Menunggu Azan di Sungguminasa: Silaturahmi Ramadan Para Pengelola Air Negeri

SDA151 Dilihat

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Penulis: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group

Di tengah kesibukan mengurus sungai, bendungan, dan irigasi, para pengelola sumber daya air berhenti sejenak. Ramadan mempertemukan mereka dalam satu meja berbuka.

SUNGGUMINASA — Menjelang magrib, langit biasanya mulai meredup pelan. Cahaya senja turun perlahan di atas atap-atap rumah di Sungguminasa. Di bulan Ramadan, saat seperti itu selalu membawa satu perasaan yang sama: menunggu.

Menunggu azan.
Menunggu waktu berbuka.
Menunggu kebersamaan yang sering tertunda oleh kesibukan.

Di tengah ritme kerja yang tidak pernah benar-benar sepi, mengurus sungai, bendungan, irigasi, hingga kebijakan air yang menyangkut hajat hidup orang banyak, para pengelola sumber daya air di Sulawesi Selatan memilih berhenti sejenak.

Bukan untuk rapat.
Bukan pula untuk membahas proyek atau angka anggaran.

Mereka akan berkumpul untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana: berbuka puasa bersama.

Sekretariat Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) wilayah sungai yang berada di bawah koordinasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang menggelar Buka Puasa Bersama pada Kamis, 12 Maret 2026, pukul 17.30 WITA di Kantor Sekretariat TKPSDA, Jalan Sirajuddin Rani No. 67, Sungguminasa, Kabupaten Gowa.

Acara ini mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya ada satu pesan yang sering terlupakan dalam dunia birokrasi: hubungan antarmanusia tetap menjadi fondasi kerja bersama.

Undangan kegiatan ini ditujukan kepada sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan pengelolaan sumber daya air di Sulawesi Selatan. Di antaranya Kepala Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan sebagai Ketua TKPSDA Wilayah Sungai, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatan selaku Ketua Harian TKPSDA, serta Kepala BBWS Pompengan Jeneberang.

Turut diundang pula para anggota TKPSDA dari empat wilayah sungai, pejabat struktural, kepala bidang, ketua tim, pejabat perbendaharaan satuan kerja, hingga staf teknis pengelola sumber daya air.

Mereka adalah orang-orang yang sehari-hari bekerja di balik layar pengelolaan air: mengatur aliran sungai, menjaga bendungan tetap aman, memastikan irigasi tetap menghidupi sawah-sawah petani.

Kerja mereka sering tak terlihat.
Namun dampaknya terasa hingga ke dapur-dapur rumah tangga.

Karena itu, Ramadan menjadi momen yang tepat untuk kembali merajut kedekatan. Dalam tradisi Islam, berbuka puasa bukan sekadar soal makanan yang mengakhiri lapar dan dahaga. Ia juga tentang membuka ruang silaturahmi, menghapus jarak, mencairkan sekat, dan memperkuat kepercayaan.

Di meja berbuka nanti, jabatan menjadi sekunder. Yang tersisa hanyalah manusia yang sama-sama menunggu azan.

Ada yang sehari-hari bergelut dengan laporan teknis. Ada yang memikirkan kebijakan pembangunan air. Ada pula yang bekerja di lapangan, memastikan saluran irigasi tetap mengalir.

Namun ketika azan magrib berkumandang, semua kembali pada kesederhanaan yang sama: segelas air, sebutir kurma, dan doa yang pelan-pelan dipanjatkan.

Ramadan memang selalu punya cara yang lembut untuk mempertemukan manusia.

Di antara dokumen, rapat, dan tanggung jawab besar mengelola sumber daya air bagi masyarakat, bulan suci ini mengingatkan kembali satu hal yang sering luput dari agenda resmi: persaudaraan.

Sebab pada akhirnya, membangun negeri bukan hanya soal infrastruktur dan kebijakan.

Ia juga tentang menjaga hubungan antarmanusia, agar kerja bersama tetap mengalir, setenang air yang menemukan jalannya menuju laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *