Keterangan Gambar: Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan pesan dalam kegiatan Jumat Keliling bersama jajaran Polres Soppeng di Masjid Nurul Huda Lolloe, Jumat (30/10/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng).
EDITORIAL PALAPA
Suara Nurani Redaksi
SUARA PALAPA, SOPPENG — Jumat, 30 Oktober 2026, Masjid Nurul Huda Lolloe menjadi ruang perjumpaan antara aparat kepolisian dan masyarakat. Di tengah suasana keagamaan, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., bersama para pejabat utama dan personel Polres Soppeng, melaksanakan kegiatan Jumat Keliling.
Pertemuan semacam ini menyimpan makna yang lebih luas daripada sekadar kehadiran dalam agenda kedinasan. Ada silaturahmi yang dirawat, ada persaudaraan yang didekatkan, dan ada kesempatan untuk membangun komunikasi dalam suasana yang lebih terbuka.
Bagi Palapa, kedekatan antara polisi dan masyarakat merupakan bagian penting dari kehidupan bersama. Sebab, keamanan tidak tumbuh hanya dari aturan, pengawasan, atau penegakan hukum. Ia juga bertumbuh dari kepercayaan, kepedulian, dan kesediaan setiap orang untuk menjaga ketenteraman di lingkungannya.
Dalam keterangannya, Kapolres Soppeng menyampaikan harapan agar kehadiran Polri di tengah masyarakat tidak hanya dirasakan ketika menjalankan tugas kepolisian, tetapi juga melalui kebersamaan dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan semata-mata tanggung jawab kepolisian. Partisipasi masyarakat, menurutnya, memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
Pesan tersebut patut direnungkan.
Masyarakat bukan sekadar pihak yang harus dilindungi, sebagaimana polisi bukan semata-mata institusi yang menjalankan kewenangan. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan sosial yang saling membutuhkan. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, persoalan lebih mungkin dibicarakan. Ketika kepercayaan tumbuh, kerja sama lebih mudah diwujudkan.
Namun, kepercayaan tidak lahir hanya dari pertemuan sesaat. Ia membutuhkan konsistensi, keterbukaan, keadilan, dan pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan nyata.
Kegiatan Jumat Keliling dapat menjadi salah satu pintu untuk mendekatkan kedua pihak. Akan tetapi, makna sesungguhnya dari kedekatan itu akan terlihat dalam keseharian: bagaimana masyarakat dilayani, bagaimana keluhan didengarkan, bagaimana hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, serta bagaimana setiap warga diperlakukan dengan hormat dan bermartabat.
Di sinilah nilai keagamaan menemukan hubungannya dengan tanggung jawab sosial.
Rumah ibadah mengajarkan manusia untuk menundukkan kesombongan, memelihara persaudaraan, dan mengingat bahwa kekuasaan maupun kedudukan bukanlah alasan untuk menjauh dari sesama. Nilai-nilai itu bersifat universal. Ia mengingatkan siapa pun, apa pun jabatan dan perannya, bahwa pengabdian sejati selalu berhubungan dengan kemaslahatan manusia.
Bagi aparat kepolisian, kedekatan dengan masyarakat semestinya berjalan seiring dengan profesionalitas dan integritas. Bagi masyarakat, kebersamaan juga perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap hukum, serta kesediaan menjaga kerukunan di tengah perbedaan.
Keamanan yang baik bukanlah keadaan ketika masyarakat hanya merasa diawasi. Lebih dari itu, keamanan adalah keadaan ketika warga merasa terlindungi, berani menyampaikan persoalan, dan percaya bahwa hak-haknya dihormati.
Karena itu, Palapa memandang kegiatan Jumat Keliling sebagai kesempatan untuk memperkuat pesan bahwa polisi dan masyarakat tidak seharusnya berdiri berseberangan. Keduanya perlu berjalan bersama, dengan batas kewenangan yang jelas, tanggung jawab yang terukur, dan tujuan yang sama: menciptakan kehidupan yang aman, adil, serta bermartabat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pertemuan tidak berhenti pada siapa yang hadir atau di mana kegiatan dilaksanakan. Ukurannya terletak pada apa yang tumbuh sesudahnya: apakah komunikasi menjadi lebih terbuka, apakah kepedulian semakin nyata, dan apakah kepercayaan memperoleh alasan untuk terus hidup.
Sebab, ketenteraman tidak dibangun hanya dengan suara perintah. Ia tumbuh ketika hukum menghadirkan keadilan, pelayanan melahirkan rasa aman, dan manusia bersedia saling menghormati.
Polisi boleh datang dan pergi dari sebuah masjid. Namun, nilai pengabdian yang dibawanya semestinya tetap tinggal dalam kehidupan masyarakat. Sebab, kepercayaan tidak dibangun dalam satu kali pertemuan, melainkan dirawat melalui tindakan yang terus membuktikan bahwa kehadiran negara adalah untuk melindungi, melayani, dan memuliakan manusia.
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.






