Keterangan Gambar:
Aipda Handayani membimbing anak-anak membaca Al-Qur’an di kediamannya, Jalan Kemakmuran, Kelurahan Lemba, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Di tengah suasana sederhana, pembelajaran berlangsung dengan sabar dan penuh keakraban. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta
Oleh: Andi Okkeng
SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada pengabdian yang hadir di tengah riuhnya tugas. Ada pula yang tumbuh dalam kesunyian, jauh dari sorotan, melalui sesuatu yang tampak sederhana: duduk bersama anak-anak dan mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an.
Di sebuah rumah di Jalan Kemakmuran, Kelurahan Lemba, Kecamatan Lalabata, Soppeng, setiap Senin hingga Sabtu sore, suasana itu berlangsung.
Sekitar pukul 15.30 hingga 17.00 WITA, Aipda Handayani meluangkan waktunya untuk mendampingi anak-anak belajar membaca Al-Qur’an.
Tak ada ruang kelas yang megah. Tak pula suasana yang dibuat seremonial.
Yang ada adalah lembaran Al-Qur’an yang terbuka, suara anak-anak mengeja huruf demi huruf, serta seorang polisi perempuan yang dengan sabar membimbing mereka mengenal ayat-ayat suci.
Sesekali, bacaan yang kurang tepat dibenarkan dengan lembut. Ketika seorang anak mulai ragu atau malu, semangat kembali ditumbuhkan.
Pelajaran berjalan perlahan. Satu huruf, satu kata, satu ayat.
Namun dari sesuatu yang kecil itu, ada harapan yang sedang ditanam.
Bagi Aipda Handayani, mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ia memandangnya sebagai kesempatan untuk berbagi kemampuan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.
“Saya hanya ingin berbagi apa yang saya bisa. Semoga dari belajar mengaji ini, anak-anak semakin dekat dengan Al-Qur’an dan memiliki kebiasaan yang baik sejak kecil. Tidak harus langsung sempurna, yang penting mereka mau belajar dan terus mencoba,” tutur Aipda Handayani.
Kebahagiaan baginya bukan semata ketika seorang anak mampu membaca dengan lancar.
Ada kebahagiaan lain yang lebih sederhana: melihat keberanian mereka untuk terus belajar.
Sebab dalam proses belajar membaca Al-Qur’an, setiap kemajuan sekecil apa pun memiliki arti.
“Kadang kita mengira yang kita ajarkan hanya beberapa huruf atau satu ayat. Tetapi bagi mereka, itu bisa menjadi bekal yang terus dibawa sampai dewasa. Itu yang membuat saya merasa kegiatan sederhana seperti ini sangat berarti,” ungkapnya.
Ketika Seragam Menjadi Jalan Pengabdian
Pengabdian seorang anggota Polri memang tidak selalu berlangsung di jalan, di kantor, atau ketika menghadapi sebuah persoalan.
Kadang, pengabdian menemukan bentuknya dalam ruang yang jauh lebih sederhana.
Di rumah.
Di antara anak-anak.
Dan dalam kesediaan untuk memberikan waktu.
Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., memberikan apresiasi terhadap kepedulian yang ditunjukkan Aipda Handayani.
Menurutnya, pengabdian anggota Polri dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
“Polisi tidak hanya hadir ketika ada persoalan, tetapi juga harus mampu hadir membawa manfaat. Apa yang dilakukan Aipda Handayani merupakan bentuk pengabdian yang sederhana, tetapi memiliki nilai yang besar karena menyentuh pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak,” ujar Kapolres.
Mengenalkan Al-Qur’an kepada anak-anak sejak dini, lanjutnya, dapat menjadi bagian dari proses menumbuhkan dasar moral dan akhlak dalam kehidupan mereka.
“Setiap ayat yang mereka pelajari hari ini adalah bagian dari proses membentuk masa depan mereka. Semoga ketulusan yang diberikan Aipda Handayani menjadi amal kebaikan dan menginspirasi anggota lainnya untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat,” tambahnya.
Menanam Hari Ini, Menuai Kelak
Sore perlahan bergerak menuju senja.
Lembaran Al-Qur’an masih terbuka. Anak-anak masih mengeja. Sementara seorang perempuan berseragam polisi tetap duduk mendampingi mereka, membetulkan bacaan yang keliru dan menguatkan langkah kecil yang sedang tumbuh.
Barangkali tidak banyak yang mengetahui kegiatan itu.
Barangkali pula tidak ada yang menganggapnya sebagai sebuah peristiwa besar.
Namun kebaikan memang tidak selalu membutuhkan panggung.
Satu huruf yang benar-benar dipelajari seorang anak hari ini, bisa menjadi awal dari kecintaan yang panjang terhadap Al-Qur’an. Satu ayat yang dibaca dengan sungguh-sungguh, mungkin kelak menjadi bagian dari doa yang mengiringi perjalanan hidupnya.
Di situlah makna pengabdian menemukan kedalamannya.
Sebab menjadi polisi bukan hanya tentang mengenakan seragam dan menjalankan kewajiban. Pada saat tertentu, pengabdian juga berarti menghadirkan manfaat dengan apa yang dimiliki, di tempat di mana seseorang berada.
Dan di rumah sederhana itu, Aipda Handayani memilih memberikan sebagian waktunya untuk mengajarkan sesuatu yang diyakininya bernilai.
Tidak banyak suara.
Tidak banyak sorotan.
Hanya huruf-huruf Al-Qur’an yang perlahan dibaca, dan harapan yang diam-diam ditanamkan kepada anak-anak.
Mungkin begitulah kebaikan bekerja.
Ia tidak selalu tumbuh dengan suara yang keras. Kadang ia tumbuh perlahan, seperti cahaya yang masuk melalui celah jendela—tidak memaksa mata untuk melihat, tetapi cukup untuk menerangi jalan.
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.












