Ketika Perempuan Desa Menjadi Jalan Kebaikan

SOPPENG27 Dilihat

Ramadan dan Kepedulian.
Sejumlah pengurus Bhayangkari bersama aparat TNI–Polri dan pemerintah kecamatan menyalurkan paket bantuan kepada warga. Di bulan puasa, solidaritas sosial kembali menemukan wajahnya yang paling sederhana: berbagi.


Penulis: Idris


Langkah Bhayangkari, Persit, dan PKK Citta Menyusuri Rumah-Rumah Sunyi

.

Pagi di Kecamatan Citta masih basah oleh embun ketika langkah-langkah itu mulai bergerak.

Jalan desa masih lengang.
Beberapa anak ayam berlarian di halaman rumah panggung.
Dari kejauhan, suara azan Subuh yang tadi menggema di masjid kampung seakan masih tersisa di udara.

Di tengah keheningan pagi itu, sekelompok perempuan berjalan menyusuri jalan tanah yang sempit.

Di tangan mereka ada kantong-kantong sembako.

Mereka tidak membawa spanduk.
Tidak pula iring-iringan kendaraan.

Hanya langkah yang pelan. Dan tujuan yang jelas.

Mengetuk pintu rumah warga.

Pagi itu, Senin, 9 Maret 2026, para perempuan dari Bhayangkari Polsubsektor Citta, Persit, dan Tim Penggerak PKK Kecamatan Citta memulai perjalanan kecil yang barangkali tidak akan tercatat dalam angka statistik pembangunan.

Tetapi bagi sebagian warga desa, perjalanan itu bisa berarti banyak.

Mereka menyusuri empat desa di wilayah Kecamatan Citta, Kabupaten Soppeng. Rumah demi rumah didatangi. Pintu demi pintu diketuk.

Sebanyak 23 paket sembako dibagikan kepada warga prasejahtera.

Isinya sederhana: beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lain.

Namun yang membuat perjalanan itu terasa berbeda bukanlah isi paketnya.

Melainkan cara ia diberikan.

Bukan di kantor desa.
Bukan dalam seremoni.
Melainkan langsung di depan pintu rumah warga.

Door to door.

Di sebuah rumah panggung yang catnya mulai pudar, seorang ibu tua membuka pintu perlahan. Wajahnya sempat terlihat bingung. Barangkali ia tidak menyangka ada tamu datang pagi-pagi.

Para perempuan itu menyapanya dengan senyum.

Percakapan pendek terjadi.
Beberapa kalimat sederhana.
Tetapi cukup untuk membuat suasana rumah yang sunyi menjadi hangat.

Ibu tua itu menerima paket sembako dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Terima kasih, Nak,” katanya pelan.

Ramadan memang sering dipenuhi ceramah tentang keutamaan berbagi.

Tetapi di desa-desa kecil seperti Citta, makna berbagi sering kali justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana: seseorang datang mengetuk pintu rumahmu dan bertanya apakah kau baik-baik saja.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memberikan apresiasi terhadap kegiatan kolaboratif para organisasi perempuan tersebut.

Menurutnya, langkah yang dilakukan Bhayangkari, Persit, dan PKK itu bukan sekadar kegiatan sosial rutin.

Ia adalah wujud kepedulian yang nyata.

“Ini mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap masyarakat, terutama di bulan penuh berkah seperti Ramadan,” ujarnya.

Di balik kegiatan sederhana itu, ada pesan yang lebih dalam.

Bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus lahir dari program besar. Ia bisa muncul dari inisiatif kecil yang dilakukan dengan hati.

Perempuan-perempuan itu mungkin tidak menyadari bahwa langkah mereka pagi itu telah mengubah suasana di beberapa rumah warga.

Di dapur-dapur sederhana kini ada bahan makanan untuk sahur dan berbuka.

Di ruang tamu rumah panggung yang sepi tadi, masih tersisa percakapan hangat yang baru saja terjadi.

Dan mungkin, di hati para penghuninya, tersisa satu perasaan yang sulit dijelaskan.

Perasaan bahwa mereka masih diingat.

Menjelang siang, perjalanan itu selesai.

Matahari mulai naik di atas pepohonan kelapa. Jalan desa kembali sepi. Aktivitas kampung berjalan seperti biasa.

Namun Ramadan di Citta pagi itu telah menuliskan kisah kecilnya sendiri.

Bukan tentang angka bantuan.
Bukan tentang seremoni.

Melainkan tentang langkah sunyi perempuan-perempuan desa yang memilih berjalan dari rumah ke rumah, hanya untuk memastikan bahwa di bulan suci ini, tidak ada pintu yang terlalu lama dibiarkan sendiri.

Kadang-kadang, kebaikan memang tidak datang dengan suara keras.

Ia datang pelan-pelan.

Mengetuk pintu.

Lalu meninggalkan harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *