Keterangan Foto:
Sondre Dasuqi Svinndal, putra dari Jarle Svinndal (Norwegia) dan drh. Sahrini Rauf, M.Pd Bugis Soppeng (Indonesia), usai menerima penghargaan Runner Up 1 Putra–Putri Sulawesi Selatan 2026 di Hotel Sultan Alauddin, Makassar. Sosok muda yang merepresentasikan pertemuan dua budaya dalam satu semangat prestasi.
Oleh: Ibnu Sultan
Di Antara Cahaya dan Diam
Lampu-lampu ballroom Hotel Sultan Alauddin menyala hangat malam itu. Pantulannya jatuh di lantai marmer, membentuk kilau yang nyaris senyap. Di tengah sorot cahaya, seorang pemuda berdiri dengan postur tegap, setelan hitam rapi, dan sorot mata yang tenang, seolah menyimpan cerita panjang yang tak semua orang tahu.
Ketika namanya dipanggil, tepuk tangan pun pecah.
Sondre Dasuqi Svinndal
Malam itu, ia dinobatkan sebagai Runner Up 1 Putra–Putri Sulawesi Selatan 2026. Sebuah pencapaian yang tampak gemerlap, namun sesungguhnya lahir dari perjalanan panjang yang sunyi, penuh disiplin, dan kesetiaan pada proses.
Darah Dua Bangsa, Satu Identitas
Sondre adalah putra dari pasangan Jarle Svinndal, pria berkebangsaan Norwegia, dan drh. Sahrini Rauf, M.Pd, perempuan Bugis Soppeng, Indonesia yang membesarkannya dengan nilai-nilai ketimuran yang kuat.
Dari sang ayah, ia mewarisi keteguhan, ketelitian, dan cara berpikir yang sistematis.
Dari sang ibu, ia menyerap kelembutan, kesantunan, dan kecintaan pada budaya.
Namun meski memiliki darah dua bangsa, Sondre tumbuh sepenuhnya sebagai anak Makassar, menyatu dengan nilai lokal, menjunjung adat, dan menjadikan tanah Sulawesi Selatan sebagai rumah yang membentuk jiwanya.
“Indonesia, khususnya Makassar, adalah tempat saya belajar tentang arti hidup dan tanggung jawab,” ucapnya suatu ketika.
Anak Makassar yang Belajar Tenang
Sondre bukan tipe yang gemar menjadi pusat perhatian. Ia tumbuh sebagai pribadi yang lebih memilih bekerja dalam diam, mengasah diri perlahan, dan membiarkan hasil berbicara.
Mereka yang mengenalnya menyebutnya tenang, santun, namun teguh. Tidak mudah goyah, tidak silau oleh sorotan.
“Bagi saya, proses jauh lebih penting daripada hasil,” katanya singkat, namun penuh makna.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Ia menjelma menjadi prinsip hidup yang ia pegang sejak memutuskan mengikuti ajang Putra Putri Sulawesi Selatan.

Lima Hari yang Menguji Diri
Ajang Putra Putri Sulawesi Selatan bukanlah panggung kemewahan semata. Selama lima hari, 14 hingga 18 Januari 2026, para finalis ditempa dalam berbagai pembekalan intensif.
Mereka diuji dalam:
wawasan kebangsaan,
kecakapan komunikasi,
kepribadian,
hingga ketahanan mental.
Dari 59 finalis yang datang dari berbagai daerah, Parepare, Bone, Pangkep, Sidrap, Luwu Timur, Tana Toraja, Bantaeng, Bulukumba, Takalar, hingga Selayar, Sondre memilih untuk berjalan dengan ritme sendiri.
Tanpa hiruk-pikuk.
Tanpa ambisi berlebihan.
Hanya kesungguhan yang konsisten.
Doa yang Menjadi Penopang
Di balik sikap tenangnya, berdiri dua sosok yang selalu ia sebut dengan penuh hormat: ayah dan ibunya.
“Tidak ada hari tanpa doa mereka,” tuturnya pelan.
Dukungan Jarle Svinndal dan drh. Sahrini Rauf, M.Pd bukan dalam bentuk tuntutan, melainkan kepercayaan. Mereka membesarkan Sondre dengan keyakinan bahwa karakter jauh lebih penting daripada gelar. Dan dari situlah kekuatannya tumbuh.
Lebih dari Sekadar Gelar
Ketika malam grand final usai, sekitar pukul dua dini hari, nama Sondre kembali menggema. Ia bukan hanya meraih Runner Up 1, tetapi juga mencatatkan perolehan suara tertinggi pilihan masyarakat: 45,41 persen.
Sebuah angka yang mencerminkan penerimaan publik.
Sebuah isyarat bahwa ketulusan selalu menemukan jalannya.
Namun bagi Sondre, gelar bukanlah puncak. “Ini bukan tentang mahkota,” ujarnya, “ini tentang tanggung jawab.”
Menjadi Wajah Generasi Baru
Sondre memaknai pencapaiannya sebagai amanah. Ia ingin menjadi bagian dari generasi muda Sulawesi Selatan yang:
berani bermimpi, rendah hati dalam pencapaian, dan konsisten dalam pengabdian.
Ia percaya, perubahan tidak selalu datang dari suara paling keras, melainkan dari ketekunan yang tak pernah berhenti.
Dari Makassar, ia melangkah.
Dari panggung provinsi, ia belajar.
Dan dari setiap proses, ia menata masa depan.





