Keterangan Gambar:
Poster seminar HATHI Sulawesi Selatan tentang tantangan pengelolaan sumber daya air menghadapi cuaca ekstrem, menghadirkan para pakar nasional dan daerah, yang akan digelar pada 11 April 2026 di Kota Makassar. (Foto: Dokumentasi BBWS Pompengan-Jeneberang)

Oleh: Alimuddin (Pemred Palapa Media Group)
Penulis terinspirasi dari Postingan Akun Facebook BBWS Pompengan-Jeneberang, Senin (6/4/2026)
Di antara desir angin yang kian tak menentu dan langit yang sering berubah wajah tanpa aba-aba, air tetap menjadi rahmat sekaligus ujian bagi kehidupan. Di tanah Sulawesi Selatan, di mana sungai-sungai mengalir membawa harapan, dan bendungan berdiri menahan cemas, manusia kembali diajak merenung: sejauh mana kita telah menjaga titipan alam ini?
Dalam semangat itulah Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Cabang Sulawesi Selatan menghadirkan sebuah ruang temu ilmu dan nurani melalui seminar bertajuk “Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Air Menghadapi Cuaca Ekstrem di Provinsi Sulawesi Selatan”.
Kegiatan ini bukan sekadar forum akademik. Ia adalah panggilan zaman, sebuah ikhtiar kolektif untuk membaca tanda-tanda alam yang kian kompleks, sekaligus merajut solusi demi keberlangsungan generasi mendatang.
Sebagai pembuka cakrawala, Bob Arthur Lombogia akan menyampaikan keynote speech yang diharapkan mampu menuntun arah pemikiran dan langkah strategis dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia.
Deretan narasumber kompeten turut menguatkan diskursus. Dari perspektif iklim, Ayi Sudrajat akan mengurai dinamika cuaca ekstrem yang kian nyata. Sementara itu, LM. Bakti membedah aspek teknis pengelolaan air tanah dan irigasi. Di sisi pengelolaan wilayah sungai, Heriantono Waluyadi menghadirkan pengalaman lapangan yang sarat makna.
Tak kalah penting, sudut pandang kebencanaan akan diperkaya oleh Mukhsan Putra, mengingat air dalam kondisi ekstrem dapat menjadi berkah sekaligus bencana. Seluruh rangkaian diskusi ini akan dipandu oleh Sugiarto sebagai moderator, menjaga alur percakapan tetap bernas dan membumi.
Seminar yang dijadwalkan berlangsung pada 11 April 2026 pukul 14.30 WITA di kawasan Kota Makassar ini diharapkan menjadi titik temu antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kesadaran spiritual, bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Lebih dari sekadar diskusi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap tetes air adalah denyut kehidupan. Di tengah perubahan iklim yang kian nyata, manusia dituntut tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga arif dalam bersikap. Sebab pada akhirnya, menjaga air berarti menjaga kehidupan itu sendiri.






