KETIKA POLISI HADIR DI RUMAH TUHAN, KEAMANAN MENJADI AMANAH

EDITORIAL31 Dilihat

Keterangan Gambar:

Personel Polsek Pammana yang dipimpin Kapolsek AKP Ami Suandi, S.H., menyampaikan pesan kamtibmas dalam kegiatan Jumat Keliling di Masjid Zainal Abidin, Kelurahan Pammana, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana mempererat komunikasi antara kepolisian dan masyarakat. (Foto: Dokumentasi Polsek Pammana/PMG/Sabri)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA
Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, WAJO — Ada perjumpaan yang tidak selalu membutuhkan ruang resmi untuk menemukan maknanya. Tidak harus di balik meja pertemuan, di tengah rapat yang panjang, atau dalam percakapan yang dibatasi oleh jabatan. Terkadang, perjumpaan yang paling bermakna justru berlangsung di rumah ibadah, ketika manusia menundukkan kepala di hadapan Tuhan dan kembali mengingat tanggung jawabnya kepada sesama.

Jumat, 23 Oktober 2026, suasana Masjid Zainal Abidin, Kelurahan Pammana, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, menjadi bagian dari kegiatan Jumat Keliling (Jumling) yang dilaksanakan personel Polsek Pammana di bawah pimpinan Kapolsek Pammana, AKP Ami Suandi, S.H.

Di antara saf-saf salat Jumat, aparat kepolisian hadir bersama masyarakat. Sebuah kehadiran yang membawa pesan bahwa tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak semata-mata berlangsung di jalan raya, di kantor kepolisian, atau ketika persoalan telah muncul ke permukaan.

Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting: membangun kepercayaan sebelum masalah datang, mendengarkan sebelum keluhan menjadi kegelisahan, serta merawat komunikasi agar kehidupan masyarakat tetap berjalan dalam suasana yang tenteram.

Keamanan yang Tumbuh dari Kedekatan

Jumat Keliling yang dilaksanakan Polsek Pammana memiliki tujuan menyampaikan pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus membuka ruang bagi penyerapan aspirasi dan keluhan jamaah.

Di balik tujuan tersebut, terdapat satu pemahaman mendasar: keamanan bukan hanya perkara ketiadaan gangguan. Keamanan juga berkaitan dengan perasaan tenteram, kepercayaan kepada sesama, dan keyakinan bahwa ketika persoalan muncul, ada ruang untuk menyampaikan kegelisahan secara baik-baik.

Masyarakat membutuhkan aparat yang mampu bertindak tegas ketika hukum harus ditegakkan. Namun, masyarakat juga membutuhkan aparat yang bersedia mendengar, memahami keadaan, dan hadir tanpa menciptakan jarak yang tidak perlu.

Ketegasan dan keramahan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan apabila dilandasi integritas, profesionalitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam konteks itulah, kegiatan Jumat Keliling memperoleh arti yang lebih luas. Ia dapat menjadi jembatan komunikasi antara kepolisian dan masyarakat, sepanjang pesan yang disampaikan benar-benar sejalan dengan tindakan dan pelayanan sehari-hari.

Sebab, kepercayaan tidak lahir hanya dari kata-kata. Ia tumbuh perlahan melalui sikap yang konsisten, tanggung jawab yang nyata, dan kesediaan untuk memperlakukan setiap orang secara adil.

Masjid dan Pelajaran tentang Kemanusiaan

Rumah ibadah mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Di dalamnya, kedudukan sosial tidak semestinya menjadi ukuran kemuliaan. Setiap orang datang membawa harapan, kekurangan, dan pergulatan hidupnya masing-masing.

Nilai-nilai itulah yang semestinya turut mewarnai hubungan antara aparat dan masyarakat.

Pesan kamtibmas akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan bahasa yang santun dan sikap yang menghargai. Keluhan masyarakat pun lebih mungkin menemukan jalan penyelesaian apabila didengarkan dengan sungguh-sungguh, tanpa prasangka dan tanpa mengabaikan hak siapa pun.

Dalam pandangan moral dan keagamaan, menjaga ketenteraman merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Aparat memiliki kewenangan dan kewajiban sesuai hukum, sementara masyarakat mempunyai peran dalam memelihara kerukunan, menaati aturan, serta mencegah tumbuhnya tindakan yang dapat merugikan orang lain.

Tidak ada satu pihak yang dapat memikul seluruh tanggung jawab itu sendirian.

Keamanan yang berkelanjutan membutuhkan kerja sama. Ia memerlukan aparat yang profesional, masyarakat yang peduli, serta komunikasi yang tetap terbuka bahkan ketika perbedaan pendapat tidak dapat dihindari.

Di sinilah nilai spiritual menemukan hubungannya dengan kehidupan sosial. Ibadah tidak berhenti pada gerakan dan doa, tetapi semestinya berlanjut dalam perilaku: menjaga lisan, menghormati hak orang lain, menghindari permusuhan, dan tidak membiarkan ketidakpedulian tumbuh di tengah kehidupan bersama.

Kehadiran Harus Berlanjut dalam Pelayanan

Redaksi Palapa memandang kegiatan Jumat Keliling sebagai salah satu ruang pendekatan yang dapat mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat.

Namun, makna sebuah kegiatan tidak cukup diukur dari terlaksananya agenda atau terciptanya suasana yang aman dan terkendali. Nilai yang lebih mendalam terletak pada keberlanjutan komunikasi, tindak lanjut atas aspirasi yang disampaikan, serta perubahan nyata yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pesan kamtibmas perlu berjalan bersama kesediaan mendengar. Aspirasi yang diterima perlu memperoleh perhatian sesuai kewenangan dan prosedur yang berlaku. Sementara itu, setiap persoalan yang disampaikan masyarakat hendaknya ditempatkan secara proporsional, dengan tetap menghormati fakta, hukum, dan hak setiap orang.

Kepercayaan publik memang tidak dapat dibangun dalam satu kali pertemuan. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan pembuktian yang terus-menerus.

Polisi yang hadir di tengah masyarakat akan semakin bermakna ketika kehadiran itu dapat dirasakan bukan hanya pada hari Jumat, melainkan juga ketika warga menghadapi persoalan, membutuhkan perlindungan, atau sekadar ingin memperoleh penjelasan yang benar.

Begitu pula masyarakat. Kedekatan dengan aparat bukan berarti menghilangkan sikap kritis, melainkan membuka jalan bagi komunikasi yang sehat, penyampaian aspirasi yang bertanggung jawab, dan penyelesaian masalah melalui jalur yang semestinya.

Sebab, kemitraan yang baik tidak dibangun di atas rasa takut ataupun pujian yang berlebihan. Ia tumbuh dari rasa saling menghormati dan kesadaran bahwa setiap pihak memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Menjaga Amanah, Merawat Kepercayaan

Jumat Keliling di Masjid Zainal Abidin, Pammana, mengingatkan kita bahwa keamanan dan ketenteraman memiliki dimensi yang lebih luas daripada penegakan aturan semata.

Di dalamnya terdapat hubungan antarmanusia, harapan akan perlindungan, kebutuhan untuk didengar, dan kerinduan terhadap kehidupan yang damai.

Dalam nilai-nilai keagamaan, amanah bukan sekadar sesuatu yang diucapkan, melainkan tanggung jawab yang harus ditunaikan. Kewenangan perlu dijalankan dengan kebijaksanaan, kepercayaan harus dijaga dengan kejujuran, dan pelayanan hendaknya selalu menempatkan martabat manusia sebagai bagian penting dari tanggung jawab.

Pada akhirnya, ukuran kedekatan polisi dengan masyarakat bukan hanya seberapa sering mereka bertemu, tetapi seberapa besar kepercayaan yang tumbuh dari pertemuan-pertemuan itu.

Sebab, keamanan yang sejati tidak hanya membuat orang merasa terlindungi ketika aparat berada di dekatnya. Keamanan juga menumbuhkan keyakinan bahwa hukum akan dihormati, hak-hak warga akan dijaga, dan persoalan dapat disampaikan tanpa kehilangan martabat.

Ketika langkah meninggalkan masjid dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, semoga pesan kebaikan tidak ikut tertinggal di antara saf-saf yang telah kosong. Biarlah ia hidup dalam tindakan, tumbuh dalam kepedulian, dan berbuah menjadi ketenteraman yang dirasakan bersama.

Sebab, rumah Tuhan mengajarkan manusia untuk mendekat kepada Sang Pencipta, sedangkan kehidupan menguji sejauh mana kedekatan itu menjadikan manusia lebih adil, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab kepada sesamanya.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *