Ikhtiar Anwar Sanusi untuk Marwah Pers Daerah: Catatan Ketua SMSI Sulsel dari Rapimnas Jakarta

PERS123 Dilihat

Keterangan Gambar:

Ketua SMSI Sulawesi Selatan, Anwar Sanusi (berdiri, memegang mikrofon), saat menyampaikan pandangan strategis mengenai tantangan verifikasi media lokal di hadapan peserta Rapimnas SMSI di Hotel Millennium, Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Oleh: Redaksi

JAKARTA – Lampu-lampu kristal di ruang pertemuan Hotel Millennium, Jakarta, membiaskan cahaya yang tenang pada Sabtu siang itu. Di bawah naungan atap yang sama, para punggawa media siber dari berbagai penjuru nusantara berkumpul, bukan sekadar untuk merayakan angka sembilan yang kini melekat pada usia Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), melainkan untuk merawat napas industri yang kian hari kian menantang.

Ada suasana khidmat yang mengalun di sela-sela Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) kali ini. Seiring dengan bertambahnya usia, muncul kesadaran kolektif bahwa menjadi besar saja tidak cukup; menjadi profesional adalah sebuah keharusan yang tak bisa ditawar.

Di tengah riuhnya diskusi, suara dari timur Indonesia terdengar lugas namun tetap santun. Anwar Sanusi, selaku Ketua SMSI Sulawesi Selatan, berdiri membawa kegelisahan sekaligus harapan dari daerah. Fokusnya tertuju pada satu titik krusial: regulasi verifikasi media oleh Dewan Pers yang dirasakannya masih menyimpan celah bagi media-media di pelosok daerah.

Bagi Anwar, verifikasi bukanlah musuh. Ia adalah standar moral dan administratif yang menjaga marwah pers agar tetap kredibel di mata publik. Namun, ia juga mengingatkan bahwa regulasi tidak seharusnya menjadi tembok tinggi yang memisahkan media pusat dan daerah.

“Verifikasi media tentu penting untuk menjaga kualitas. Namun dalam implementasinya, perlu ada pendekatan yang lebih adaptif,” tuturnya dengan nada bicara yang terjaga.

Anwar memotret realita bahwa di daerah, media siber tumbuh dengan semangat lokalitas yang tinggi, namun seringkali terbentur kompleksitas administratif yang mencekik. Ia memimpikan sebuah ekosistem yang inklusif, di mana media lokal diberi ruang untuk tumbuh dan berbenah tanpa harus kehilangan standar profesionalisme jurnalistiknya.

Baginya, Rapimnas ini adalah jembatan. Sebuah ruang komunikasi konstruktif antara organisasi perusahaan media dan Dewan Pers. Harapannya sederhana namun mendalam: agar regulasi yang lahir di masa depan mampu menjadi angin segar yang mendorong kesehatan perusahaan pers, bukan sekadar deretan aturan yang rumit di atas kertas.

“Insyaallah, dengan sinergi dan komunikasi yang baik, SMSI ke depan dapat memperoleh kemudahan dalam proses verifikasi,” tambah Anwar dengan nada optimis.

Sembilan tahun perjalanan SMSI telah membuktikan bahwa media digital adalah pilar masa depan. Kini, di Jakarta, komitmen itu kembali diteguhkan oleh tokoh-tokoh seperti Anwar Sanusi.

Bahwa di balik setiap klik dan layar gawai pembaca, ada tanggung jawab besar untuk menghadirkan informasi yang sehat, kredibel, dan tentu saja, menghidupi semangat keberagaman pers dari Sabang hingga Merauke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *