Menjemput Amanah di Tanah Mandar: Harapan Muda Mengalir pada Sosok Syamsul Samad

SULBAR15 Dilihat

Keterangan Gambar:

Fadly Idris (kiri) bersama Joko Widodo (kanan) dalam sebuah pertemuan di Jakarta pada masa kepemimpinannya, mencerminkan jejaring dan komunikasi tokoh muda dengan pucuk kepemimpinan nasional dalam membangun arah dan gagasan kebangsaan.

Oleh: Ibnu Sultan

POLEWALI MANDAR — Di tanah yang kaya akan tradisi dan nilai kearifan, harapan itu kembali disulam. Perlahan, seperti angin laut yang menyentuh pesisir Mandar, suara-suara dukungan mengalir, menguat, dan menyatu pada satu nama: Dr. Syamsul Samad, M.Si.

Di tengah ruang-ruang diskusi yang hangat namun penuh harap, Founder Pemimpin Muda Nusantara, Fadly Idris, berdiri dengan keyakinan yang tidak sekadar politis, melainkan juga moral. Ia melihat lebih dari sekadar figur—ia melihat amanah yang layak dititipkan.

“Tidak diragukan lagi, beliau adalah salah satu tokoh Sulawesi Barat yang mumpuni dalam dunia politik dan pemerintahan. Rekam jejak kepemimpinan beliau menjadi bukti bahwa ia layak dipertimbangkan,” ucap Fadly, suaranya tenang namun sarat makna.

Bagi Fadly, kepergian almarhum Salim S. Mengga bukan hanya meninggalkan kekosongan jabatan, tetapi juga ruang tanggung jawab yang harus diisi dengan kebijaksanaan dan keteguhan hati. Dalam ruang itulah, nama Syamsul Samad hadir, sebagai sosok yang dinilai mampu melanjutkan perjalanan pemerintahan dengan arah yang tetap lurus.

Tak hanya berbekal pengalaman politik, Syamsul juga membawa cahaya keilmuan. Gelar doktor yang disandangnya bukan sekadar simbol akademik, melainkan fondasi berpikir dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Fadly menilai, kepemimpinan di daerah membutuhkan lebih dari sekadar popularitas. Ia membutuhkan kedalaman ilmu, keluasan jejaring, dan ketulusan dalam mengabdi. Sosok Syamsul, yang pernah dipercaya sebagai anggota dewan selama empat periode, serta mengemban amanah di berbagai organisasi strategis, dinilai telah menapaki jalan panjang yang mengasah kapasitas tersebut.

“Basis keilmuan menjadi penting agar setiap kebijakan lahir dengan pertimbangan yang matang. Ditambah dengan pengalaman organisasi dan jejaring yang luas, beliau memiliki modal kuat untuk mendampingi gubernur dalam menuntaskan visi besar pembangunan Sulawesi Barat,” lanjutnya.

Dukungan yang datang bukanlah riuh tanpa arah. Ia tumbuh dari keyakinan kolektif, bahwa Sulawesi Barat membutuhkan pemimpin yang bukan hanya cakap, tetapi juga mampu merangkul harapan masyarakat dengan hati yang bersih.

Di balik semua itu, terselip doa-doa yang lirih namun dalam. Harapan agar kepemimpinan ke depan tidak sekadar melanjutkan, tetapi juga memperbaiki, menguatkan, dan menghadirkan keadilan yang nyata.

Di tanah Mandar, harapan itu kini bersemi. Dan seperti benih yang ditanam dengan niat baik, ia menunggu waktu untuk tumbuh, menjadi pohon teduh bagi seluruh masyarakat Sulawesi Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *