Penghormatan Terakhir sang Penjaga Stabilitas

OPINI, Uncategorized135 Dilihat

Penulis: Alimuddin

KABAR duka itu datang dari Jakarta pada Senin, 2 Maret 2026. Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, telah berpulang. Melalui surat bernomor B-02/M/S/TU.00.00/03/2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi segera menginstruksikan pengibaran bendera setengah tiang selama tiga hari berturut-turut sebagai tanda berkabung nasional.

Perintah itu bukan sekadar formalitas birokrasi yang bersandar pada Pasal 12 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. Lebih dari itu, bendera yang menggantung di tengah tiang adalah simbol jeda sejenak bagi bangsa ini untuk menengok kembali warisan seorang tokoh yang tumbuh besar di era transisi kekuasaan yang pelik.

Narasi dalam surat edaran tersebut, yang ditujukan kepada seluruh pimpinan lembaga negara hingga kepala perwakilan RI di luar negeri, menegaskan posisi Try Sutrisno sebagai sosok yang dihormati lintas zaman.

Gambar surat dengan stempel biru basah dan tanda tangan cepat sang menteri seolah menyiratkan urgensi: bahwa kehilangan ini adalah kehilangan kolektif yang membutuhkan sikap resmi negara.

Bagi publik, Try Sutrisno bukan sekadar figur dalam bingkai foto resmi di dinding-dinding sekolah. Ia adalah representasi dari generasi militer yang memegang teguh loyalitas. Sebagai ajudan Presiden Soeharto hingga akhirnya menduduki kursi orang nomor dua di Republik ini, ia dikenal sebagai “penjaga gerbang” yang kalem namun teguh.

Keputusannya untuk selalu berada di belakang layar, menjauh dari ingar-bingar ambisi politik yang meledak-ledak, menjadikannya anomali di tengah syahwat kekuasaan yang seringkali tak terbendung.

Masa berkabung nasional dari tanggal 2 hingga 4 Maret 2026 ini selayaknya tidak hanya diisi dengan seremoni. Di tengah polarisasi politik yang kerap menguras energi bangsa, kepergian Try Sutrisno seharusnya menjadi pengingat tentang pentingnya etika kesantunan dalam bernegara. Ia adalah bukti bahwa otoritas bisa berjalan beriringan dengan kerendahhatian.

Kini, ketika bendera setengah tiang berkibar dari Sabang sampai Merauke, kita tidak hanya sedang melepas seorang jenderal tua. Kita sedang mengenang sebuah era, sekaligus mempertanyakan: adakah hari ini kita masih memiliki negarawan yang lebih mencintai harmoni ketimbang kursi?
Selamat jalan, Pak Try. Tugas selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *