Di Masjid At-Taqwa, Polisi Wajo Menjaga Iman Sebelum Mengabdi

BINROHTAL POLRI11 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya bersama para perwira dan personel mengikuti pembinaan rohani dan mental (Binrohtal) di Masjid At-Taqwa Mapolres Wajo, Kamis (3/9/2026). Kegiatan rutin tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keimanan, integritas dan karakter humanis personel dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. (Foto: Humas Polres Wajo)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Di Masjid At-Taqwa, Polisi Wajo Menjaga Iman Sebelum Mengabdi

Oleh: Sabri
Editor: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group

SUARA PALAPA, WAJO – Pagi belum terlalu jauh meninggalkan embun ketika langkah para personel Kepolisian Resor Wajo menuju Masjid At-Taqwa. Kamis itu, 3 September 2026, sekitar pukul 08.45 Wita, halaman markas kepolisian seakan berhenti sejenak dari hiruk-pikuk tugas.

Di dalam masjid, suasana berubah menjadi teduh.

Bukan suara perintah yang terdengar. Bukan pula derap langkah yang sedang mengejar sebuah tugas. Yang mengalun justru ayat-ayat suci, dzikir dan shalawat, sebuah pengingat bahwa di balik seragam dan kewenangan, seorang polisi tetaplah manusia yang membutuhkan kekuatan batin.

Di tempat itulah pembinaan rohani dan mental atau Binrohtal dilaksanakan.

Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya, S.H., S.I.K., M.I.K., M.Tr.OPSLA., bersama para perwira dan personel Polres Wajo yang beragama Islam mengikuti kegiatan tersebut.

Binrohtal bukan sekadar agenda rutin setiap Kamis setelah apel pagi. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk menundukkan sejenak kesibukan dunia, menguatkan hati, sekaligus mengingatkan kembali kepada setiap personel tentang hakikat pengabdian.

Sebab, tugas kepolisian tidak selalu berhadapan dengan perkara yang sederhana.

Di tengah masyarakat, seorang anggota Polri berhadapan dengan manusia yang sedang marah, takut, kecewa, kehilangan, bahkan putus asa. Dalam situasi seperti itu, kecakapan profesional memang penting. Tetapi ada sesuatu yang tidak kalah penting: kemampuan mengendalikan diri dan memperlakukan manusia dengan martabat kemanusiaannya.

Di sinilah agama menemukan tempatnya dalam pengabdian.

Ketika Seragam Bertemu Nurani

Rangkaian Binrohtal diawali dengan pembacaan hadis, Surah Al-Fatihah dan Surah Yasin. Setelah itu, suasana masjid dipenuhi dzikir dan shalawat yang dipimpin Imam Masjid At-Taqwa Polres Wajo, Ustaz Muh. Arif Ansar.

Ayat-ayat yang dilantunkan bukan hanya untuk memenuhi ruang masjid.

Ia seolah mengetuk ruang terdalam dalam diri setiap personel: bahwa kekuasaan tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sementara kewenangan tanpa nurani dapat menjauh dari tujuan pengabdian.

Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya memandang pembinaan rohani dan mental sebagai bagian penting dalam membentuk karakter personel.

Menurutnya, kemampuan profesional harus berjalan beriringan dengan keimanan, ketakwaan, akhlak dan integritas.

“Melalui kegiatan Binrohtal ini, kami berharap seluruh personel dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, sehingga nilai-nilai agama dapat tercermin dalam sikap dan perilaku saat menjalankan tugas melayani masyarakat,” kata Douglas.

Pesan itu sederhana. Namun dalam praktiknya, ia membutuhkan keteguhan.

Menjadi polisi bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga tentang mengetahui bagaimana melakukannya. Ada kalanya hukum harus ditegakkan dengan ketegasan. Tetapi ketegasan tidak harus kehilangan kesantunan. Ada saatnya kewenangan digunakan. Namun kewenangan tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan.

Karena masyarakat tidak hanya melihat seragam.

Masyarakat melihat manusia di balik seragam itu.

Dari Masjid Menuju Jalan Pengabdian

Douglas menekankan bahwa setiap anggota Polri harus mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap humanis, santun dan penuh tanggung jawab.

Baginya, semakin baik keimanan dan ketakwaan, semakin besar pula harapan lahirnya pribadi yang sabar, ikhlas, disiplin, berintegritas dan humanis.

Nilai-nilai tersebut menjadi penting karena kepercayaan masyarakat tidak lahir hanya dari keberhasilan penegakan hukum.

Kepercayaan tumbuh dari sikap.

Dari cara seorang polisi berbicara kepada warga. Dari cara ia memperlakukan orang yang sedang berada dalam kesulitan. Dari kesediaannya mendengar sebelum mengambil tindakan. Bahkan dari kemampuannya menahan diri ketika emosi sedang diuji.

Di situlah karakter diuji.

Dan ujian karakter sering kali berlangsung bukan di ruang seremonial, melainkan di jalan, di tengah masyarakat, ketika seorang personel harus mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Karena itu, Douglas berharap Binrohtal tidak berhenti sebagai rutinitas mingguan atau kegiatan seremonial semata.

Nilai yang diperoleh di masjid, katanya, harus dibawa keluar untuk menjadi bagian dari perilaku sehari-hari dan pelaksanaan tugas.

“Kami ingin setiap anggota membawa nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan ini ke dalam pelaksanaan tugas. Jadikan agama sebagai landasan moral dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat,” tutur Douglas.

Kalimat itu mengandung sebuah harapan besar: agar ibadah tidak berhenti ketika pintu masjid ditutup.

Agar dzikir tidak hanya tinggal di antara dinding tempat sujud.

Agar shalawat tidak sekadar menjadi lantunan yang indah didengar, tetapi menjelma menjadi kelembutan sikap ketika seorang polisi kembali berhadapan dengan masyarakat.

Menjaga Hati, Menjaga Kepercayaan

Kasi Humas Polres Wajo IPTU Kaomi, S.H., mengatakan Binrohtal merupakan salah satu bentuk pembinaan personel yang dilaksanakan secara berkesinambungan.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan sekaligus memperkuat karakter anggota Polri agar semakin humanis dalam menjalankan tugas.

Harapan itu sesungguhnya sederhana, tetapi sangat mendasar.

Polisi yang profesional diperlukan negara. Polisi yang tegas dibutuhkan masyarakat. Namun polisi yang mampu menggabungkan profesionalitas, ketegasan, integritas dan kemanusiaan adalah wajah pengabdian yang lebih utuh.

Sebab hukum membutuhkan ketegasan, tetapi keadilan membutuhkan nurani.

Kewenangan membutuhkan batas, tetapi pelayanan membutuhkan ketulusan.

Dan seragam membutuhkan kehormatan yang dijaga bukan hanya oleh aturan, melainkan juga oleh akhlak pemakainya.

Pagi itu, setelah doa dan dzikir selesai, para personel kembali pada rutinitasnya.

Tugas menanti.

Jalan pengabdian kembali terbuka.

Namun mudah-mudahan ada sesuatu yang ikut mereka bawa dari Masjid At-Taqwa: hati yang lebih teduh, langkah yang lebih terkendali, dan kesadaran bahwa setiap tugas adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Sebab pada akhirnya, seorang polisi bukan hanya dituntut mampu menjaga keamanan.

Ia juga dituntut mampu menjaga dirinya sendiri, menjaga hati dari kesombongan, menjaga kewenangan dari penyalahgunaan, dan menjaga pengabdian agar tetap berada di jalan yang benar.

Dari masjid, mereka kembali mengenakan kesibukan.

Tetapi semoga nilai-nilai yang lahir dari tempat sujud itu tetap melekat dalam setiap langkah.

Karena pengabdian yang paling kuat bukanlah pengabdian yang hanya terlihat oleh manusia, melainkan pengabdian yang juga dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed