Satu Genggam Takjil, Sejuta Doa: Saat Penegak Hukum Mengetuk Pintu Langit di Bumi Wajo

SYI'AR ISLAM10 Dilihat

Laporan : Sabri
Reporter Suarapalapa.id

WAJO – Mentari di ufuk barat Kabupaten Wajo mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang membasuh aspal di depan Mako Polres Wajo. Di tengah hiruk-pikuk warga yang mengejar waktu berbuka, ada pemandangan yang menyejukkan sanubari. Bukan sirine atau barikade yang menyambut para pengendara, melainkan senyum tulus dan uluran tangan dari mereka yang biasanya berdiri tegak di garis depan pemberantasan narkotika.

Selasa sore (3/3/2026), Satresnarkoba Polres Wajo sejenak menanggalkan wajah tegas penegakan hukum, menggantinya dengan jubah kepedulian. Di bawah komando AKP Prawira Wardany, para personel dan Bhayangkari berdiri di tepian jalan, membawa bingkisan kecil yang sarat makna.

Menjemput Berkah di Antara Deru Mesin

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, ia adalah panggung pengabdian. Bagi AKP Prawira Wardany, berbagi takjil bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cara kepolisian “mengetuk pintu langit” melalui kebahagiaan sesama.”Ramadan adalah cermin bening untuk melihat sejauh mana empati kita. Melalui sebungkus takjil ini, kami ingin menyentuh hati masyarakat, menyampaikan bahwa di balik seragam ini, ada detak jantung yang ingin selalu hadir sebagai pelindung dan sahabat,” ungkap AKP Prawira dengan nada yang teduh.

“Setiap bungkus takjil yang berpindah tangan bukan sekadar pembatal puasa. Di dalamnya terselip doa agar Kabupaten Wajo senantiasa dalam lindungan-Nya, jauh dari jerat gelap narkotika yang merusak raga dan jiwa.

Pesan Suci di Balik Keramahan.

Di sela-sela senyum dan sapaan akrab kepada pengendara roda dua dan empat, terselip pesan-pesan kemanusiaan yang mendalam. Satresnarkoba menyadari bahwa memerangi narkoba tak cukup hanya dengan borgol dan jeruji besi, melainkan dengan memulihkan nilai-nilai religius dan kedekatan emosional di tengah masyarakat.

Langkah humanis ini menjadi pengingat bahwa musuh nyata bukan sekadar pelaku kriminal, melainkan ketidakpedulian. Dengan merangkul warga lewat kebaikan kecil, polisi sedang membangun benteng pertahanan terkuat: Kepercayaan Publik.

Masyarakat yang melintas tak sekadar membawa pulang penganan manis, tapi juga membawa pulang kesan mendalam. Bahwa sore itu, di depan Mako Polres Wajo, mereka tidak melihat otoritas yang kaku, melainkan saudara seagama dan sebangsa yang sedang bahu-membahu menjemput ridha Ilahi.

Sore pun menutup tirainya. Saat azan Magrib berkumandang dari menara-menara masjid, Satresnarkoba Polres Wajo telah menanam satu benih kebaikan. Sebuah langkah kecil untuk memastikan Wajo tetap aman, bersih dari narkoba, dan senantiasa bersinar dalam keberkahan Ramadan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *