Menjaga Api Pendekar di Ibu Kota: Munas XVI IPSI dan Jalan Panjang Pencak Silat Menuju Dunia

Olahraga29 Dilihat

Keterangan Gambar:

Suasana welcome dinner Musyawarah Nasional (Munas) XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Hotel Sultan Jakarta, yang mengusung tema “Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade”, dihadiri pengurus pusat, perwakilan daerah, serta tokoh nasional, Kamis (9/4/2026).

Oleh: Ibnu Sultan

JAKARTA – Di sebuah ruang megah di jantung ibu kota, langkah-langkah sejarah kembali disusun dengan tenang namun penuh makna. Jakarta, pada 9–11 April 2026, menjadi saksi berkumpulnya para pendekar, pengurus, dan penjaga tradisi dalam Musyawarah Nasional (Munas) XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) yang digelar di Hotel Sultan.

Bukan sekadar forum organisasi, Munas ini terasa seperti perjumpaan batin—tempat di mana nilai, warisan, dan cita-cita bertaut dalam satu tarikan napas panjang: membawa pencak silat mendunia, menuju panggung Olimpiade.

Tema besar yang diusung, “Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade”, bukan hanya slogan, melainkan harapan yang ditanam dalam setiap diskusi dan pertemuan. Di balik gemerlap acara penyambutan (welcome dinner), tersimpan tekad untuk merawat identitas bangsa dalam arus globalisasi yang tak pernah berhenti.

Ketua Harian PB IPSI, Benny G. Sumarsono, dalam suasana hangat malam pembuka, menyampaikan bahwa Munas ini adalah ruang silaturahmi yang lebih luas dari sekadar agenda formal. Ia melihatnya sebagai simpul kebersamaan, tempat seluruh elemen pencak silat—dari pengurus pusat hingga perguruan di berbagai penjuru negeri, bertemu untuk merumuskan arah masa depan.

“Di sinilah kita memperkuat kebersamaan dan merancang langkah strategis demi kemajuan pencak silat,” ujarnya, dengan nada yang mengandung keyakinan sekaligus harapan.

Namun lebih dari itu, pesan yang mengemuka dalam forum ini menyentuh dimensi yang lebih dalam: pencak silat sebagai cermin karakter bangsa.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, yang hadir mewakili Ketua Umum PB IPSI Prabowo Subianto, menegaskan bahwa pencak silat tidak berhenti pada teknik bela diri. Ia adalah jalan pembentukan manusia, yang mengajarkan tanggung jawab, keberanian membela kebenaran, serta kepedulian terhadap sesama.

Di tengah dunia yang bergerak cepat oleh teknologi dan informasi, pencak silat hadir sebagai jangkar, menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara gerak dan makna.

“Pencak silat adalah warisan budaya yang memperkokoh karakter dan persatuan bangsa,” ungkapnya, seakan mengingatkan bahwa di balik setiap jurus, ada nilai yang diwariskan lintas generasi.

Harapan besar pun mengemuka: menjadikan pencak silat sebagai bagian dari olahraga dunia, bahkan menembus Olimpiade. Sebuah cita-cita yang tidak hanya membutuhkan kekuatan atletik, tetapi juga diplomasi budaya yang berkelanjutan.

Melalui upaya itu, Indonesia tidak sekadar memperkenalkan olahraga, tetapi juga mempersembahkan jati diri, bahwa bangsa ini tumbuh dari nilai-nilai luhur, dari filosofi pendekar yang menjunjung kehormatan dan kemanusiaan.

Munas XVI IPSI akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan. Ia adalah penegasan arah, penguatan identitas, dan pengingat bahwa warisan budaya bukan untuk disimpan, melainkan untuk dihidupkan dan dibawa melintasi batas-batas dunia.

Malam penyambutan pun ditutup dengan pantun, sederhana namun sarat makna. Di sanalah tradisi tetap bernafas, menyelinap di antara percakapan modern, memastikan bahwa langkah menuju masa depan tidak pernah melupakan akar yang menumbuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *