Dari Bollangi, Persaudaraan Itu Menemukan Rumahnya Kembali

Uncategorized142 Dilihat

Laporan Khusus Reuni Smabo 83 di Lereng Bawakaraeng

Oleh: Alimuddin

BOLLANGI — Kabut tipis turun perlahan di lereng pegunungan Bollangi, Malino. Udara dingin mengalir pelan menyentuh wajah-wajah yang telah lama dipisahkan waktu. Di tempat itu, jauh dari hiruk-pikuk kota, puluhan alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983, yang akrab disebut Smabo 83, kembali dipertemukan oleh sesuatu yang tak pernah benar-benar mati: rindu.

Reuni itu bukan sekadar pertemuan biasa.

Ia menjelma seperti perjalanan pulang menuju halaman kenangan yang lama ditinggalkan. Ada tawa yang pecah di sela percakapan sederhana. Ada mata yang berkaca-kaca ketika nama teman lama disebut. Ada pelukan yang terasa lebih hangat daripada kata-kata.

Di Bollangi, usia seolah berhenti berjalan.

Mereka kembali menjadi remaja-remaja yang dahulu duduk di bangku kelas, berbagi mimpi, saling mengejek, bercanda di lorong sekolah, dan menapaki masa depan dengan langkah yang belum sepenuhnya pasti.

Kini, lebih dari empat dekade berlalu.

Sebagian telah menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, guru, tokoh masyarakat, maupun orang tua yang telah menimang cucu. Sebagian lagi telah lebih dahulu pulang menghadap Sang Pemilik Kehidupan.

Namun di Bollangi, semua status sosial itu luruh.

Yang tersisa hanyalah persaudaraan.

Perjalanan Menuju Kenangan

Sejak pagi, rombongan alumni berdatangan dari berbagai daerah. Ada yang menempuh perjalanan panjang dari Jakarta, Balikpapan, Makassar, hingga berbagai kota lain di Sulawesi Selatan.

Perjalanan menuju Bollangi bukan sekadar perjalanan geografis. Ia seperti perjalanan batin menuju masa lalu.

Di sepanjang jalan berliku menuju lereng Bawakaraeng, percakapan tentang masa sekolah terus mengalir. Nama-nama guru disebut kembali. Kisah-kisah kecil yang nyaris terlupakan mendadak hidup kembali.

Di atas sebuah mobil Rush yang membawa rombongan dari Watampone menuju Bollangi, suasana bahkan beberapa kali pecah oleh gelak tawa. Salah satu cerita yang paling ramai diperbincangkan adalah kisah cinta masa SMA yang ternyata masih tersimpan rapi dalam ingatan para alumni.

Kisah itu tentang cinta segitiga pada seorang remaja belia yang ketika itu duduk di kelas setahun di bawah mereka.

Namun lucunya, salah satu “pemeran utama” dalam kisah lama itu berkali-kali berpesan kepada wartawan agar jangan sampai menuliskan nama mereka dalam berita.

“Jangan ditulis namanya!” serunya disambut ledakan tawa seluruh penumpang.

Suasana mobil pun berubah riuh. Tawa meledak berkali-kali sepanjang perjalanan.

Sebagian menepuk kursi, sebagian lagi menutupi wajah karena malu-malu mengingat kisah cinta remaja yang ternyata masih begitu segar dikenang.

Di usia yang tak lagi muda, kenangan tentang cinta masa sekolah rupanya tetap mampu menghidupkan kembali rasa muda yang lama tersimpan.

“Masih ingat waktu kita dihukum berdiri di depan kelas?”

Kalimat sederhana seperti itu mampu memecah tawa panjang.

Kadang tawa itu berubah menjadi hening.

Sebab ada nama-nama yang kini hanya tinggal kenangan.

Ada sahabat yang dahulu selalu hadir di bangku paling belakang, tetapi kini telah tiada. Ada teman yang dulu paling ramai bercanda, namun kini hanya bisa dikenang melalui doa.

Di tengah perjalanan itu, kenangan pulang satu per satu.

Ketika Rindu Bersujud di Puncak Bollangi

Reuni Smabo 83 tidak hanya dipenuhi canda dan nostalgia. Di balik semua tawa itu, tersimpan suasana religius yang terasa begitu kuat.

Saat waktu salat tiba, para alumni berkumpul menunaikan ibadah bersama. Di tengah hawa dingin pegunungan, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk.

Sebagian menundukkan kepala lebih lama.

Mungkin sedang berbicara diam-diam dengan Tuhan.

Mungkin sedang mengingat perjalanan hidup yang telah begitu jauh dilalui.

Atau mungkin sedang mendoakan sahabat-sahabat yang tak lagi sempat hadir.

Di Bollangi, rindu itu seperti bersujud.

Ia tidak lagi sekadar menjadi nostalgia, tetapi berubah menjadi rasa syukur karena masih diberi kesempatan bertemu.

Ada kesadaran yang tumbuh pelan di antara mereka: hidup bergerak cepat, usia terus berjalan, dan kesempatan berkumpul seperti ini belum tentu datang dua kali.

Karena itulah, setiap detik dalam reuni itu terasa begitu berharga.

Menjemput Wajah yang Lama Hilang

Salah satu momen paling mengharukan dalam reuni itu adalah ketika para alumni menanti kehadiran sahabat lama yang sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu.

Nama Andi Yusnani menjadi salah satu nama yang paling sering disebut.

Bagi sebagian alumni, ia bukan hanya teman sekolah, tetapi bagian penting dari mozaik masa muda mereka.

Ada rasa haru ketika wajah-wajah lama akhirnya kembali dipertemukan.

Sebagian saling menatap beberapa detik sebelum memastikan.

“Betulkah ini kamu?”

Lalu pelukan pun pecah.

Waktu yang puluhan tahun terasa runtuh dalam hitungan detik.

Tak ada kecanggungan.

Yang ada hanya rasa kehilangan yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Dari Puisi hingga Air Mata

Reuni Smabo 83 juga dipenuhi pembacaan puisi dan ungkapan hati.

Dari Balikpapan, dari Makassar, dari berbagai kota, para alumni membawa cerita masing-masing.

Ada yang datang membawa tawa.

Ada yang datang membawa kerinduan panjang.

Ada pula yang datang sambil menyimpan duka karena kehilangan sahabat, pasangan hidup, atau orang-orang tercinta dalam perjalanan waktu.

Salah satu puisi yang dibacakan dalam suasana reuni membuat banyak mata berkaca-kaca.

Puisi itu berbicara tentang waktu yang terus berjalan, tentang usia yang perlahan menua, dan tentang persahabatan yang tetap tinggal sekalipun rambut mulai memutih.

Di Bollangi, puisi tidak hanya dibacakan.

Ia hidup di wajah-wajah mereka.

Doa untuk Mereka yang Lebih Dulu Pulang

Menjelang malam, suasana reuni berubah menjadi lebih khidmat.

Para alumni berdiri bersama, menundukkan kepala, lalu mengirimkan doa untuk sahabat-sahabat mereka yang telah wafat.

Nama demi nama disebut perlahan.

Sebagian peserta tampak menyeka air mata.

Sebab setiap nama bukan sekadar daftar kenangan.

Ia adalah bagian dari perjalanan hidup.

Ada yang dahulu duduk sebangku.

Ada yang pernah berbagi bekal.

Ada yang pernah berjalan bersama menuju sekolah.

Kini mereka telah lebih dahulu pulang.

Doa-doa malam itu melayang di udara dingin Bollangi, menyatu bersama kabut pegunungan.

Dan di sanalah reuni itu menemukan makna terdalamnya.

Bahwa persahabatan sejati tidak berhenti sekalipun maut memisahkan.

Ketika Sebagian Harus Pulang Lebih Dini

Tidak semua alumni bisa tinggal hingga akhir acara.

Sebagian harus kembali lebih cepat karena urusan pekerjaan, kesehatan, maupun tanggung jawab keluarga.

Namun bahkan ketika kendaraan mulai meninggalkan Bollangi, kehangatan itu tetap tinggal.

Ada lambaian tangan yang panjang.

Ada pelukan perpisahan yang terasa berat.

Ada kalimat sederhana yang terus berulang:

“Jangan hilang lagi.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Tetapi di usia yang tidak lagi muda, ia mengandung makna yang dalam.

Sebab mereka memahami satu hal: waktu tidak pernah benar-benar bisa ditahan.

Karena itu, setiap pertemuan menjadi begitu mahal.

Sebelum acara memasuki penghujung malam, Ketua Smabo 83, H. Asnawi, S.H., M.H., menyampaikan rasa haru dan kebanggaannya di hadapan seluruh alumni.

Dengan suara yang beberapa kali tertahan emosi, ia mengungkapkan bahwa reuni di Bollangi kali ini terasa sangat istimewa.

“Baru kali ini reuni kita dihadiri empat profesor dari Smabo 83 yang kini menjadi bagian dari civitas akademika Universitas Hasanuddin Makassar,” ujarnya disambut tepuk tangan panjang.

Ia kemudian menyebut satu per satu nama para akademisi yang hadir: Prof. Indah Raya bersama suaminya Prof. B. Takko, lalu Prof. Altin Massinai dan Prof. Sudirman Baco.

Bagi Asnawi, kehadiran para profesor itu bukan sekadar kebanggaan alumni.

Lebih dari itu, ia berharap kisah perjalanan mereka menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya anak-anak yang kini sedang belajar di almamater mereka, SMA Negeri 1 Bone.

“Ini menjadi spirit buat anak-anak kita yang sedang belajar di almamater kita,” katanya.

Malam itu, di tengah udara dingin Bollangi, kata-kata itu terasa seperti doa sekaligus harapan.

Bahwa persaudaraan tidak hanya melahirkan kenangan, tetapi juga melahirkan teladan.

Persaudaraan yang Tak Pernah Usai

Reuni Smabo 83 di Bollangi akhirnya bukan hanya tentang nostalgia.

Ia menjadi ruang untuk merawat silaturahmi yang lama terpisah jarak dan waktu.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, para alumni menemukan kembali sesuatu yang sederhana namun penting: kebersamaan.

Mereka datang bukan untuk menunjukkan siapa yang paling berhasil.

Mereka datang untuk saling mengingat.

Saling menguatkan.

Saling mendoakan.

Dan mungkin, saling menyadarkan bahwa hidup akan jauh lebih indah ketika manusia tidak melupakan akar persaudaraannya.

Di lereng Bawakaraeng itu, Smabo 83 seolah menemukan kembali rumah batin mereka.

Rumah yang dibangun oleh kenangan.

Rumah yang dipenuhi tawa.

Rumah yang dijaga oleh doa.

Ketika malam mulai turun dan reuni perlahan berakhir, sebagian peserta masih duduk memandangi pegunungan yang diselimuti kabut.

Tak banyak kata yang tersisa.

Namun sebelum meninggalkan arena reuni malam itu, suasana kembali riuh oleh pertandingan domino antaralumni.

Di tengah canda dan sorak para peserta, pasangan Hidayat Hafid dari Makassar bersama Sirajuddin Sehe dari Ambon berhasil menyingkirkan lawan-lawannya dan keluar sebagai juara pertama.

Kemenangan itu langsung disambut tepuk tangan panjang dan gelak tawa para alumni.

Bagi mereka, kemenangan itu bukan sekadar soal hadiah.

“Ini bukan soal hadiah, tetapi menjadi cerita buat anak cucu, bahwa kami Hidayat Hafid berpasangan dengan Sirajuddin Sehe dari Ambon di acara reuni mampu keluar sebagai juara I,” ujar Hidayat Hafid sambil tersenyum bangga.

Malam pun terasa semakin hangat.

Di tengah usia yang terus berjalan, pertandingan domino sederhana itu berubah menjadi kenangan kecil yang kelak akan terus diceritakan kembali.

Sebab sebagian rasa memang terlalu dalam untuk dijelaskan.

Namun satu hal terasa pasti:

Persaudaraan itu belum selesai.

Ia akan terus hidup dalam doa-doa, dalam cerita yang diwariskan, dan dalam kerinduan yang suatu hari nanti akan kembali mempertemukan mereka.

Dan Bollangi, untuk beberapa hari yang singkat itu, telah menjadi saksi bahwa waktu boleh menua, tetapi persahabatan sejati tak pernah benar-benar pergi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *