Di Antara Tugas dan Ibadah: Ketika Pengabdian Disematkan di Dada

POLRI364 Dilihat

Keterangan Foto:
Wakil Kepala Polres Wajo, KOMPOL H. Andi Syamsulifu, S.Sos., M.H., menyalami salah satu personel usai penyematan Satya Lencana Pengabdian dalam upacara di Lapangan Mapolres Wajo, Kamis (29/1/2026). Penghargaan tersebut diberikan kepada personel yang telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun dengan dedikasi dan loyalitas tinggi, sebagai bentuk apresiasi negara atas pengabdian yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.


Penulis : Sabri (Reporter Suarapalapa.id)

Nuansa tulisan ini disadur dari press release Sie Humas Polres Wajo diposting di group WhatsApp Polres Wajo-Wartawan pada Kamis, 29 Januari 2026.


Pagi di Wajo bergerak pelan. Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika barisan itu berdiri dalam diam. Tak ada gemuruh, tak ada gegap gempita. Hanya sepatu yang sejajar, bahu yang tegak, dan wajah-wajah yang telah lama berdamai dengan waktu.

Di lapangan Mapolres Wajo, Kamis itu, 29 Januari 2026, negara hadir bukan lewat pidato panjang atau sorak-sorai. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: sebuah tanda kehormatan yang akan disematkan di dada, seolah ingin berkata bahwa ada kerja-kerja yang tak perlu gaduh untuk diakui.

Empat orang berdiri di hadapan barisan.

Mereka tidak muda lagi. Wajah mereka menyimpan tahun-tahun yang telah berlalu: malam tanpa tidur, keputusan yang harus diambil cepat, tugas yang tak selalu berakhir dengan pujian. Mereka telah belajar bahwa pengabdian bukan soal dikenang, melainkan soal bertahan.

Ketika Wakapolres Wajo, KOMPOL H. Andi Syamsulifu, melangkah maju, udara seakan mengeras sesaat. Tangannya mengangkat Satya Lencana Pengabdian, logam kecil yang menyimpan makna panjang. Bukan sekadar tanda jasa, melainkan jejak waktu yang tak bisa dipercepat.

Empat nama dipanggil satu per satu.
IPTU Ihwan Alinaro, tiga puluh dua tahun mengabdi.
IPTU Awal Syahrani, S.Hi, dua puluh empat tahun menjalani tugas.
IPDA Anwar Ali, S.H., enam belas tahun menjaga ritme pengabdian.
Dan BRIPTU Rizal Trisman, delapan tahun menapaki jalan yang sama. tahun.

Angka-angka itu tidak berbunyi nyaring. Tapi di baliknya ada ribuan hari pengabdian yang tak tercatat. Ada pagi yang dimulai sebelum keluarga bangun, ada malam yang dihabiskan di jalanan, ada risiko yang diterima tanpa perjanjian.

Di saat seperti itulah, barangkali ayat ini menemukan maknanya:

“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 105)

Ayat itu tidak berbicara tentang pangkat. Ia bicara tentang kerja. Tentang kesungguhan. Tentang keikhlasan yang tak selalu mendapat sorotan.

Dalam amanatnya, Wakapolres Wajo tak mengucap kata-kata besar. Ia hanya menegaskan bahwa Satya Lencana bukan hadiah, melainkan pengingat. Bahwa di balik seragam, ada sumpah. Bahwa di balik kewenangan, ada tanggung jawab. Dan bahwa pengabdian sejati tak pernah menuntut balasan.

Upacara berjalan tanpa gegap. Tak ada tepuk tangan panjang. Tapi justru di sanalah maknanya terasa utuh.

Sebab pengabdian sejati memang tak riuh.

Ia hadir dalam disiplin yang dijaga saat tak ada yang melihat.
Dalam keputusan yang diambil meski tak menguntungkan diri sendiri.
Dalam kesetiaan yang tak menunggu pujian.

Polisi, pada akhirnya, adalah manusia yang memilih berdiri di antara hukum dan nurani. Di antara perintah dan empati. Di antara tugas negara dan panggilan batin.

Di Wajo, pagi itu, empat orang diingatkan, dan kita pun diingatkan, bahwa bekerja dengan jujur adalah bagian dari ibadah. Bahwa mengabdi pada negara, bila dilakukan dengan niat lurus, adalah juga cara mendekat kepada Tuhan.

Dan bahwa waktu, pada akhirnya, selalu mencatat siapa yang benar-benar setia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *