Keterangan Gambar:
Dua perempuan bercadar terlihat berbincang di lingkungan pondok pendidikan Al-Qur’an di Makassar. Tempat ini menjadi lokasi ditemukannya seorang ustadzah muda yang meninggal dunia di kamar pondoknya, peristiwa yang mengundang duka mendalam bagi para santri dan warga sekitar.

Oleh:Syamsuddin Andy
Senja Ramadhan itu seharusnya membawa ketenangan. Di langit Makassar, warna jingga perlahan menyatu dengan azan yang sebentar lagi akan berkumandang. Namun di sebuah kamar sederhana di lantai dua sebuah pondok pendidikan Al-Qur’an, keheningan justru menyimpan kabar duka yang mengguncang hati banyak orang.
Suriana (25), yang akrab disapa Ustadzah Sophia, ditemukan meninggal dunia di kamar pondoknya pada Sabtu, 1 Maret 2026 sekitar pukul 16.00 WITA. Ia dikenal sebagai guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Sekolah Qur’an Imam Muslim, yang berada di Jalan Kotipa 15, Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.
Bagi para murid dan rekan sesama pengajar, Ustadzah Sophia adalah sosok yang lembut dan religius. Hari-harinya dihabiskan untuk membimbing anak-anak membaca ayat suci Al-Qur’an, mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, dan menanamkan nilai akhlak kepada generasi kecil di lingkungan pondok tersebut.
Namun sore itu, takdir berkata lain.
Menurut keterangan sejumlah saksi, selepas salat Ashar berjamaah, beberapa rekan guru mengajak korban keluar membeli kebutuhan berbuka puasa di pasar. Ajakan itu ditolak dengan halus. Ia mengaku kurang enak badan dan memilih tinggal di kamar pondok untuk melanjutkan tadarus Al-Qur’an serta melaksanakan salat sunnah.
Ketika rekan-rekannya kembali dari pasar menjelang waktu berbuka, mereka memanggil-manggil nama Sophia. Namun tak ada jawaban. Kecurigaan pun muncul ketika pintu kamar tak kunjung dibuka. Saat itulah mereka menemukan pemandangan yang membuat suasana pondok mendadak gempar.
Korban ditemukan telah meninggal dunia di dalam kamarnya.
Di ruangan sederhana itu, suasana religius masih terasa. Mukena dan cadar terlipat rapi, sementara Al-Qur’an terbuka di atas sajadah. Di atas kitab suci itu terdapat secarik surat yang diduga ditulis oleh korban. Isinya berisi permintaan maaf kepada keluarga dan keinginan agar jasadnya dibawa pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Soppeng.
Kepergian mendadak ustadzah muda ini menimbulkan duka mendalam bagi lingkungan pondok, para santri, serta masyarakat sekitar. Banyak yang tidak menyangka, sebab selama ini Sophia dikenal ramah, ceria, dan aktif dalam kegiatan keagamaan.
Di kalangan warga, beredar dugaan bahwa tekanan batin terkait persoalan pribadi menjadi salah satu latar belakang tragedi ini. Korban disebut-sebut sempat menjalani proses ta’aruf dengan seorang pria di kampung halamannya, namun rencana itu tidak berlanjut.
Apa pun penyebabnya, peristiwa ini meninggalkan pelajaran pahit tentang rapuhnya hati manusia. Bahkan mereka yang tampak kuat dan religius pun bisa menyimpan luka yang tak terlihat.
Kini jenazah Ustadzah Sophia telah dipulangkan ke kampung halamannya di Soppeng untuk dimakamkan oleh keluarga. Sementara di tempat ia mengabdi mengajarkan Al-Qur’an, pihak pengelola TPA berencana menggelar pengajian rutin sebagai bentuk doa dan penghormatan atas jasa almarhumah.
Di bulan suci yang penuh rahmat ini, banyak yang menundukkan kepala, memanjatkan doa agar Allah mengampuni segala khilafnya dan menerima amal baiknya selama hidup.
Kadang, di balik senyum seorang pengajar yang membimbing anak-anak membaca ayat suci, tersimpan pergulatan batin yang tak pernah sempat ia ceritakan kepada siapa pun.
Dan senja Ramadhan itu pun menjadi saksi, bahwa sebuah kehidupan telah berhenti, meninggalkan duka yang panjang bagi mereka yang ditinggalkan.







