Merawat Rumah Ibadah, Menyemai Kepedulian dan Kebersamaan

POLRI11 Dilihat

Keterangan Gambar: Personel Polsek Pammana bersama unsur pemerintah kecamatan, pengurus Masjid Babuttaqwa, mahasiswa KKN, dan masyarakat bergotong royong dalam kegiatan Green Policing di Kelurahan Cina, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Jumat (16/10/2026). (Foto: Dokumentasi Polsek Pammana)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Sabri

SUARA PALAPA, WAJO — Pagi itu, Jumat, 16 Oktober 2026, halaman Masjid Babuttaqwa di Kelurahan Cina, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, menjadi ruang perjumpaan bagi banyak orang. Personel kepolisian, unsur pemerintah kecamatan, pengurus masjid, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan warga berkumpul dalam satu kegiatan yang sederhana, tetapi memiliki makna yang luas.

Mereka datang bukan sekadar untuk bertemu. Ada pekerjaan yang menanti, ada lingkungan yang perlu dirawat, dan ada semangat kebersamaan yang hendak ditumbuhkan melalui tindakan nyata.

Di tempat ibadah itu, kepedulian menemukan bentuknya dalam gotong royong.

Melalui program Quick Wins Polri Green Policing, personel Polsek Pammana bersama masyarakat melaksanakan kegiatan kerja bakti untuk menjaga kebersihan lingkungan masjid. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolsek Pammana, AKP Ami Suandi, S.H., dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan setempat.

Di tengah kesibukan masing-masing, mereka dipertemukan oleh satu kesadaran: menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya urusan seseorang atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.

Ketika Kepedulian Menjadi Tindakan

Masjid bukan semata-mata bangunan dengan kubah dan menara. Di dalamnya, manusia belajar merendahkan hati, menata niat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Namun, nilai-nilai yang tumbuh di rumah ibadah tidak seharusnya berhenti di ruang salat. Ia perlu hadir pula dalam kehidupan sehari-hari, melalui sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan menjaga lingkungan yang digunakan bersama.

Di halaman Masjid Babuttaqwa, semangat itu diterjemahkan ke dalam kegiatan gotong royong.

Personel Polsek Pammana bekerja bersama unsur pemerintah Kecamatan Pammana, staf kelurahan, pengurus masjid, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Makassar, serta warga sekitar.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi titik temu bagi banyak kalangan.

Tidak ada sekat yang perlu dipertahankan ketika tujuan yang hendak dicapai adalah kebaikan bersama.

Di tengah masyarakat yang semakin sibuk dengan urusan masing-masing, kebersamaan seperti ini mengingatkan bahwa hubungan sosial perlu terus dirawat. Sebab, lingkungan yang bersih dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis tidak lahir hanya dari imbauan, tetapi juga dari kesediaan untuk mengambil bagian.

Green Policing, Lebih dari Sekadar Program

Melalui kegiatan tersebut, Polsek Pammana menjalankan pendekatan Green Policing sebagai bagian dari program Quick Wins Polri.

Dalam praktiknya, kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi jembatan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat antara kepolisian dan masyarakat.

Kehadiran polisi di tengah warga tidak selalu harus berkaitan dengan penanganan perkara atau penegakan hukum. Ada ruang lain yang tak kalah penting, yakni membangun kepercayaan melalui kegiatan sosial, menumbuhkan kesadaran bersama, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam merawat lingkungan.

Di situlah hubungan antara aparat dan warga memperoleh makna yang lebih luas.

Keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya bertumpu pada kehadiran petugas, tetapi juga pada tumbuhnya rasa saling percaya, kepedulian, dan tanggung jawab di antara sesama warga.

Meski demikian, kegiatan gotong royong tentu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan membangun kedekatan dengan masyarakat. Ia menjadi salah satu ikhtiar yang perlu dijaga kesinambungannya agar semangat kebersamaan tidak berhenti pada sebuah kegiatan, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan.

Kapolsek Pammana, AKP Ami Suandi, S.H., bersama personelnya hadir dalam kegiatan yang mempertemukan kepolisian dengan berbagai unsur masyarakat tersebut.

Turut hadir Camat Pammana, Sekretaris Kecamatan Pammana, Lurah Cina, Lurah Pammana beserta staf, personel Polsek Pammana, staf kantor kecamatan, pengurus Masjid Babuttaqwa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa KKN Universitas Negeri Makassar, serta warga sekitar.

Keterlibatan berbagai unsur itu menjadi gambaran bahwa menjaga lingkungan membutuhkan partisipasi bersama, bukan sekadar mengandalkan satu institusi.

Dari Halaman Masjid untuk Kehidupan Bersama

Ada pesan sederhana yang dapat dipetik dari kegiatan di Masjid Babuttaqwa.

Kebersihan bukan hanya perkara halaman yang tertata atau lingkungan yang bebas dari sampah. Ia juga mencerminkan kesadaran manusia dalam memperlakukan ruang hidupnya dan menghargai orang lain yang menggunakan ruang yang sama.

Begitu pula dengan gotong royong. Nilainya tidak semata-mata terletak pada pekerjaan yang selesai, tetapi pada hubungan yang terbangun selama orang-orang bekerja bersama.

Ketika aparat kepolisian, pemerintah, mahasiswa, pengurus rumah ibadah, dan masyarakat berdiri dalam satu kegiatan, sesungguhnya ada kesempatan untuk memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan.

Kesempatan itu akan semakin berarti apabila semangat yang sama dibawa pulang ke lingkungan tempat tinggal, kantor, sekolah, dan ruang-ruang publik lainnya.

Sebab, kepedulian yang baik tidak mengenal batas tempat. Ia tumbuh dari kesadaran, lalu menemukan jalannya melalui tindakan.

Kegiatan Green Policing di Masjid Babuttaqwa berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar.

Namun, makna sebuah kegiatan tidak seharusnya berakhir ketika pekerjaan selesai dan orang-orang kembali ke kesibukan masing-masing.

Yang lebih penting adalah apa yang tertinggal setelahnya: apakah lingkungan menjadi lebih terawat, apakah hubungan antarsesama semakin dekat, dan apakah kesadaran untuk menjaga kebersihan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketika Gotong Royong Menjadi Cermin Nurani

Pada akhirnya, merawat rumah ibadah bukan hanya tentang membersihkan sebuah tempat. Ia juga menjadi pengingat bahwa kehidupan bersama memerlukan tangan-tangan yang bersedia bekerja, hati yang mau peduli, dan pikiran yang tidak selalu menunggu orang lain memulai.

Dalam kehidupan yang kerap diwarnai perbedaan kepentingan, gotong royong menghadirkan bahasa yang dapat dipahami siapa saja: bahasa kepedulian.

Ia tidak membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan arti kebersamaan. Cukup dengan kesediaan hadir, mengambil bagian, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Barangkali, dari halaman sebuah masjid, kita dapat belajar kembali bahwa kebaikan tidak selalu lahir dari pekerjaan besar atau peristiwa yang mengundang perhatian luas.

Terkadang, kebaikan bermula dari hal yang tampak sederhana: menjaga kebersihan, merawat lingkungan, dan mengulurkan tenaga tanpa harus bertanya siapa yang paling pantas menerima penghargaan.

Sebab, rumah ibadah menjadi lebih bermakna ketika nilai-nilai yang diajarkannya hidup dalam tindakan; lingkungan menjadi lebih baik ketika kepedulian diwujudkan bersama; dan masyarakat menjadi lebih kuat ketika setiap orang bersedia mengambil bagian.

Pada akhirnya, yang membuat sebuah lingkungan tetap terjaga bukan hanya tangan yang membersihkannya hari ini, melainkan hati yang terus merasa bertanggung jawab untuk merawatnya esok hari.


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *