Sunyi di Ujung Usia: Duka di Marioriawa dan Panggilan Nurani untuk Lebih Peduli

BERITA DUKA78 Dilihat

Keterangan Gambar :

Personel Polres Soppeng bersama tim Inafis dan tenaga medis melakukan pemeriksaan awal terhadap korban di lokasi kejadian di Dusun Kawarang, Desa Patampanua, Kecamatan Marioriawa, Minggu (12/4/2026), dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Penulis: Chemank Fatel

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap pelan di sela dinding rumah sederhana di Dusun Kawarang, Desa Patampanua, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Namun kehangatan pagi tak mampu mengusir sunyi yang menggantung di dalamnya, sunyi yang akhirnya pecah oleh kabar duka.

Seorang perempuan lanjut usia, berinisial B (65), ditemukan telah terbaring tak bernyawa di kediamannya, Minggu, 12 April 2026, sekitar pukul 10.00 WITA. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan hari-harinya dalam kesederhanaan, tinggal bersama cucunya, mengisi waktu dengan rutinitas yang perlahan menjadi kenangan.

Kabar itu menyebar cepat, mengetuk hati warga sekitar. Rasa haru dan iba menyatu dalam langkah-langkah warga yang berdatangan, mencoba memahami takdir yang telah digariskan. Di tengah suasana duka, keluarga korban dengan tabah menerima kenyataan—bahwa setiap jiwa pasti akan kembali kepada Sang Pencipta, dalam waktu yang telah ditentukan.

Tak lama berselang, aparat kepolisian dari Polsek Marioriawa bersama personel piket fungsi Polres Soppeng dan tim Inafis Sat Reskrim hadir di lokasi. Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, mereka melakukan olah tempat kejadian perkara, mendata saksi, serta memeriksa kondisi korban bersama tenaga medis setempat.

Hasil pemeriksaan awal tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Kepergian almarhumah pun diterima keluarga sebagai sebuah musibah. Dengan penuh keikhlasan, mereka menolak dilakukan autopsi, yang kemudian dituangkan dalam surat pernyataan resmi.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., menyampaikan duka cita yang mendalam. Dalam nada yang teduh, ia mengajak semua pihak untuk merenungi makna di balik peristiwa ini.

“Semoga almarhumah husnul khatimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan,” tuturnya.

Lebih dari sekadar peristiwa, kejadian ini menjadi cermin bagi kita semua, bahwa di tengah kesibukan hidup, ada jiwa-jiwa yang mungkin terlewat dari perhatian. Ada orang tua yang menua dalam diam, menunggu sapa yang sederhana namun bermakna.

Kapolres pun mengingatkan pentingnya kepedulian sosial. Bahwa menjaga satu sama lain bukan hanya tugas keluarga, melainkan tanggung jawab bersama sebagai sesama manusia.

“Komunikasi, perhatian, dan kehadiran kita sangat berarti. Mari lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitar, terutama mereka yang membutuhkan perhatian lebih,” pesannya.

Di penghujung kisah ini, Marioriawa tak hanya menyimpan duka, tetapi juga pesan kehidupan: bahwa kasih sayang dan kepedulian adalah jembatan yang menghubungkan hati, sebelum waktu memisahkan raga.

Dan di setiap kepergian, selalu ada pengingat, bahwa hidup bukan hanya tentang berapa lama kita ada, tetapi seberapa dalam kita saling menjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *