Menjaga Teduhnya Malam Ramadhan: Kala Seragam dan Nurani Bertamu di Lalabata Rilau

KAMTIBMAS15 Dilihat

Keterangan Gambar:

Duduk Melingkar Membangun Harmoni: Bhabinkamtibmas Bripka Edi Kurniawan (kedua dari kiri) saat melaksanakan koordinasi humanis bersama pihak Kelurahan dan pengelola tempat hiburan di wilayah Lalabata Rilau, Senin (2/2). Pertemuan yang berlangsung hangat dengan suguhan kopi ini menekankan pentingnya menjaga kekhusyukan bulan suci Ramadhan melalui kepatuhan terhadap imbauan pemerintah demi terciptanya situasi Kamtibmas yang kondusif. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

SOPPENG – Ketika azan Isya baru saja usai berkumandang dan aroma takzim Ramadhan menyelimuti langit Bumi Latemmamala, sebuah langkah kaki perlahan menyusuri sudut-sudut kota. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, Bripka Edi Kurniawan tak datang dengan gertakan. Ia datang membawa senyum, secangkir kopi, dan pesan kedamaian.

Senin malam (2/2), Bhabinkamtibmas Kelurahan Lalabata Rilau dan Desa Umpungeng ini melangkah bersama Lurah setempat. Bukan untuk merazia dengan tangan besi, melainkan untuk menyapa hati para pelaku usaha hiburan, memastikan bahwa kekhusyukan umat yang tengah bersujud di masjid-masjid tidak terusik oleh bising duniawi.

Menjemput Berkah dalam Ketaatan

Di bawah langit Ramadhan 1447 H, ketaatan bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menghargai sesama. Itulah yang ditekankan Bripka Edi saat menyambangi Next Family Karaoke di Cikke’e. Di sana, ia duduk melingkar, bercengkerama layaknya saudara, sembari mengingatkan lembutnya maklumat Kapolres dan Surat Edaran Bupati Soppeng.

Gayung pun bersambut. Tak ada perdebatan, yang ada hanyalah anggukan tanda mengerti. Di tempat lain, seperti SY Family Karaoke di Lollo’e dan Surya Family Karaoke di Watu-Watu, pintu-pintu telah terkunci rapat sejak sebelum hilal pertama nampak. Sebuah pemandangan yang menyejukkan; sebuah bukti bahwa toleransi di Soppeng tumbuh subur bak pohon yang akarnya menghujam bumi.

Sinergi dalam Doa dan Kerja

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memandang langkah preventif ini sebagai jembatan silaturahmi.

“Kami ingin Ramadhan ini menjadi ruang yang teduh bagi siapa saja. Kepatuhan para pelaku usaha bukan sekadar aturan hukum, melainkan bentuk penghormatan tertinggi pada kesucian bulan ini. Kita ciptakan situasi yang sejuk, agar doa-doa masyarakat melangit tanpa gangguan,” ungkapnya dengan nada bijak.

Bagi Bripka Edi Kurniawan, seragam cokelat yang dikenakannya malam itu hanyalah sarana. Sejatinya, ia sedang menjalankan tugas kemanusiaan.

“Alhamdulillah, kami mengedepankan komunikasi dari hati ke hati. Kami ingin mereka merasa dirangkul, bukan dipukul. Ramadhan adalah bulan kasih sayang, dan itulah yang kami bawa dalam setiap sambang,” tuturnya lirih.

Malam semakin larut di Lalabata Rilau. Namun, di balik pintu-pintu tempat hiburan yang tertutup rapat, ada harapan yang terbuka lebar: bahwa kedamaian di Soppeng akan terus terjaga, seiring dengan tadarus yang terus menggema hingga fajar menyapa. (Petta Barang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *