Menjaga Bumi di Serambi Rumah-Nya: Ketika Barisan Saf Menyatu dalam Doa dan Ikhtiar

POLRI54 Dilihat

Keterangan Gambar: Kapolsek Ganra, Ipda Muhtadi, S.Sos., M.M., saat menyampaikan imbauan kamtibmas pencegahan karhutla di hadapan jamaah Salat Jumat di Masjid Rahmat Pakkasaloe, Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng, Jumat (16/10/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA Nurani Redaksi di Atas Fakta

Oleh: Alimuddin Pemimpin Redaksi PMG

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di balik pilar-pilar indah Masjid Rahmat Pakkasaloe, Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, keheningan usai sujud Jumat perlahan mencair. Hari itu, Jumat, 16 Oktober 2026, selepas dahi para hamba menempel erat di sajadah, seruan kebaikan kembali bergema. Bukan sekadar nasihat keagamaan di atas mimbar, melainkan panggilan nurani untuk menjaga alam ciptaan Sang Maha Kuasa.

Di hadapan para jamaah yang masih duduk bersila khusyuk, Kapolsek Ganra, Ipda Muhtadi, S.Sos., M.M., berdiri menyampaikan pesan-pesan kedamaian dan keselamatan. Masjid, yang saban waktu menjadi benteng spiritual warga, siang itu bertransformasi menjadi ruang perjumpaan yang hangat antara pengayom masyarakat dan warganya. Sebuah mimbar keteladanan untuk merajut kepedulian bersama terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam tuturnya yang santun dan bernada mengayomi, Ipda Muhtadi mengingatkan betapa rapuhnya alam ketika manusia lupa bersikap bijak. Percikan sekecil apa pun—apakah itu kobaran api pembuka lahan, puntung rokok yang dicampakkan tanpa peduli, atau pembakaran sampah yang abai—bisa menjadi petaka besar yang melahap napas kehidupan di bumi Soppeng.

Tak hanya bicara tentang bahaya kobaran api, seruan tersebut menyentuh hakikat keselamatan jiwa. Ketika kabut asap menebal, jarak pandang di jalan raya meredup dan napas anak-anak kita terancam, manusia diajak untuk saling menjaga: mengenakan masker, menyalakan lampu kendaraan, meredam kecepatan, serta saling mengabarkan melalui layanan Polri 110 sebelum si jago merah membesar.

Pendekatan humanis dan bernafaskan spiritual ini sejalan dengan arah kebijakan Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H. Bagi Kapolres, menjaga kelestarian lingkungan bukan semata-mata tugas prosedural kepolisian saat api telah membumbung tinggi, melainkan ikhtiar keimanan yang harus ditumbuhkan dari dalam dada setiap individu.

“Keamanan dan keselamatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Saya menginstruksikan seluruh jajaran untuk terus mengedepankan langkah-langkah preventif melalui komunikasi yang baik dengan masyarakat, termasuk memanfaatkan kegiatan keagamaan sebagai ruang menyampaikan edukasi kamtibmas. Jangan menunggu api membesar untuk bertindak. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran setiap individu,” tegas AKBP Hari Budiyanto.

Sinergi yang terbangun di tatanan akar rumput ini menjadi bukti nyata bahwa kesadaran kolektif adalah benteng terkuat dalam menghadapi bencana. Ketika polisi dan warga duduk setara dalam saf yang sama, komunikasi mengalir tanpa sekat, dan keselamatan lingkungan diangkat menjadi ikhtiar bersama.

Renungan Redaksi

Bumi tempat kita berpijak adalah amanah langit yang dipinjamkan untuk dirawat, bukan untuk dihanguskan oleh kelalaian jemari kita.

Menjaga hutan dan lahan agar tak terbakar bukan sekadar menaati aturan hukum duniawi, melainkan bagian dari ibadah memelihara kehidupan. Sebab, ketika api melahap pepohonan, yang terbakar bukan hanya dahan dan daun, melainkan juga napas, ruang hidup, serta masa depan anak-cucu kita.

Mari kita ingat bersama: mencegah percikan api pertama jauh lebih mulia daripada meratapi luasnya abu yang tersisa. Kesadaran yang tumbuh dari ketulusan hati akan senantiasa menjaga hijau Soppeng tetap lestari di bawah naungan kasih sayang-Nya.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *