Keterangan Gambar:
Bhabinkamtibmas bersama aparat desa memediasi sengketa warisan antara dua warga di Desa Kessing, Kabupaten Soppeng, Kamis (9/4/2026). Mediasi berlangsung secara kekeluargaan dan menghasilkan kesepakatan damai antara kedua belah pihak. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Penulis: Alimuddin (Pemred Palapa Media Group)
SOPPENG — Siang itu, cahaya matahari menembus jendela kecil di sebuah ruangan sederhana. Di antara kursi kayu dan percakapan yang sempat menegang, harapan perlahan tumbuh. Bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana hati kembali dipertemukan.
Di tempat itulah, Aipda Mawardi, Bhabinkamtibmas yang membina Desa Labokong, Desa Leworeng, dan Desa Kessing, mengambil peran sebagai penenang. Pada Kamis, 9 April 2026, sekitar pukul 11.00 WITA, ia memediasi sengketa pembagian harta warisan antara dua warga, Pr. Rahmatan dan Pr. Welong, yang sempat memicu ketegangan.
Pertemuan itu turut dihadiri Kepala Desa Kessing dan Kepala Dusun Lamangiso. Namun lebih dari sekadar pertemuan formal, suasana yang terbangun adalah ruang musyawarah yang hangat, tempat kata-kata dirajut dengan kesabaran dan niat baik.
Dalam balutan pendekatan persuasif, Aipda Mawardi mengajak kedua pihak untuk menapaki jalan damai. Ia tidak hanya berbicara sebagai aparat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memahami betapa pentingnya menjaga silaturahmi.
Perlahan, ketegangan mencair. Kata sepakat pun lahir, bukan karena tekanan, melainkan dari kesadaran bahwa keluarga adalah ikatan yang lebih berharga dari sekadar harta. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan, tanpa harus melangkah ke jalur hukum.
Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, kehadiran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga merawat harmoni sosial.
“Pendekatan humanis seperti ini adalah wujud nyata pelayanan Polri kepada masyarakat. Ketika masalah bisa diselesaikan dengan musyawarah, maka kedamaian akan lebih mudah terjaga,” ujarnya.
Sementara itu, Aipda Mawardi menegaskan bahwa setiap persoalan pada dasarnya memiliki jalan keluar, selama komunikasi tetap dibuka dan hati tetap dilunakkan.
“Alhamdulillah, kedua pihak sepakat berdamai. Ini menjadi pengingat bahwa musyawarah adalah jalan terbaik dalam menjaga hubungan kekeluargaan,” tuturnya.
Di ruangan sederhana itu, bukan hanya sengketa yang usai, tetapi juga ego yang luluh. Dan dari sana, lahirlah kembali harmoni, sebuah pelajaran bahwa damai selalu menemukan jalannya bagi mereka yang mau membuka hati.







