Di Antara Sunyi dan Setrum

OPINI103 Dilihat

Oleh: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Soppeng

Ada danau yang tak pernah berteriak, meski ia sedang terluka.
Ia memilih diam, menahan riak, menampung segala yang datang, air, lumpur, juga keserakahan manusia. Danau Tempe adalah danau semacam itu.

Ia pernah menjadi ruang belajar tentang keseimbangan. Airnya naik dan surut seperti napas. Ketika surut, petani menanam padi. Ketika pasang, nelayan menebar jala. Hidup bergerak mengikuti irama alam, bukan sebaliknya. Di sanalah manusia dan danau saling memahami batas.

Kini, irama itu nyaris hilang.

Sejak bendung gerak berdiri dan aliran air dikendalikan, Danau Tempe seperti kehilangan jeda untuk bernapas. Air tak lagi surut. Tanah tak sempat mengering. Benih padi membusuk sebelum tumbuh. Telur ikan tak pernah melihat cahaya matahari.

Dan di atas permukaan yang tenang itu, luka lain tumbuh perlahan.

Pada malam-malam tertentu, ketika danau tampak sunyi, aliran listrik mengoyak air. Setrum dari accu berdaya besar membunuh ikan tanpa suara. Yang besar diambil. Yang kecil dibiarkan mati. Dalam sekali sengatan, satu generasi kehidupan lenyap.

Mahyuddin, nelayan dari Madining, mengenang masa ketika danau masih ramah.

“Dulu, kami cukup sekali turun,” katanya lirih.
“Sekarang, sering pulang tanpa apa-apa.”

Ia tak berteriak. Tak menuduh. Hanya menyimpan letih yang tak tahu harus ditumpahkan ke mana. Ia tahu siapa yang menggunakan setrum. Semua orang tahu. Tapi di danau itu, mengetahui tak selalu berarti bisa bertindak.

Larangan memang ada. Spanduk berdiri. Aturan tertulis rapi. Namun hukum terasa jauh, seperti gema yang tak pernah sampai ke air. Mereka yang patuh menepi. Mereka yang melanggar tetap melaju.

Seorang nelayan lain, yang memilih tak disebutkan namanya, berkata pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri:

“Kalau mau jujur, semua orang tahu. Tapi siapa yang berani menegur?”

Kalimat itu menggantung lama di udara, lebih berat dari tudingan apa pun. Ia bukan kemarahan, melainkan kelelahan yang telah melewati batas.

Bahkan aparat mengakui, pengawasan belum berjalan sebagaimana mestinya. Wilayah luas. Personel terbatas. Sebuah pengakuan yang jujur, namun tak cukup untuk menenangkan danau yang kian sepi.

Di saat yang sama, ikan safu-safu berkembang tanpa kendali. Ia memakan ikan lokal, menggerus rantai makanan, mengubah wajah danau sedikit demi sedikit. Alam mencoba menyesuaikan diri, tetapi tanpa perlindungan, ia kehilangan daya tahannya.

Pemerintah berbicara tentang penyelamatan. Tentang rencana. Tentang masa depan. Semua terdengar baik di atas kertas. Namun bagi warga di tepian danau, masa depan bukan konsep besar. Ia sesederhana: apakah esok masih bisa makan dari danau yang sama.

Danau Tempe tak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin diberi kesempatan untuk pulih. Untuk bernapas kembali. Untuk tidak terus-menerus menjadi korban dari kelalaian yang dibungkus kebijakan.

Jika hari ini ia tampak tenang, mungkin itu bukan ketenangan. Bisa jadi itu kelelahan yang terlalu lama dipendam. Atau isyarat terakhir sebelum ia benar-benar menyerah.

Sebab ada kalanya, alam tidak marah.
Ia hanya berhenti memberi.

Dan ketika itu terjadi, barulah manusia sadar:
yang hilang bukan sekadar danau,
melainkan kebijaksanaan yang pernah kita miliki.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *