
Oleh: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kab. Soppeng
SOPPENG — Di lorong-lorong sunyi RSUD Latemmamala, harapan seringkali berbisik lirih di antara langkah kaki yang tergesa. Di tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhir bagi mereka yang mencari kesembuhan, kini terselip kegelisahan yang tak mudah disembunyikan.
Beberapa bulan terakhir, alat medis vital berupa CT Scan di rumah sakit tersebut dilaporkan mengalami kerusakan. Sebuah kabar yang tak sekadar teknis, melainkan berdampak pada denyut kehidupan banyak orang. Sebab, di balik mesin itu, ada diagnosis yang tertunda, ada keputusan medis yang menggantung, dan ada doa-doa yang dipanjatkan dengan cemas.
Pasien-pasien yang membutuhkan pemeriksaan mendalam, terutama dalam kondisi darurat seperti trauma kepala atau stroke, terpaksa dirujuk ke rumah sakit lain. Tak sedikit yang harus menempuh perjalanan hingga ke Makassar, membawa serta harapan yang digenggam erat di tengah ketidakpastian waktu.
Di perjalanan panjang itu, keluarga pasien tak hanya memindahkan raga, tetapi juga menanggung beban batin. Waktu yang seharusnya menjadi penentu keselamatan, perlahan berubah menjadi ujian kesabaran. Dalam diam, mereka berharap: semoga tak ada yang terlambat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kerusakan alat ini telah berlangsung cukup lama. Ironisnya, alat yang sebelumnya dihadirkan untuk meningkatkan layanan rumah sakit tersebut justru kini menjadi titik persoalan. Dugaan kerja sama dengan pihak ketiga dalam pengadaan alat itu pun mencuat, menyisakan tanda tanya besar tentang transparansi dan tanggung jawab.
Saat kerusakan terjadi, yang tampak justru saling lempar tanggung jawab. Sementara di sisi lain, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Anggota Komisi III DPRD Soppeng dari Fraksi PDI Perjuangan, Ardi Doma, angkat suara. Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar urusan administrasi atau teknis belaka.
“Ini bukan persoalan kecil. Nyawa manusia bukan alat permainan. Rumah sakit adalah tempat harapan terakhir masyarakat, bukan tempat kekecewaan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Baginya, lambannya perbaikan fasilitas medis dan kurangnya ketersediaan obat-obatan esensial mencerminkan lemahnya pengelolaan. Ia menilai, situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut, sebab yang dipertaruhkan adalah keselamatan manusia.
Lebih jauh, ia mendesak agar perbaikan CT Scan segera dilakukan tanpa alasan yang berlarut-larut, stok obat vital dipenuhi sebagai prioritas utama, serta evaluasi menyeluruh terhadap manajemen rumah sakit dilakukan secara serius dan terbuka.
“Pelayanan kesehatan adalah hak dasar, bukan layanan yang bisa ditunda-tunda,” tegasnya lagi.
Sementara itu, pihak manajemen rumah sakit belum memberikan keterangan resmi. Direktur disebut belum dapat ditemui, sementara penjelasan justru beralih ke sejumlah bagian internal lainnya. Di tengah situasi ini, publik menanti kejelasan, bukan sekadar jawaban, tetapi juga langkah nyata.
Di atas semua itu, ada harapan yang tak pernah padam. Masyarakat percaya, pemerintah daerah akan hadir dengan kebijakan yang berpihak pada keselamatan warganya. Sebab kesehatan bukan sekadar program di atas kertas, melainkan tentang menjaga amanah kehidupan.
Dan di setiap perjalanan pasien menuju kota lain, di setiap doa yang dipanjatkan di bangku-bangku ruang tunggu, tersimpan keyakinan sederhana: bahwa suatu hari nanti, harapan tak lagi harus dibawa jauh, cukup ditemukan di rumah sendiri.







