Mencari Islah di Bumi Latemmamala: Kala Dua Tokoh Ulama Mengetuk Pintu Damai Soppeng

SOPPENG39 Dilihat

Keterangan Gambar:
SIMBOL KESEJUKAN:
Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Soppeng, Drs. Muh. Arsyad Makmur, M.Pd. (berbaju putih), duduk berdampingan dengan Ketua PC NU Kabupaten Soppeng, Ahmad Wardiman, S.Ag., M.Th.I. Kehadiran kedua tokoh ini menjadi simbol harapan akan hadirnya kedamaian dan solusi islah bagi dinamika sosial yang tengah terjadi di Kabupaten Soppeng. (Foto: Dok. Istimewa)


Oleh: Alimuddin


SOPPENG – Di bawah langit Soppeng yang tenang, sebuah riak kecil jika dibiarkan terus-menerus bisa menjadi gelombang yang meresahkan. Persoalan yang membelit antara Rsm, pejabat di BKPSDM Kabupaten Soppeng, dengan Ketua DPRD Soppeng, Andi Muhammad Farid (AMF), kini bukan lagi sekadar bumbu obrolan di kedai kopi. Ia telah menjelma menjadi kegelisahan kolektif yang menembus dinding-dinding rumah ibadah dan ruang tamu para tokoh masyarakat.

Ada semacam kerinduan akan keteduhan di tengah panasnya narasi yang berseliweran di media sosial. Sebuah kerinduan akan hadirnya tangan-tangan dingin yang mampu memadamkan api sebelum ia benar-benar menghanguskan jalinan sosial di Bumi Latemmamala.

Seruan Teduh dari Dua Penjaga Moral

Merespons kegaduhan yang kian berlarut, dua nahkoda organisasi Islam terbesar di Soppeng angkat bicara. Rabu malam (13/1/2026), suasana di kediaman Ahmad Wardiman, S.Ag., M.Th.I., terasa khidmat. Ketua PC NU Soppeng yang juga menjabat Sekretaris FKUB ini memandang bahwa perseteruan antara AMF dan Rsm harus segera menemukan titik henti melalui jalan musyawarah.

“Dalam Islam, kita mengenal prinsip islah atau perdamaian. Ini bukan sekadar kata, tapi perintah untuk menjaga agar fitnah dan kekacauan tidak merusak persatuan umat,” ungkap Ahmad Wardiman dengan nada suara yang tenang namun tegas.

Baginya, musyawarah adalah obat penawar paling mujarab untuk meredakan ketegangan yang tengah terjadi.

Senada dengan itu, di kediaman yang berbeda, Ketua PD Muhammadiyah Soppeng, Drs. Muh. Arsyad Makmur, M.Pd., juga menitipkan pesan mendalam. Ia melihat fenomena ini dari sudut pandang yang lebih luas; sebuah pembelajaran tentang pentingnya kualitas komunikasi antar-elemen kepemimpinan.

Merindukan Sosok “Tomatowa”

Ada yang hilang dalam hiruk-pikuk konflik ini. Arsyad Makmur menyebutnya sebagai krisis “Tomatowa”, sosok orang tua panutan atau figur penengah yang dalam tradisi luhur masyarakat Soppeng selalu menjadi pelabuhan terakhir dalam menyelesaikan silang sengketa.

“Dahulu, persoalan sebesar apa pun bisa diredam oleh kebijakan para orang tua kita sebelum menyentuh ranah hukum formal. Peristiwa ini seolah menyingkap bahwa kita sedang merindukan hadirnya figur penengah yang mampu merangkul kedua belah pihak,” tutur Arsyad.

Ia menekankan bahwa komunikasi adalah kunci. Tanpa dialog yang jujur, sebuah kesalahpahaman kecil bisa membengkak menjadi bola salju yang mengancam reputasi daerah.

Mengetuk Pintu Hati, Menyelamatkan Nama Baik Daerah

Kegelisahan para tokoh agama ini sebenarnya adalah cerminan dari suara akar rumput. Masyarakat Soppeng mulai merasa gerah dengan “kegaduhan” yang dianggap tidak produktif bagi pembangunan daerah.

Kini, harapan besar digantungkan pada pundak para tokoh masyarakat, tokoh budaya, dan pemuda. Muncul desakan agar mereka duduk bersama, melingkar dalam satu majelis untuk mencari solusi terbaik. Bukan untuk memenangkan salah satu pihak, melainkan untuk memenangkan kepentingan yang lebih besar: nama baik Kabupaten Soppeng.

Di akhir wawancara, kedua tokoh ulama ini sepakat bahwa sudah saatnya ego dikesampingkan. Karena pada akhirnya, kedamaian di Bumi Soppeng jauh lebih berharga daripada sekadar memenangkan sebuah argumen atau perseteruan kelembagaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *