Menjaga Napas Gunung Bila Tungke’e: Kala Tugas Negara Menjelma Khidmat pada Semesta

EDITORIAL35 Dilihat

Keterangan Gambar: Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H. saat berdialog hangat dan berkoordinasi langsung dengan jajaran serta warga di sekitar kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan di Gunung Bila Tungke’e, Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)

Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA

Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, SOPPENG — Bumi tak pernah meminta banyak kepada manusia, selain dirawat dan dijaga agar napas kehidupan di atasnya tetap berembus tenang. Namun, ketika api mulai menjilati pepohonan dan menyisakan arang di lereng Gunung Bila Tungke’e, Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, nurani kita kembali dipanggil untuk bersiap dan peduli.

Pada Rabu sore, 14 Oktober 2026, langkah kaki Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menyusuri tanah yang belum sepenuhnya dingin. Kehadirannya di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut bukan sekadar menuntaskan kewajiban formatis institusi, melainkan bentuk ikhtiar nyata untuk memastikan bumi Soppeng tetap aman dari ancaman bara yang sembunyi.

Di tengah keheningan bukit dan pekatnya aroma jelaga, pemantauan dilakukan hingga ke ceruk-ceruk terpencil. Langkah ini diambil guna memetakan potensi titik panas (hotspot) yang masih bersembunyi di balik tanah kering, sekaligus mencegah kemungkinan nyala api susulan yang dapat kembali meluas.

Dalam kesempatan tersebut, AKBP Hari Budiyanto mengingatkan bahwa memadamkan api hanyalah bagian kecil dari perjuangan. Hakikat penanganan terletak pada kesiapsiagaan dan ketulusan untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

“Penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan merespons ketika api muncul. Kondisi lokasi harus terus dipantau, potensi kerawanan diidentifikasi, dan setiap perkembangan harus segera ditindaklanjuti. Kami ingin memastikan upaya pencegahan berjalan seiring dengan penanganan di lapangan,” tegas Kapolres Soppeng.

Di balik seragam ketegasan itu, terselip kepedulian yang mendalam. Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Sebab, sekecil apa pun percik api yang diizinkan mengudara, ia berpotensi merusak ekosistem, merenggut rimbunnya dedaunan, serta mengganggu ketenteraman hidup warga di sekitarnya.

Sinergi antara aparat kepolisian, pemerintah daerah, petugas pemadam, hingga masyarakat lokal menjadi fondasi utama. Informasi sekecil apa pun mengenai kemunculan titik api diharapkan dapat segera disampaikan, agar penanganan dini dapat segera dilakukan.

Renungan Redaksi

Hutan dan lahan yang terbentang di bumi Soppeng adalah amanah Sang Pencipta yang dipinjamkan kepada kita untuk anak cucu nanti. Menjaga kelestariannya dari kobaran api bukan hanya tanggung jawab hukum, melainkan ibadah kemanusiaan yang terikat oleh nurani.

Api mungkin bisa padam oleh percikan air, tetapi kepedulian hanya bisa disulut oleh kesadaran hati. Ketika manusia dan alam saling mengasihi, di situlah ketenteraman sejati akan bersemi.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *