Keterangan Foto:
Suasana kebersamaan masyarakat saat menghadiri buka puasa bersama di kediaman H. A. Kaswadi Razak di Laburawung, Watansoppeng, Jumat (27/2/2026), yang berlangsung hangat dan penuh nuansa silaturahmi Ramadan.
SOPPENG — Senja Ramadan menetes perlahan di langit Watansoppeng, menghadirkan cahaya lembut yang seolah memeluk hati setiap insan yang berkumpul. Di tengah suasana penuh keberkahan hari ke-9 puasa, ribuan warga memadati kediaman H. A. Kaswadi Razak, S.E., di Laburawung, Jalan Merdeka, Kelurahan Lapajung, Kecamatan Lalabata, Jumat (27/2/2026). Bukan sekadar menanti azan magrib, mereka datang membawa rindu silaturahmi dan harapan akan kebersamaan yang menenteramkan jiwa.
Gelombang Rindu Silaturahmi
Sejak pukul 17.00 Wita, halaman rumah mantan Bupati Soppeng itu telah dipenuhi masyarakat dari berbagai kalangan. Wajah-wajah sumringah, sapaan hangat, serta jabat tangan penuh hormat menjadi pemandangan yang menghidupkan suasana.
Kehadiran tokoh masyarakat, simpatisan, unsur Forkopimda, anggota DPRD, Dekranasda, ibu majelis taklim, hingga insan pers menambah semarak kebersamaan. Mereka datang bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menyambung tali persaudaraan yang telah lama terjalin.
Figur yang Tetap Dekat di Hati Warga
Di tengah kerumunan, sosok H. A. Kaswadi Razak tampak tenang menyapa satu per satu warga yang mendekat. Senyum ramahnya tak lekang oleh waktu. Banyak warga memanfaatkan momen itu untuk berswafoto dan berbincang langsung, menandakan kedekatan emosional yang tetap terjaga meski ia tak lagi menjabat sebagai kepala daerah.
Salah seorang warga, Andi Anggi, mengaku bahagia bisa bersalaman langsung.
“Saya diajak keluarga ikut buka puasa bersama. Baru pertama bertemu, beliau murah senyum dan sangat ramah. Saya senang sekali,” tuturnya.
Ramadan, Ruang Persatuan
Acara buka puasa bersama ini bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang persatuan, tempat masyarakat merasakan kembali makna Ramadan sebagai bulan rahmat, pengampunan, dan persaudaraan. Suasana hangat yang tercipta memperlihatkan hubungan yang tetap kuat antara tokoh dan masyarakat, seolah menegaskan bahwa kedekatan sejati tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh ketulusan hati.
Makna yang Tertinggal
Di penghujung acara, ketika azan magrib berkumandang dan doa-doa dipanjatkan, kebersamaan itu terasa semakin khusyuk. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa silaturahmi adalah cahaya yang menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.
Bagi warga Soppeng, pertemuan ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan perjumpaan batin yang meneguhkan rasa saling memiliki dalam bingkai persaudaraan. (Redaksi)












