Keterangan Gambar:
Sinergi dalam Kehangatan: AIPTU Sunardiono (kiri) saat duduk bersama warga di “Tunas Bar” untuk berkoordinasi dan menjalin silaturahmi usai melakukan evakuasi humanis terhadap warga ODGJ di Desa Abbanunge, Kecamatan Lilirilau, Soppeng (2/3). Pertemuan informal ini mencerminkan kuatnya kemitraan antara Polri dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah sosial melalui pendekatan dialogis. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
SOPPENG – Di bawah langit malam Lilirilau yang tenang, saat gema tadarus mulai lamat-lamat terdengar dari kejauhan, sebuah misi kemanusiaan sedang berlangsung dalam diam. Senin malam (2/3), ketika jarum jam menunjuk angka 23.00 WITA, Dusun Cakkuridi tidak sekadar sedang menjaga kamtibmas, melainkan sedang mempraktikkan arti sesungguhnya dari memuliakan sesama manusia.
Bagi warga Desa Abbanunge, ibadah Tarawih tahun ini sempat diwarnai kecemasan. Sosok H (40), seorang saudara kita yang jiwanya sedang diuji dengan kegelapan (ODGJ), kerap mengamuk dan memecah kekhusyukan sujud warga di masjid. Namun, alih-alih dibalas dengan amarah atau pengucilan, masyarakat justru memilih jalan kasih.
AIPTU Sunardiono, Bhabinkamtibmas yang dikenal dekat dengan denyut nadi warga, hadir bukan dengan borgol, melainkan dengan pendekatan hati.
Bersama Kepala Desa dan tokoh masyarakat, ia menjembatani dialog antara keluarga dan petugas medis. Di sana, hukum yang bicara bukan lagi tentang pasal-pasal, melainkan tentang kewajiban menjaga martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
“Penanganan seperti ini harus mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Mereka yang kehilangan kendali atas dirinya bukan untuk dihukum, tetapi untuk dibantu mendapatkan cahaya kesembuhan yang layak,” ungkap Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., dalam pesan penuh empati.
Proses evakuasi menuju RSJ Latemmamala malam itu berjalan lembut, selembut angin malam Lilirilau. Tidak ada kegaduhan, hanya ada upaya tulus untuk mengantar H menjemput kesembuhannya. AIPTU Sunardiono tampak tenang membimbing komunikasi, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adalah demi kebaikan H dan ketentraman warga.
“Harapan kami satu, agar setelah perawatan ini, ia bisa kembali pulih dan duduk bersama kita lagi dalam damai,” ujar Sunardiono penuh harap.
Kini, Dusun Cakkuridi kembali tenggelam dalam sujud yang khusyuk. Sebuah pelajaran berharga tersisa di sana: bahwa keamanan sejati tidak hanya dibangun dengan penjagaan, tapi juga dengan kepedulian terhadap jiwa-jiwa yang sedang lelah mencari jalan pulang. (Andy)







