Keterangan Foto:
Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., menerima potongan tumpeng dari jajaran Intelkam Polres Wajo dalam peringatan HUT Intelkam Polri ke-80, Senin (6/1/2026). Sebuah simbol syukur atas delapan dekade pengabdian para penjaga sunyi keamanan negeri.
Laporan: Sabri
Mereka jarang terlihat, namun selalu lebih dulu mengetahui. Mereka jarang disebut, namun paling awal bersiaga.
WAJO — Pagi itu, ruang pertemuan Polres Wajo tidak sekadar menjadi tempat perayaan. Ia berubah menjadi ruang hening yang sarat makna—ruang di mana doa, rasa syukur, dan ingatan akan pengabdian bertemu. Senin, 6 Januari 2026, potongan tumpeng dibagi bukan hanya sebagai simbol seremonial, tetapi sebagai penanda bahwa Intelijen Keamanan Polri telah genap menapaki usia delapan dasawarsa: delapan puluh tahun menjaga negeri dari balik senyap.
Tidak ada barisan pasukan. Tidak ada teriakan komando. Namun di ruangan itu, ada wajah-wajah yang terbiasa membaca gelagat, mengurai tanda, dan menimbang ancaman—bahkan sebelum ia lahir. Mereka adalah Intelkam Polres Wajo, penjaga yang bekerja dalam diam, namun dampaknya terasa di setiap sudut rasa aman masyarakat.
Di Balik Data, Ada Hati yang Berjaga
Kasat Intelkam Polres Wajo, IPTU Zulkarnain, berdiri dengan mata yang memancarkan keteguhan. Baginya, usia 80 tahun bukan sekadar angka dalam kalender institusi, melainkan jejak panjang pengabdian yang tak selalu tercatat, namun selalu terasa.
“Peringatan ini adalah pengingat bahwa di balik setiap laporan intelijen, ada hati yang berjaga, ada kesetiaan yang tidak pernah meminta sorotan,” ujarnya lirih, namun mantap.
Ia menekankan, di tengah dunia yang berubah cepat, Intelkam harus terus mengasah kepekaan, memperkuat profesionalisme, dan menjaga kesiapsiagaan—agar rasa aman tetap hadir sebelum kecemasan tumbuh.
Kapolres: Menjaga yang Tak Terlihat, Melindungi yang Terasa
Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., memandang Intelkam sebagai denyut nadi pengamanan Polri. Dalam setiap kebijakan dan langkah pengamanan, peran intelijen menjadi fondasi yang tak tampak, namun menentukan.
“Delapan puluh tahun bukan usia biasa. Ini adalah usia kebijaksanaan. Intelkam harus semakin tajam membaca zaman, semakin peka merasakan gelagat, dan semakin cepat bertindak sebelum gangguan kamtibmas menjelma menjadi luka sosial,” tuturnya.
Baginya, Intelkam adalah mata yang selalu terjaga ketika masyarakat terlelap.
Merawat Aman, Menumbuhkan Percaya
Di tengah perubahan sosial yang cepat dan informasi yang bergerak liar, Intelkam Polres Wajo berdiri sebagai penyangga keseimbangan. Mereka merawat rasa aman, menjaga harmoni, dan menumbuhkan kepercayaan—bahwa negara hadir bahkan sebelum warga merasa terancam.
Peringatan HUT Intelkam Polri ke-80 ini menjadi ikrar sunyi: bahwa dedikasi, loyalitas, dan integritas bukan sekadar slogan, melainkan napas pengabdian yang akan terus dijaga.
Dan dari Polres Wajo, doa itu mengalir—untuk negeri yang tetap tenteram, untuk masyarakat yang tetap percaya, dan untuk para penjaga sunyi yang terus setia berjaga.













