Di Mimbar Subuh Idul Fitri: Ketika Tugas Menjadi Ibadah, dan Nurani Menjadi Kompas

SYI'AR ISLAM11 Dilihat

Keterangan Gambar:

Bripda Maftuh Anugrah Ramli, personel Biro SDM Polda Sulsel, berpose dengan sikap hormat sebelum melaksanakan tugas sebagai khatib Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Kelurahan Caile, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba. Sosok Bhayangkara muda ini mencerminkan keteladanan, patuh pada perintah komandan, sekaligus tunduk pada panggilan nurani dalam mengabdi kepada masyarakat dan Tuhan. (Foto: Dokumentasi Humas Polda Sulsel)

Oleh: Sabri
(Penulis terinspirasi dari rilis Humas Polda Sulsel)

Fajar belum sepenuhnya merekah di langit Bulukumba. Udara masih menyisakan sejuk Ramadhan yang perlahan berpamitan, ketika langkah-langkah jamaah mulai mengalir menuju masjid di Kelurahan Caile, Kecamatan Ujung Bulu. Di antara gema takbir yang bergetar lembut, seorang sosok muda berdiri tenang, seragamnya rapi, pecinya hitam, dan kedua tangannya terkatup dalam sikap penuh hormat.

Dialah Bripda Maftuh Anugrah Ramli, personel Biro SDM Polda Sulsel, yang pagi itu tidak hanya hadir sebagai aparat negara, tetapi juga sebagai penyampai pesan langit. Ia didaulat menjadi khatib Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah, sebuah amanah yang tidak sekadar kehormatan, tetapi juga panggilan jiwa.

Dengan langkah pasti, ia naik ke mimbar. Judul khutbahnya sederhana, namun sarat makna: “Ramadhan Berlalu, Masih Adakah Kesempatan Bertemu Tahun Depan.” Kalimat itu menggantung di udara, seakan mengajak setiap hati untuk bercermin, tentang waktu yang tak pernah menunggu, dan tentang kesempatan yang tak selalu datang dua kali.

Bripda Maftuh adalah alumni Bintara Kompetensi Khusus (Bakomsus) Polri 2022. Namun pagi itu, gelar dan atribut hanyalah pelengkap. Yang lebih tampak adalah ketundukan seorang hamba yang memahami, bahwa tugas sejati bukan hanya menjalankan perintah atasan, melainkan juga menjawab panggilan nurani.

Ia adalah potret seorang Bhayangkara yang patuh, patuh pada komando, dan lebih dalam lagi, patuh pada bisikan iman yang menuntunnya untuk memberi manfaat bagi sesama.

Undangan untuk menjadi khatib datang dari Ketua Pengurus Masjid Amirul Masjid, yang juga seorang akademisi di lingkungan Universitas Muhammadiyah Bulukumba. Harapannya sederhana namun mendalam: agar pesan-pesan yang disampaikan mampu menjadi cahaya, membimbing langkah jamaah dalam menapaki hari-hari setelah Ramadhan.

“Atas nama pimpinan, kami merasa bangga dan terhormat. Ini menunjukkan bahwa personel kami tidak hanya hadir dalam tugas pengamanan, tetapi juga mampu menjadi teladan di tengah masyarakat,” ujar AKP Heri, Kasubbagrenmin Biro SDM Polda Sulsel.

Ia menambahkan, para alumni Bakomsus diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang dimiliki, menjadi jembatan antara institusi Polri dan masyarakat, mengangkat citra dengan ketulusan, bukan sekadar kewajiban.

Lebih dari itu, Polri ingin hadir sebagai sahabat masyarakat. “Kami memiliki banyak personel dengan keahlian beragam. Jangan sungkan untuk menghubungi kami. Kami siap melayani 1×24 jam dengan ikhlas, tanpa pamrih,” lanjutnya.

Di ujung pernyataannya, terselip doa yang hangat: ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Dan pagi itu, di bawah langit yang mulai terang, khutbah Bripda Maftuh bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah pengingat, bahwa setiap tugas, sekecil apa pun, bisa menjadi ibadah, jika dijalankan dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.

Bahwa di antara seragam dan disiplin, ada ruang sunyi tempat nurani berbicara. Dan di situlah, seorang manusia menemukan makna sejatinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *