Keterangan Gambar:
SINERGI DEMI KEMANUAIAN: Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho (tengah), bersama pejabat utama Polres Wajo, personel TNI, Dishub, Satpol PP, dan tim medis berfoto bersama di depan Pos Pelayanan Operasi Ketupat 2026 di Kabupaten Wajo, Rabu (18/3). Kegiatan pengecekan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan personel dan sarana prasarana dalam mengawal arus mudik Idul Fitri 1447 H agar tetap aman, lancar, dan kondusif bagi seluruh masyarakat. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
Oleh: Sabri
WAJO – Di bawah langit Wajo yang mulai menyengat, Rabu (18/3/2026), ada kesibukan yang tak biasa di sela-sela debu jalanan Trans Sulawesi. Di saat sebagian besar masyarakat mulai mengemas rindu ke dalam koper untuk pulang ke kampung halaman, deretan pria dan wanita berseragam justru berdiri tegak, mewakafkan waktu mereka demi sebuah kata: Aman.
Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho, memimpin langkah rombongannya menyusuri pos-pos pengamanan Idul Fitri 1447 H. Ini bukan sekadar pengecekan formalitas di atas kertas, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk memastikan bahwa setiap pemudik yang melintasi Bumi Lamaddukelleng merasa dipeluk oleh rasa aman.
Matahari tepat berada di atas kepala saat rombongan tiba di Pos Pelayanan Terpadu Kota Sengkang. Di sana, senyum para petugas menyambut, menyiratkan kesiapan melayani sesama di bulan suci. Perjalanan berlanjut menembus aspal panas menuju Ulugalung di Desa Lempa, hingga menyentuh Anabanua dan Tarumpakkae.
Di setiap pemberhentian, ada narasi tentang sinergi. Di sana tak hanya ada Polri, tapi juga prajurit TNI, petugas Satpol PP, Dinas Perhubungan, hingga tim medis yang bersiaga dengan nurani. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga gerbang silaturahmi agar tetap terbuka lebar dan tanpa hambatan.
“Kami ingin kehadiran pos ini benar-benar dirasakan manfaatnya sebagai tempat berteduh bagi raga yang lelah,” tutur AKBP Muhammad Rosid Ridho dengan nada rendah namun penuh penegasan. “Ini adalah bentuk pengabdian, memastikan kebahagiaan Idul Fitri sampai ke pintu rumah setiap warga tanpa kurang satu apa pun.”
Puncak perjalanan berakhir di pesisir Siwa, tepat di bibir Pelabuhan Bangsalae. Di sana, deru mesin kapal dan riuh pemudik menjadi latar belakang doa yang dipanjatkan dalam diam. Kapolres mengingatkan dengan lembut bahwa keselamatan adalah mahkota dari setiap perjalanan mudik. Ia berpesan agar para perindu kampung halaman tak memaksakan diri melawan lelah, karena ada keluarga yang menanti dengan rindu yang utuh di ujung jalan.
Di tengah gema takbir yang mulai lamat-lamat terdengar di kejauhan, Polres Wajo bersama instansi terkait telah mematri janji: menjaga setiap jengkal jalan agar “Mudik Aman, Keluarga Bahagia” bukan sekadar slogan, melainkan berkah yang nyata bagi seluruh umat.







