Menemukan Kembali Hakikat Kurban: Merajut Harmoni Kemanusiaan dari Halaman Masjid Manyili

EDITORIAL12 Dilihat

Oleh: Sabri
Reporter Palapa Media Group Kabupaten Wajo

Lantunan takbir Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah boleh jadi mulai perlahan surut dari pengeras suara masjid-masjid kita. Namun, esensi dan getar spiritual yang ditinggalkannya harus tetap berdegup kencang di dalam dada. Iduladha tak pernah sekadar tentang ritual tahunan menyembelih hewan kurban, melainkan sebuah refleksi teologis yang mendalam tentang ketundukan ego manusia di hadapan Sang Khalik, yang memanifestasikan dirinya dalam wujud kesalehan sosial.

Sebuah potret humanis yang menyejukkan hati tersaji di halaman Masjid Nurul Bayan Manyili, Desa Manyili, Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo. Di sana, di tengah terik matahari yang mulai meninggi, sekat-sekat formalitas birokrasi dan kekuasaan melebur tanpa sisa. Jajaran Polsek Takkalalla yang dipimpin langsung oleh Kapolsek AKP Mursalim, S.Sos., M.H., membaur erat bersama warga, bahu-membahu mengurus pemotongan dan pembagian hewan kurban.

Bagi Suarapalapa.id, pemandangan ini bukan sekadar rutinitas seremonial instansi vertikal, melainkan sebuah pesan simbolis yang sangat kuat. Kehadiran aparat kepolisian yang menanggalkan sejenak atribut ketegasannya untuk berpeluh ria bersama rakyat adalah bentuk nyata dari reposisi Polri sebagai pelindung, pengayom, dan sahabat sejati masyarakat. Ini adalah pengejawantahan dari konsep hukum yang hidup dan berwajah humanis, hukum yang tidak berjarak dengan detak jantung kehidupan warganya.

Secara religius, peristiwa di Manyili mengingatkan kita pada khotbah abadi tentang keikhlasan Nabi Ibrahim dan kepasrahan Nabi Ismail. Ketika pisau syariat digoreskan, darah yang mengalir ke bumi Takkalalla sesungguhnya adalah simbol runtuhnya dinding kesombongan, ketakaburan, dan rasa mementingkan diri sendiri. Dua ekor sapi dan seekor kambing yang dikurbankan hari itu bertransformasi menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan antara mereka yang berkecukupan dengan mereka yang membutuhkan.

Kita hidup di era di mana modal sosial seringkali tergerus oleh pragmatisme dan Polarisasi. Di sinilah letak pentingnya momentum Manyili. Ketika kantong-kantong daging kurban berpindah tangan diiringi senyum tulus, di situlah rajutan silaturahmi yang kokoh kembali terbentuk. Nilai gotong royong dan empati yang diperlihatkan oleh jajaran Polsek Takkalalla bersama warga Manyili adalah oase di tengah dahaga sosial bangsa kita hari ini.

Suarapalapa.id memandang bahwa langkah Polsek Takkalalla ini patut menjadi refleksi bagi institusi lain. Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tidak akan pernah optimal jika hanya mengandalkan pendekatan hukum yang kaku. Kamtibmas yang hakiki tumbuh dari rasa saling percaya, kedekatan emosional, dan rasa persaudaraan yang lahir dari rahim kepedulian sosial seperti ini.

Melalui Editorial ini, kami mengajak seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Wajo untuk tidak membiarkan semangat Iduladha menguap begitu saja seiring habisnya daging kurban di lemari pendingin. Mari kita rawat nyala api gotong royong, empati, dan nilai-nilai religius yang telah dicontohkan di Manyili. Menjaga harmoni dan kedamaian daerah adalah ikhtiar kolektif kita bersama.

Sebab pada akhirnya, kesalehan spiritual yang sejati adalah kesalehan yang mampu membawa kemaslahatan, kedamaian, dan membasuh hati sesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *