Rintik Kehidupan di Tanah Tetewatu: Ketika Ketulusan Mengalir Menyejukkan Dahaga

POLRI136 Dilihat

Keterangan Gambar:

Personel Polsek Lilirilau saat menyalurkan air bersih kepada warga di Bulu Tetewatu, Desa Tetewatu, Soppeng. Dalam keheningan musim kemarau, setetes air menjadi wujud nyata hadirnya pengabdian dan kepedulian. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Chemank Farel

SUARA PALAPA, SOPPENG — Terik matahari di garis langit Soppeng perlahan membakar tanah Bulu Tetewatu, Dusun Tetewatu, Desa Tetewatu, Kecamatan Lilirilau. Musim kemarau yang membujur panjang tak hanya mengeringkan sumur-sumur warga, tetapi juga menguji ketabahan hati mereka yang menggantungkan harapan pada setetes air bersih. Di tengah hamparan debu dan dahaga yang mengeringkan tenggorokan, segelas air bersih bukan sekadar pemenuh dahaga, melainkan simbol keberlangsungan hidup dan rahmah yang dinantikan.

Menjawab panggilan nurani tersebut, riak ketulusan bergerak menyusuri jalanan desa. Pada Jumat pagi yang teduh (9/10/2026), sekitar pukul 09.00 hingga 11.30 WITA, jajaran Polsek Lilirilau hadir membawa penyejuk di tengah gersangnya hari. Melalui tatanan kegiatan Jumat Berbagi, armada pemuat tangki air bersih tiba, menyapa senyum lega warga yang telah lama menanti.

Penyaluran air bersih ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Lilirilau, AKP Aidil Akbar S., S.Sos., M.M., bersama para personelnya. Dengan penuh kesederhanaan, mereka bahu-membahu mengalirkan air jernih ke wadah-wadah penampungan milik warga. Setiap kucuran air yang memenuhi ember dan drum bukan sekadar bantuan material, melainkan hembusan napas lega bagi keluarga-keluarga yang terdampak kekeringan.

Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan bahwa ketuk langkah kepolisian di tengah masyarakat harus selalu berpijak pada nilai kemanusiaan dan kepedulian universal.

“Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk hadir menabur manfaat. Melalui Jumat Berbagi ini, kami ingin memastikan bahwa kehadiran personel di tengah masyarakat benar-benar menjadi peneduh, khususnya saat warga kita diuji oleh kesulitan air bersih,” tuturnya dengan nada penuh empati.

Bagi AKBP Hari Budiyanto, kepekaan nurani seorang pengayom masyarakat diuji dari sejauh mana ia mampu merasakan getar kesulitan yang dihadapi warga di wilayah tugasnya. Kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata adalah jembatan terindah untuk merawat keharmonisan dan rasa saling percaya.

“Teruslah membangun komunikasi yang hangat dengan warga, kenali pergumulan hidup mereka, dan ulurkan tangan sesuai kemampuan serta kewenangan yang ada. Kepercayaan dan kehangatan itu tumbuh bukan saat kita hadir dalam urusan hukum belaka, melainkan ketika kita hadir membawa empati dan kepedulian tulus di saat mereka membutuhkan,” tegas Kapolres.

Melalui rintik air yang terbagi di Bulu Tetewatu, Polsek Lilirilau tidak hanya sekadar menyalurkan bantuan fisik, melainkan menyemaikan benih-benih kebersamaan dan persaudaraan yang melintasi batas. Langkah ini menjadi cermin komitmen pelayanan yang humanis, bermartabat, dan terus berlanjut demi memuliakan sesama.

Penutup (Renungan Hati):

Di bawah langit pencipta yang sama, air adalah kehidupan yang mengalirkan pesan bahwa tak ada insan yang boleh dibiarkan berjuang sendiri dalam dahaga. Sebab ketika tangan terulur tanpa membedakan, di situlah rasa kemanusiaan menemukan rumahnya yang paling sejati—meneduhkan jiwa, merawat kasih, dan menghidupkan nurani.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *