbol kuat perubahan: Ir. Suwardi Thahir bersama wartawan senior Dr. H.M. Dahlan Abubakar, M.Hum.
Kehadiran Dahlan Abubakar sebagai calon Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel mendampingi Suwardi Thahir sebagai calon Ketua PWI Sulsel bukan hanya menghadirkan kekuatan pengalaman, tetapi juga pesan moral yang kuat tentang pentingnya organisasi profesi dipimpin oleh figur-figur yang memiliki rekam jejak, integritas, dan kapasitas jurnalistik yang teruji.
Jumat sore, 15 Mei 2026, suasana di sekretariat pendaftaran Konferensi PWI Sulsel berlangsung tanpa gegap gempita ketika Dahlan Abubakar datang menyerahkan berkas pencalonannya. Tidak ada iring-iringan massa, tidak ada seremoni berlebihan, apalagi pertunjukan politik yang lazim menghiasi kontestasi organisasi. Tokoh pers yang dikenal luas sebagai salah satu “begawan jurnalistik” Sulawesi Selatan itu datang sederhana, hanya didampingi seorang kolega dekat.
Berkas pencalonannya diterima langsung Ketua Tim Penjaringan Konferensi PWI Sulsel, Ismail Sellery Tunggara, S.Sos., M.Si., disaksikan Wakil Ketua Steering Committee Muhammad Arfah, S.H., M.H., bersama sejumlah panitia lainnya.
Namun, justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan pesan yang kuat.
Dahlan tampak ingin menunjukkan bahwa PWI bukan panggung perebutan kekuasaan, melainkan ruang pengabdian profesi. Organisasi wartawan, dalam pandangannya, semestinya dijaga dari hiruk-pikuk kepentingan sempit dan praktik-praktik kedekatan yang mengabaikan kompetensi.
Sikap itu pula yang tercermin ketika ia memilih tidak banyak berbicara mengenai strategi politik pencalonannya bersama Suwardi Thahir. Baginya, substansi jauh lebih penting daripada pencitraan.
“Niat saya hanya satu, hadir untuk membantu Ketua PWI Sulsel terpilih dalam mengembalikan marwah organisasi. Saya melihat kondisi PWI Sulsel saat ini sudah berada di titik nadir yang mengkhawatirkan,” ujar Dahlan dengan nada tenang namun serius.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa kontestasi kali ini tidak semata berbicara soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ada kegelisahan besar tentang arah organisasi profesi wartawan yang selama ini dianggap mulai kehilangan pijakan moral dan daya pengaruhnya di tengah perubahan lanskap media yang begitu cepat.
Meski hampir dua dekade tidak lagi berada dalam struktur harian PWI Sulsel, Dahlan mengaku tetap mengikuti perkembangan organisasi yang pernah ikut ia bangun sejak akhir 1980-an. Ia melihat banyak peluang yang seharusnya dapat dimanfaatkan PWI untuk memperkuat posisi pers di tengah arus disrupsi digital dan ledakan media sosial justru terabaikan.
Padahal, menurutnya, di tengah derasnya banjir informasi dan maraknya disinformasi, PWI seharusnya tampil sebagai benteng etik sekaligus pusat pendidikan jurnalistik yang mampu menjaga kualitas informasi publik.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang lahir dari kompetensi dan pengalaman nyata di dunia jurnalistik, bukan semata karena relasi kedekatan ataupun praktik nepotisme yang dipaksakan.
Pandangan tersebut menjadi relevan di tengah kritik internal yang selama beberapa tahun terakhir mulai mengemuka terkait arah organisasi profesi wartawan di berbagai daerah. Banyak kalangan menilai, organisasi pers tidak lagi cukup hanya mengandalkan simbol sejarah, tetapi membutuhkan figur-figur yang memiliki legitimasi moral sekaligus kemampuan membangun kembali kepercayaan publik.
Dalam konteks itulah, duet Suwardi Thahir dan Dahlan Abubakar mulai dibaca sebagai representasi perpaduan antara energi perubahan dan pengalaman panjang dunia pers.
Dahlan sendiri bukan nama baru dalam perjalanan jurnalistik Sulawesi Selatan. Kariernya terbentang panjang, mulai dari wartawan Harian Pedoman Rakyat sejak 1976 hingga dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi media legendaris tersebut pada 2003–2005. Ia juga pernah menjabat Sekretaris PWI Sulsel periode 1988–1993, aktif di dunia olahraga melalui KONI Sulsel dan SIWO, serta lama berkecimpung di dunia akademik sebagai dosen Universitas Hasanuddin, Universitas Muslim Indonesia, hingga Universitas Cokroaminoto Makassar.
Tak hanya dikenal sebagai wartawan, Dahlan juga merupakan penulis produktif dengan lebih dari 50 judul buku yang telah diterbitkan. Kiprahnya di bidang komunikasi, pendidikan, dan jurnalistik menjadikan namanya memiliki posisi tersendiri dalam sejarah pers Sulawesi Selatan.
Kini, di usianya yang tidak lagi muda, Dahlan memilih kembali turun gunung. Bukan untuk mencari jabatan, melainkan untuk ikut memastikan bahwa organisasi wartawan tetap berada di jalur profesionalisme dan independensi.
“Saya rasa, bagi organisasi ini, kalau bukan kita yang bergerak sekarang, kapan lagi ada kesempatan untuk berbenah?” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di tengah situasi organisasi profesi yang terus diuji oleh perubahan zaman, pernyataan tersebut menjadi semacam pengingat bahwa pers tidak hanya membutuhkan wartawan yang mampu menulis berita, tetapi juga figur-figur yang bersedia menjaga kehormatan profesi.











