Menjaga Pena dengan Iman, Menapaki Amanah dengan Istiqamah

PERS155 Dilihat

Keterangan Foto:

Ketua SMSI Kabupaten Soppeng, FAS Rachmat Kami, memimpin rapat pemantapan pelantikan pengurus SMSI periode 2026–2029 di Sekretariat SMSI Soppeng. Suasana berlangsung khidmat, penuh nilai kebersamaan dan pengabdian.


Penulis: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat SMSI Kab. Soppeng


Jejak Pengabdian FAS Rachmat Kami di Jalan Pers dan Demokrasi

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…”
(QS. At-Taubah: 105)

Di sebuah ruang sederhana di jantung Kota Soppeng, lantunan diskusi terdengar pelan namun sarat makna. Di sanalah, di antara lembaran agenda dan secangkir kopi yang mulai mendingin, seorang lelaki duduk dengan wajah tenang, mewakili keteguhan sikap dan kesetiaan pada nilai.

Dialah FAS Rachmat Kami, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Soppeng. Seorang jurnalis yang menapaki jalan pengabdian bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa setiap kata kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Pers, Amanah, dan Jalan Ibadah

Bagi FAS Rachmat Kami, dunia pers bukan sekadar profesi. Ia adalah ladang amal, tempat menanam kejujuran dan memanen kepercayaan publik. Karena itu, setiap langkah yang diambilnya selalu berangkat dari satu keyakinan: bahwa pena harus berjalan seiring dengan iman.

“Pers bukan hanya menyampaikan kabar, tapi menjaga kebenaran. Dan kebenaran itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah,” ucapnya lirih dalam rapat pemantapan pelantikan SMSI Soppeng, Kamis (22/1).

Rapat itu bukan sekadar persiapan teknis pelantikan pengurus SMSI periode 2026–2029. Lebih dari itu, ia menjelma menjadi ruang perenungan, tentang arah pers, tentang tanggung jawab moral, dan tentang amanah yang tak ringan.

Jejak Panjang Pengabdian

Nama FAS Rachmat Kami bukanlah sosok asing di dunia pers Soppeng. Ia memulai pengabdian dari bawah, meniti jalan jurnalistik dengan kesabaran. Pernah menjabat sebagai Sekretaris PWI Kabupaten Soppeng, lalu dipercaya menjadi Ketua PWI Kabupaten Soppeng, sebuah amanah yang ia jalani dengan penuh dedikasi.

Tak hanya di dunia pers, ia juga dikenal luas dalam ranah demokrasi. Beberapa periode ia dipercaya menjadi Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Soppeng, posisi strategis yang menuntut integritas tinggi, keberanian moral, serta keteguhan sikap dalam menjaga keadilan.

Pengalaman panjang itu membentuknya menjadi sosok yang tenang, matang, dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat.

“Jabatan itu sementara. Yang kekal adalah bagaimana kita menjalaninya dengan jujur,” ucapnya suatu kali, sembari tersenyum sederhana.

SMSI dan Spirit Pengabdian

Kini, sebagai Ketua SMSI Kabupaten Soppeng, FAS Rachmat Kami kembali mengemban amanah besar. Ia memandang organisasi pers bukan sebagai ruang kekuasaan, melainkan medan pengabdian.

Pelantikan pengurus SMSI Soppeng yang akan digelar pada 28 Januari 2026 di Hark & Eatry Malaka Cafe bukan sekadar agenda seremonial. Baginya, ini adalah titik tolak pembaruan niat, bahwa pers harus menjadi penerang, bukan pemanas; penyejuk, bukan pemecah.

“Jika pers kehilangan akhlaknya, maka hilanglah marwahnya. Tapi jika pers berjalan dengan iman, insya Allah ia akan menjadi cahaya bagi masyarakat,” tuturnya.

Doa dan Harapan dari Sulawesi Selatan

Ketua SMSI Provinsi Sulawesi Selatan Anwar Sanusi pun menaruh harapan besar pada kepemimpinan FAS Rachmat Kami. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa SMSI Soppeng diharapkan menjadi contoh pers yang profesional, beretika, dan berlandaskan nilai keislaman serta kebangsaan.

“Pers harus menjadi perekat umat dan bangsa. Dengan iman, ilmu, dan akhlak, saya yakin SMSI Soppeng mampu menjadi teladan,” ungkapnya.

Pelantikan ini berlandaskan SK SMSI Sulsel Nomor 007/SK/SMSI-SS/XII/2025, dan akan dihadiri langsung oleh jajaran pengurus provinsi.

Menutup dengan Doa

Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan zaman, FAS Rachmat Kami memilih untuk tetap berjalan perlahan, namun pasti. Dengan pena sebagai alat perjuangan, dan iman sebagai penuntun langkah.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh.”
(QS. Al-Baqarah: 195)

Dari Soppeng, ia menegaskan satu hal: bahwa pers yang baik lahir dari hati yang bersih, niat yang lurus, dan keberanian untuk tetap jujur, meski berjalan di jalan sunyi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *