Menyemai Kasih di Bait Teppo’e: Saat Seragam Polisi Memeluk Ketulusan Anak-Anak Mattabulu

POLRI30 Dilihat

Keterangan Gambar: Wakapolres Soppeng AKBP Tamar, S.Sos., berinteraksi hangat dan membagikan kebahagiaan kepada anak-anak Sekolah Dasar di dalam Masjid Darudda’wah Teppo’e, Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, Soppeng, Jumat (16/10/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA Nurani Redaksi di Atas Fakta

Oleh: Alimuddin Pemimpin Redaksi PMG

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di bawah naungan kubah Masjid Darudda’wah Teppo’e, Desa Mattabulu, waktu seolah berbisik lirih. Udara sejuk Kecamatan Lalabata menyambut langkah-langkah kaki yang berduyun memenuhi saf-saf salat Jumat. Di antara riak puji-pujian dan keheningan mukena serta sarung yang terbentang, hadir pula keteduhan dari sosok-sosok berseragam.

Hari itu, Jumat, 16 Oktober 2026, Wakapolres Soppeng AKBP Tamar, S.Sos., hadir mewakili Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., melangkahkan kaki dalam ikhtiar bertajuk Jumat Keliling—sebuah perwujudan dari napas program “Polisi Bersama Masyarakat”. Namun, lebih dari sekadar agenda kepolisian, saung ibadah di pinggiran Soppeng ini berubah menjadi ruang perjumpaan nurani yang begitu hangat.

Langkah-langkah itu tak membawa jarak, melainkan merajut jembatan kasih. Di hadapan jamaah, perangkat desa, serta anak-anak sekolah dasar yang polos berseragam dan berpeci, pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) disampaikan bukan dengan ketegangan hukum, melainkan dengan bahasa kebersamaan dan persaudaraan.

Di tengah dinamika zaman yang kian riuh, amanat Kapolres Soppeng yang digaungkan Wakapolres Tamar menyasar satu hal mendasar yang sering kali luput dalam riak kehidupan: kemanusiaan. Secara khusus, imbauan untuk mencegah perundungan (bullying) menjadi renungan mendalam.

Perundungan bukanlah sekadar gurauan yang melintas, melainkan luka terselubung yang menorehkan duka pada jiwa-jiwa muda. Menghargai perbedaan, menjaga perasaan sesama, dan memperlakukan setiap insan secara bermartabat adalah manifestasi paling nyata dari akhlakul karimah. Agama tidak pernah mengajarkan merendahkan sesama; keharmonisannya justru mekar ketika perbedaan dirawat dengan cinta dan kehendak saling menjaga.

Kehadiran jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Soppeng, Bhabinkamtibmas Aipda Andi Tawakkal, hingga para tokoh masyarakat Desa Mattabulu di tempat suci ini memberikan penegasan bahwa keamanan bukanlah dogma yang dipaksakan. Keamanan adalah persaudaraan yang dirawat bersama-sama. Ketika polisi dan warga bersimpuh di atas sajadah yang sama, sekatan hirarki runtuh, menyisakan manusia-manusia yang saling membutuhkan keselamatan dan kedamaian.

Tampak dalam senyum manis anak-anak SD Negeri 21 Mattabulu yang mengerumuni sang perwira, ada wujud nyata dari wajah kepolisian yang mengayomi—bukan ditakuti, melainkan dicintai. Binar mata mereka menyiratkan harapan bahwa negeri ini masih memiliki masa depan yang santun dan bebas dari kekerasan.

Renungan Penutup

Sebuah bangunan yang kokoh tidak dibentuk dari kerasnya semen semata, melainkan dari kedekatan batu bata yang saling menyangga.

Demikian pula kedamaian di tanah Soppeng. Ia tidak hadir karena besarnya kewenangan atau ketatnya penjagaan, melainkan tumbuh dari kelembutan hati yang enggan menyakiti, keberanian untuk melindungi yang lemah, serta keikhlasan untuk saling merangkul dalam kebaikan.

Sebab pada akhirnya, di hadapan Sang Maha Pencipta, bukan seragam atau jabatan yang menjadikan kita bernilai, melainkan seberapa besar kasih yang telah kita semaikan untuk memuliakan sesama manusia.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *